Engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. dan dikatakan kepada mereka " Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya". Demikian itulah kemenangan yang agung. (Al-Hadid : 12)

Kamis, 13 Juni 2013

IKHTIAR SUCI


 
            Ini adalah kisahku dan hanya aku sendiri bukan saudaraku atau orang lain. Bukan keinginan ku terlahir dengan saudara kembar. Aku terlahir 5 menit setelah kakak laki-laki ku lahir. Inilah anugerah bersyukur bisa terlahir , melihat dunia, membuka mata di keluarga yang agamis yang dipilihkan Allah.
            Abi dan Umi selalu memberikan asupan nutrisi fisik dan ruhani kepada kami anak-anaknya. Keluarga kami memang hidup sederhana namun satu hal pun tak pernah kekurangan. Aku hanya dua bersaudara dengan kakak laki-lakiku, Farhan namanya. Banyak orang yang mengatakan wajah kami mirip, bahkan nenek dari Umi sering sekali salah memanggil kami berdua. Namun Umi dan Abi tak pernah salah, beliau selalu bisa mengenali kami meski dari suara. Sungguh luar biasa orang tua kami. Fadil adalah saudara kembar Farhan, itulah namaku.
            Sejak kecil aku selalu merasa tersaingi dengan Farhan, kami berlomba-lomba untuk mendapat pujian dari orang-orang. Tak jarang peraih juara 1 di SD adalah kami berdua,  namun terkadang aku mengunggulinya tapi tak lebih banyak dari Farhan.
“Kalian berdua akan menjadi orang sukses nantinya”, itulah yang selalu dikatakan nenekku kalau kami berkunjung ke rumah beliau. Serempak kami selalu menjawab “Amin”, dan menciup pipi nenek. Memasuki SMP kami masih satu kelas dan tetap bersaing untuk memperebutkan juara hingga berlanjut ke SMA. Semangatku untuk mengalahkan Farhan tak pernah luntur. Dalam pikiran kami hanya belajar, bersaing untuk mendapatkan Universitas yang kami idamkan.
            Hari yang ku tunggu pun datang, pengumuman ketua SKI di SMA. Hanya ada dua calon, aku dan Farhan. Kami memang sama-sama bergerak dalam organisasi kerohanian. Tepat akulah yang menduduki ketua SKI untuk tahun ini. Ucapan selamat yang pertama kali datang dari Farhan sendiri. Aku tak tahu perasaannya tapi aku sungguh puas dengan amanahku dan aku berjanji akan menjadikan SKI ini semakin maju.
            “Selamat Dil, kau memang pantas dengan amanah ini”, ucap Farhan sambil merangkulku erat.
            “SKI ini juga tak akan bisa jalan tanpa mu, sungguh kita harus bekerjasama, aku butuh bantuanmu”, kami memang sangat akrab. Namun di tahun berikutnya Farhanlah yang terpilih menjadi ketua SKI. Aku pun senang, akhirnya kami impas.
* * *
            Di masa kuliah pun kami masih tetap satu kampus bahkan satu jurusan, hanya saja kelas kami beda. Dan persaingan pun tetap tak terbendung. Kami berlomba mendapatkan IP yang tinggi. Amanah di organisasi pun kami jalani dengan penuh percaya diri dan yang pasti saling membantu. Kami pun memilih organisasi yang sama, kerohanian kampus. Sejak semester pertama IP kami hampir sama dan kami pun semakin kejar-kejaran untuk menunjukkan yang terbaik.
            Setiap tahunnya kampus selalu mengadakan lomba Tilawah, yaitu lomba membaca Al-Quran dengan suara merdu dan fasih. Kami pun tak kalah dengan teman-teman yang lain, menunjukkan partisipan yang tinggi. Meskipun kami jadi rival dalam kompetisi namun kami selalu belajar bersama. Akhirnya kami terdaftar menjadi peserta Tilawah tingkat fakultas. Ini prestasi yang sangat membanggakan bagi kedua orang tua kami, kami lolos ke tingkat Universitas. Kompetisi yang lebih nyata dan berat sudah di depan mata dan kami siap untuk menghadapi.
Aku benar-benar tak sabar, gelisah dan sedikit takut. Tibalah saat-saat yang ditunggu dan aku semakin gemetar.
“Juara satu dengan poin 267 diraih oleh . . .”, dadaku semakin berdebar. “Farhan Abbas Zhamroni”, gleg. Apakah aku tidak salah dengar. Siapa pemenangnya? Mukaku memucat, aku tak berani memandang, menoleh ke samping. Aku masih merasakan ragaku di ruangan itu tapi nyawaku hilang entah kemana. Apa arti kegagalanku ini? Ku rasakan tempat duduk di sebelahku bergeser, Farhan maju ke depan podium, dengan bangga dia menerima piala dan penghargaan lainnya. Tepuk tangan meriah sengaja ditujukan kepadanya, sedangkan aku terpuruk di tempat duduk dan merasa sangat rendah.
“Selamat kau berhasil”, ucapku sambil merangkulnya.
“Inilah yang ku tunggu, ucapan selamat darimu”.
“Segera hubungi Umi dan Abi, beliau pasti sangat senang dengan keberhasilanmu”.
“Beliau juga senang dengan keberhasilanmu”, rayunya, mungkin supaya aku tak putus asa.
“Dengan kegagalanku?”, tanyaku sedikit ketus.
“Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”, hiburnya kembali.
“Mungkin”. Itulah akhir dari kompetisi itu, aku berada jauh dibawahnya. Aku tak tahu bagaimana pandangan teman-teman mengenaiku. Saudara kembar yang tak kembar. Pasti mereka lebih menyanjung Farhan, aku tahu itu.
* * *
            Tak terasa skripsi pun di depan mata. Aku tak boleh kalah dengan saudara ku lagi, tentang apapun itu. Apalagi akan ada lomba Tilawah tahunan, aku tak akan menyia-nyiakannya.
            Kuliah tak ada dosen memang membosankan. Ku coba membuka jejaring sosial, facebook yang sebenarnya jarang ku buka, hanya iseng saja. Ku lihat ada seorang akhwat meminta pertemanan. Segera ku konfirm dan ku tanyakan tentang dirinya. Tak begitu lama ada balasan dari akhwat itu.
            Wa’alaikumsalam, ana Nisa’, sepertinya kita belum saling kenal.
Oh mungkin dia merandom teman, pikirku. Tak ku lanjutkan aktivitasku di facebook takut tidak bisa berhenti, lebih baik ku gunakan buat belajar Tilawah, kompetisi sebentar lagi.
Lomba Tilawah kali ini banyak yang mengikuti, sebenarnya sedikit gentar tapi harus menghadapi semua kenyataan yang ada. Pengumuman pun dibacakan, dengan sedikit takut aku mendengarkan. Alhamdulillah aku terpilih menjadi pemenangnya. Kabar baik pun datang dari Farhan, dia diterima kerja di sebuah perusahaan meski dia belum lulus kuliah. Semoga orang tua kami bangga dengan prestasi anak-anaknya.
Apa ini mas yang menang Tilawah kemarin?
Akhwat yang dulu pernah chat. Iya, ni siapa? Sudah kenal ana?
Barakallah ya mas, klu tidak salah kita sekelas di kuliah kimia pangan.
Oh iya ana ikut kuliah kimia pangan, sepertinya anti sudah tau ana, anti yang mana? Ragu sesaat ada akhwat yang tiba-tiba mengenalku.
Ana yang pake kerudung lebar di kelas kimia pangan.
Oh iya, anti juga datang waktu pengumuman Tilawahkan? tebakku karena cuma ada satu cewek yang pakai kerudung lebar di kuliah kimia pangan dan waktu pengumuman Tilawah aku juga sempat melihatnya, dia mahasiswa baru.
Benar tebakan ku tentang akhwat itu, kelihatannya dia pendiam dan pemalu. Aku sering melihatnya di masjid, pakaiannya sangat tertutup, rapi kadang pakai gamis dengan kerudung yang lebar. Mungkin dia anak rohis  juga.
Mas ana boleh tanya? suatu saat di facebook, tak tahu akhir-akhir ini aku lebih sering buka facebook hanya untuk melihat hal-hal sepele.
Oh iya, tafadhol.
Cara baca Tilawah supaya merdu itu bagaimana?
Gampang saja berlatih dan terus berlatih, kuasai tajwidnya dan kalau ada pelatihan tilawah ikuti saja. Ketikku dengan mantap.
Oh iya, syukron.
            Klu mau sharing-sharing sms aja di no ana, ana jarang buka facebook.
Aku juga tak tahu dia mau menyimpan nomor handphone ku atau tidak. Aku menunggu sesuatu yang akan datang tapi entah apa aku tak tahu. Tiga hari dari aku memberikan nomor ke akhwat itu, dia mengirim pesan padaku. Pertanyaan demi pertanyaannya ku jawab dan yang masih ragu ku tanyakan pada orang yang lebih tahu. Dia juga sering memberikan pemahaman dan pengetahuan baru padaku. Kami saling memberikan pendapat dan ilmu, entah itu tentang ilmu islam ataupun dalam kuliah bu Tantri. Kami saling membantu jika menemui kesulitan, namun tetap dalam lingkup syar’i. Bahkan kami pun belum pernah saling menyapa padahal kami sudah saling tahu. Dia selalu menunduk jika aku melewatinya, aku pun juga takut jika setan menjerumuskan jika aku melihat wajahnya dengan pakaian dan kerudungnya yang sangat menentramkan jiwa.
* * *
           Aku merasa semakin jauh tertinggal dengan saudaraku, dia sudah berpenghasilan sendiri. Pekerjaannya mapan, sedangkan aku tak tahu apa yang harus ku banggakan, meskipun tidak lagi minta uang jajan ke orang tua namun pekerjaan ku sebagai tentor belum mencukupi untuk ditabung. Kami memang sama-sama berjuang untuk lulus dan segera menyusun skripsi, namun hatiku benar-benar semakin menciut, takut jika sermakin jauh tertinggal.
           Dari awal semua orang lebih kagum dengan Farhan sedangkan aku saudara kembar yang tak kembar. “Apa yang kau pikirkan”, rangkul Farhan tiba-tiba sedikit mengagetkanku.
           “Tak ada, mungkin memikirkan skripsi dan pekerjaan, aku belum bisa membuat Umi dan Abi bangga sepertimu”, keluhku lemah.
           “Sudahlah pikirkan skripsimu dulu, pekerjaan, jodoh, kematian di tangan Allah kita tinggal menjalani”.
           “Iya kamu bisa bilang seperti itu karena kamu sudah punya pekerjaan, sedangkan aku”.
           Hembusan nafasnya sampai terdengar di telingaku. “Setiap orang punya nikmat sendiri, kau tak perlu iri dengan nikmat orang lain”.
           “Baiklah”, ku tinggalkan Farhan sendiri di teras kos. Tapi hatiku tak tentram, aku tak mau tertinggal dengan Farhan. Kami dilahirkan hampir bersamaan jadi jangan sampai gara-gara kecerobohanku prestasi kami begitu beda.
* * *
           Semakin sering aku dan akhwat itu berkirim pesan, sharing-sharing tentang agama maupun kuliah bu Tantri. Tak jarang jarkoman kajian mendarat di layarku maupun dilayarnya. Aku suka dengan cara pandangnya tentang islam, tentang masalah-masalah di dalamnya dan penyelesaian yang dia pikirkan. Bahkan masih ku sempatkan sharing-sharing melalui sms di sela kesibukanku menyusun skripsi.
           Akhir semester pun tiba, kelas bu Tantri tak lagi ada. Aku juga semakin jarang pergi ke kampus, mungkin hanya menemui dosen pembimbing. Semakin jarang juga aku bertemu dengan akhwat bernama Nisa’, namun sms ku maupun smsnya tetap bergulir di layar handphone. Dia sering bertanya tentang islam, pengetahuan agamanya pun sangat luas. Bukan hanya penampilan luarnya yang terlihat luar biasa tapi dalamnya pun luar biasa.
* * *
           Ternyata sulit juga mencari kerja, tak semudah yang ku pikirkan. Sekarang ini menjadi tentor adalah satu-satunya pekerjaanku. Aku tak mau jauh tertinggal dengan Farhan. Sekeras apapun usahaku, tetap saja. Mungkin Allah belum memberikan rezeki yang lebih padaku.
           “Bagaimana lamaranmu yang di perusahaan itu, sudah ada balasan?”, tanya Farhan suatu malam.
           “Belum ada balasan juga mungkin belum rezeki”, jawabku santai.
           Dia menggeser duduknya mendekatiku. “Iya mungkin belum rezeki, yang sabar ya, Allah selalu bersama kita. Umi, Abi dan aku juga selalu bersamamu”.
           “Iya, bagaiman dengan skripsimu?”, tanyaku basa-basi. Tapi ini lah moment yang indah, hanya berdua dengan Farhan di malam yang tenang. Suasana yang sangat hangat dan nyaman.
           “Belum kelar juga, kau?”.
           “Sebentar lagi, pantaslah kau sibuk dengan kerjaanmu. Kalau aku sampai molor apa kata dunia aku tak disibukkan dengan pekerjaan apapun”, kataku polos.
           “Kau bisa saja”, tiba-tiba dia menggenggam tangan ku erat.
           Aku memiliki saudara kembar yang sangat pengertian dan menyayangiku. Namun terkadang aku juga takut jauh tertinggal dari kesuksesan saudaraku.
* * *
           Alhamdulillah skripsiku sudah selesai, tapi masalah pekerjaan terus menghantuiku. Aku juga ingin bekerja layaknya orang setelah lulus kuliah.
           “Kamu mau nerusin S2, nak?”, Tanya Umi ku tiba-tiba.
           “Tidak Umi, Fadil pengen kerja saja seperti kak Farhan, malu kalau tak kerja-kerja”.
           “Kalau pengen nerusin S2 juga tak apa, Umi sanggup biayai kamu. Lagian kakak mu sudah tak mau kuliah lagi katanya”.
           “Tidak Umi, saya cari kerja saja”, ya pantas lah Farhan tak mau nerusin kuliah, keenakan kerja sih, batinku yang mungkin sedikit dongkol.

* * *
           Dua tahun berlalu sedangkan aku masih belum mendapat pekerjaan yang tepat. Akhirnya ku putuskan untuk kuliah lagi S2. Tak apalah Umi dan Abi juga tak keberatan.
           Malam hari sewaktu aku mengerjakan laporan, sms masuk dari akhwat bernama Nisa’. Sudah lumayan lama dia tak berkirim kabar maupun tanya-tanya. Sekitar tiga bulan yang lalu terakhir kali dia sms. Semburat senyum menyunggging di bibirku, entah apa yang ku pikir.
           Mas bagaimana cara rohis kampus ini bisa jalan, ketumnya tidak terlalu merespon terhadap masalah.
           Wah dia sudah bergelut dengan dunia yang sesungguhnya. Adek jadi kaput? Begini saja terus adakan rapat Ketum, Kaput, Kadept dan Sekdept untuk membahas issue-issue dan mengembangkan proker yang dibuat.
           Dari mana mas tau ana Kaput?
           Dari sms anti dek
           Mulai malam itu kami sering berkirim pesan lagi, sering dia menanyakan masalah-masalahnya di organisasi. Bahkan kami saling mengingatkan Amal Yaumi kami.

* *  *
           “Kau akan mendampingiku juga kan?”, aku masih binggung dengan kata-kata Farhan
           “Mendampingi apa?”, tanyaku penasaran
           “Aku minta Abi mengkitbahkan akhwat untukku”.
           “Benarkah, semoga dimudahkan. Oke aku ikut, kalau boleh tahu siapa nama akhwat itu? ”, heran juga kenapa Farhan pengen cepat-cepat menikah.
           “Namanya Nisa’ dia adik tingkat kita”. DEG, apakah Nisa’ yang sering sms , sharing dan curhat denganku.
           Akhirnya sampailah kami di depan rumah akhwat yang akan dikitbah oleh Abi untuk Farhan, aku pun turut mengantarnya.
           “Tujuan kami kesini yang pertama silaturahim dengan keluarga yang kedua saya atas nama Abi dari Farhan ingin meminang putri bapak”, kata Abiku agak gugup.
           Calon mertua Farhan mungkin bingung waktu kami memasuki rumah beliau, tapi kami segera memperkenalkan diri dan yang akan mengkitbah adalah Farhan bukan Fadil.
           “Terimakasih atas kedatangan Bapak sekeluarga ke sini, kami merasa sangat terhormat, namun semua keputusan ada di tangan putri saya. Saya panggilkan dulu Nisa’ ”, Bapak itu masuk ke dalam rumah meminta putrinya menemui tamu yang secara tiba-tiba bertamu.
           DEG. Nisa’ benarkan mataku tak salah memandang atau hanya igauanku saja. Akhwat yang dipilih Farhan benar-benar Nisa’ yang ku kenal. Apa ini tidak keliru. Ya Allah semua jodoh ada di tangan-Mu.
           Sepertinya Nisa’ juga sedikit terkejut melihatku datang kerumahnya terlebih lagi dia mendapatkan pinangan dari Farhan. Dia sedikit melirik ke arahku namun tak begitu lama dia menunduk lagi, tak tahu apa yang sedang dipikirkannya.

* * *
           Malam yang kelabu, akhwat yang mungkin ku incar didahului kakakku, tak apalah mungkin bukan jodoh.
           “Sudah lama kau kenal dengan ahkwat itu?”, tanya ku pada Farhan.
           “Sudah hampir dua tahun, tapi memang dia belum mengenalku, semoga dia segera memberikan jawaban yang tidak mengecewakan”.
           “Amin”, jawabku polos.
           Nada dering sms pun berbunyi, ada sms masuk segera ku baca. Dari Nisa’.
           Ana senang sewaktu menerima tamu kemarin, tamu terhormat sudi datang kerumah ana apalagi dengan membawa tujuan yang sangat mulia. Hati ana berbunga-bunga waktu melihat mas, namun ternyata yang mengkitbah ana adalah orang lain. Ana tak tahu harus memberi  jawaban apa pada mas Farhan. Akankah ana terima atau tolak, ana masih bimbang.
           Aku tak tahu harus membalas bagaimana. Jujur aku juga menaruh hati padanya. Tapi bagaimana lagi aku lebih memilih saudara kembarku daripada akhwat yang belum tentu menjadi tulang rusukku. Aku malu pada Allah jika bayanganku dapat mengacaukan kekhusyukannya dalam mencapai ridho-Nya.
           Mungkin adek perlu istirahat dulu, pikirkan dengan baik-baik pinangan saudara ana. Dia orang yang sholeh dan insyaAllah bisa menjadi imam dalam keluarga adek nanti
           Tapi ana belum tahu sikap mas Farhan, dan ana merasa nyaman jika bertukar pikiran dengan mas.
           DEG, seakan-akan dia menuntutku untuk meminangnya lebih dulu daripada oranglain.
           Ana belum berani mengkitbah siapapun, ana belum punya persiapan yang matang tidak seperti kak Farhan, kalaupun ana sudah cukup persiapan ana tak akan mengkitbah akhwat yang telah dikitbah oleh saudara seiman ana apalagi saudara kembar ana. Karena mengkitbah diatas kitbahan saudaranya hukumnya haram. Pikirkanlah dek, Farhan mungkin yang terbaik buatmu. Sudahlah minta tolong kepada pemilik nyawamu dek. Semoga cepat diberi jalan keluar dan jangan sia-siakan orang yang sholeh dek yang pantas menjadi imammu.
           Tak ada balasan lagi. Mungkin dia marah padaku. Tapi itulah yang terbaik aku tak boleh mengikatnya walau hanya dengan perasaan karena perasaan inilah yang tidak diridhoi Allah. Aku memang memiliki rasa padanya, namun  kalau dia bukan tulang rusukku yang hilang tidak mungkin Allah akan mempertemukan kami di sebuah ikatan yang suci. Biarkan dia mendapat cinta dan surga terbaiknya. Dan aku pun akan selalu berdoa supaya kesalahan yang terdahulu tak terulang dan dia hidup bahagia dengan kakakku.
* * *
           Tak lama berselang Nisa’ memberikan jawabannya, akhirnya dia bukanlah tulang rusukku yang hilang. Dia tulang rusuk kakakku. Pernikahan pun berlangsung, aku turut serta membantu mempersiapkan segalanya. Semoga cintanya selalu suci pada suaminya dan aku harap aku tak kan ada lagi dalam memorinya.
           Tak terasa aku pun sudah selesai menempuh S2. Karena keinginanku menjadi dosen maka aku segera mengajukan surat lamaran, namun sebelumnya aku dipanggil dosen pembimbingku.
           “Saya harap Anda mau menerima kesempatan ini”.
           “InsyaAllah saya menerimanya Pak, terimakasih banyak”, segera ku salami dosen pembimbingku dengan sedikit haru.
           “Terimakasih kembali, sukses buat Anda”.
           Alhamdulillah aku diterima menjadi dosen sebelum aku mengajukan surat lamaran, dan aku juga mendapatkan beasiswa S2 ke Australia. Sungguh sangat besar kuasa Allah. Inilah rejekiku yang ku tunggu-tunggu. Aku tak akan menyia-nyiakannya. Terimakasih Ya Allah. Benar apa kata Farhan setiap orang mempunyai rejeki sendiri-sendiri dan aku tak perlu iri dengan orang lain. Jodohku pun sudah dipersiapkan oleh Allah, hanya saja waktunya belum tepat.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahman:55)

SELESAI