Ini adalah kisahku dan hanya aku
sendiri bukan saudaraku atau orang lain. Bukan keinginan ku terlahir dengan
saudara kembar. Aku terlahir 5 menit setelah kakak laki-laki ku lahir. Inilah
anugerah bersyukur bisa terlahir , melihat dunia, membuka mata di keluarga yang
agamis yang dipilihkan Allah.
Abi dan Umi selalu memberikan asupan
nutrisi fisik dan ruhani kepada kami anak-anaknya. Keluarga kami memang hidup
sederhana namun satu hal pun tak pernah kekurangan. Aku hanya dua bersaudara
dengan kakak laki-lakiku, Farhan namanya. Banyak orang yang mengatakan wajah
kami mirip, bahkan nenek dari Umi sering sekali salah memanggil kami berdua.
Namun Umi dan Abi tak pernah salah, beliau selalu bisa mengenali kami meski
dari suara. Sungguh luar biasa orang tua kami. Fadil adalah saudara kembar
Farhan, itulah namaku.
Sejak kecil aku selalu merasa
tersaingi dengan Farhan, kami berlomba-lomba untuk mendapat pujian dari
orang-orang. Tak jarang peraih juara 1 di SD adalah kami berdua, namun terkadang aku mengunggulinya tapi tak
lebih banyak dari Farhan.
“Kalian berdua akan menjadi orang sukses
nantinya”, itulah yang selalu dikatakan nenekku kalau kami berkunjung ke rumah
beliau. Serempak kami selalu menjawab “Amin”, dan menciup pipi nenek. Memasuki
SMP kami masih satu kelas dan tetap bersaing untuk memperebutkan juara hingga
berlanjut ke SMA. Semangatku untuk mengalahkan Farhan tak pernah luntur. Dalam
pikiran kami hanya belajar, bersaing untuk mendapatkan Universitas yang kami
idamkan.
Hari yang ku tunggu pun datang,
pengumuman ketua SKI di SMA. Hanya ada dua calon, aku dan Farhan. Kami memang
sama-sama bergerak dalam organisasi kerohanian. Tepat akulah yang menduduki
ketua SKI untuk tahun ini. Ucapan selamat yang pertama kali datang dari Farhan
sendiri. Aku tak tahu perasaannya tapi aku sungguh puas dengan amanahku dan aku
berjanji akan menjadikan SKI ini semakin maju.
“Selamat Dil, kau memang pantas
dengan amanah ini”, ucap Farhan sambil merangkulku erat.
“SKI ini juga tak akan bisa jalan
tanpa mu, sungguh kita harus bekerjasama, aku butuh bantuanmu”, kami memang sangat
akrab. Namun di tahun berikutnya Farhanlah yang terpilih menjadi ketua SKI. Aku
pun senang, akhirnya kami impas.
* * *
Di masa kuliah pun kami masih tetap
satu kampus bahkan satu jurusan, hanya saja kelas kami beda. Dan persaingan pun
tetap tak terbendung. Kami berlomba mendapatkan IP yang tinggi. Amanah di
organisasi pun kami jalani dengan penuh percaya diri dan yang pasti saling
membantu. Kami pun memilih organisasi yang sama, kerohanian kampus. Sejak
semester pertama IP kami hampir sama dan kami pun semakin kejar-kejaran untuk
menunjukkan yang terbaik.
Setiap tahunnya kampus selalu
mengadakan lomba Tilawah, yaitu lomba membaca Al-Quran dengan suara merdu dan
fasih. Kami pun tak kalah dengan teman-teman yang lain, menunjukkan partisipan
yang tinggi. Meskipun kami jadi rival dalam kompetisi namun kami selalu belajar
bersama. Akhirnya kami terdaftar menjadi peserta Tilawah tingkat fakultas. Ini
prestasi yang sangat membanggakan bagi kedua orang tua kami, kami lolos ke
tingkat Universitas. Kompetisi yang lebih nyata dan berat sudah di depan mata
dan kami siap untuk menghadapi.
Aku benar-benar tak sabar, gelisah dan
sedikit takut. Tibalah saat-saat yang ditunggu dan aku semakin gemetar.
“Juara satu dengan poin 267 diraih oleh
. . .”, dadaku semakin berdebar. “Farhan Abbas Zhamroni”, gleg. Apakah aku tidak salah dengar. Siapa
pemenangnya? Mukaku memucat, aku tak berani memandang, menoleh ke samping.
Aku masih merasakan ragaku di ruangan itu tapi nyawaku hilang entah kemana. Apa
arti kegagalanku ini? Ku rasakan tempat duduk di sebelahku bergeser, Farhan
maju ke depan podium, dengan bangga dia menerima piala dan penghargaan lainnya.
Tepuk tangan meriah sengaja ditujukan kepadanya, sedangkan aku terpuruk di tempat
duduk dan merasa sangat rendah.
“Selamat kau berhasil”, ucapku sambil
merangkulnya.
“Inilah yang ku tunggu, ucapan selamat
darimu”.
“Segera hubungi Umi dan Abi, beliau
pasti sangat senang dengan keberhasilanmu”.
“Beliau juga senang dengan
keberhasilanmu”, rayunya, mungkin supaya aku tak putus asa.
“Dengan kegagalanku?”, tanyaku sedikit
ketus.
“Kegagalan adalah keberhasilan yang
tertunda”, hiburnya kembali.
“Mungkin”. Itulah akhir dari kompetisi
itu, aku berada jauh dibawahnya. Aku tak tahu bagaimana pandangan teman-teman
mengenaiku. Saudara kembar yang tak kembar. Pasti mereka lebih menyanjung
Farhan, aku tahu itu.
* * *
Tak terasa skripsi pun di depan
mata. Aku tak boleh kalah dengan saudara ku lagi, tentang apapun itu. Apalagi akan
ada lomba Tilawah tahunan, aku tak akan menyia-nyiakannya.
Kuliah tak ada dosen memang
membosankan. Ku coba membuka jejaring sosial, facebook yang sebenarnya jarang
ku buka, hanya iseng saja. Ku lihat ada seorang akhwat meminta pertemanan.
Segera ku konfirm dan ku tanyakan tentang dirinya. Tak begitu lama ada balasan
dari akhwat itu.
Wa’alaikumsalam,
ana Nisa’, sepertinya kita belum saling kenal.
Oh mungkin dia merandom teman, pikirku.
Tak ku lanjutkan aktivitasku di facebook takut tidak bisa berhenti, lebih baik
ku gunakan buat belajar Tilawah, kompetisi sebentar lagi.
Lomba Tilawah kali ini banyak yang
mengikuti, sebenarnya sedikit gentar tapi harus menghadapi semua kenyataan yang
ada. Pengumuman pun dibacakan, dengan sedikit takut aku mendengarkan.
Alhamdulillah aku terpilih menjadi pemenangnya. Kabar baik pun datang dari
Farhan, dia diterima kerja di sebuah perusahaan meski dia belum lulus kuliah.
Semoga orang tua kami bangga dengan prestasi anak-anaknya.
Apa
ini mas yang menang Tilawah kemarin?
Akhwat yang dulu pernah chat. Iya, ni siapa? Sudah kenal ana?
Barakallah
ya mas, klu tidak salah kita sekelas di kuliah kimia pangan.
Oh
iya ana ikut kuliah kimia pangan, sepertinya anti sudah tau ana, anti yang
mana? Ragu sesaat ada akhwat yang tiba-tiba mengenalku.
Ana
yang pake kerudung lebar di kelas kimia pangan.
Oh
iya, anti juga datang waktu pengumuman Tilawahkan? tebakku
karena cuma ada satu cewek yang pakai kerudung lebar di kuliah kimia pangan dan
waktu pengumuman Tilawah aku juga sempat melihatnya, dia mahasiswa baru.
Benar tebakan ku tentang akhwat itu, kelihatannya
dia pendiam dan pemalu. Aku sering melihatnya di masjid, pakaiannya sangat
tertutup, rapi kadang pakai gamis dengan kerudung yang lebar. Mungkin dia anak
rohis juga.
Mas
ana boleh tanya? suatu saat di facebook, tak tahu
akhir-akhir ini aku lebih sering buka facebook hanya untuk melihat hal-hal
sepele.
Oh
iya, tafadhol.
Cara
baca Tilawah supaya merdu itu bagaimana?
Gampang
saja berlatih dan terus berlatih, kuasai tajwidnya dan kalau ada pelatihan
tilawah ikuti saja. Ketikku dengan mantap.
Oh
iya, syukron.
Klu mau sharing-sharing sms aja di no ana, ana jarang buka facebook.
Klu mau sharing-sharing sms aja di no ana, ana jarang buka facebook.
Aku juga tak tahu dia mau menyimpan
nomor handphone ku atau tidak. Aku menunggu sesuatu yang akan datang tapi entah
apa aku tak tahu. Tiga hari dari aku memberikan nomor ke akhwat itu, dia
mengirim pesan padaku. Pertanyaan demi pertanyaannya ku jawab dan yang masih
ragu ku tanyakan pada orang yang lebih tahu. Dia juga sering memberikan
pemahaman dan pengetahuan baru padaku. Kami saling memberikan pendapat dan ilmu,
entah itu tentang ilmu islam ataupun dalam kuliah bu Tantri. Kami saling
membantu jika menemui kesulitan, namun tetap dalam lingkup syar’i. Bahkan kami
pun belum pernah saling menyapa padahal kami sudah saling tahu. Dia selalu
menunduk jika aku melewatinya, aku pun juga takut jika setan menjerumuskan jika
aku melihat wajahnya dengan pakaian dan kerudungnya yang sangat menentramkan
jiwa.
* * *
Aku merasa semakin jauh tertinggal
dengan saudaraku, dia sudah berpenghasilan sendiri. Pekerjaannya mapan,
sedangkan aku tak tahu apa yang harus ku banggakan, meskipun tidak lagi minta
uang jajan ke orang tua namun pekerjaan ku sebagai tentor belum mencukupi untuk
ditabung. Kami memang sama-sama berjuang untuk lulus dan segera menyusun
skripsi, namun hatiku benar-benar semakin menciut, takut jika sermakin jauh
tertinggal.
Dari awal semua orang lebih kagum
dengan Farhan sedangkan aku saudara kembar yang tak kembar. “Apa yang kau
pikirkan”, rangkul Farhan tiba-tiba sedikit mengagetkanku.
“Tak ada, mungkin memikirkan skripsi dan
pekerjaan, aku belum bisa membuat Umi dan Abi bangga sepertimu”, keluhku lemah.
“Sudahlah pikirkan skripsimu dulu,
pekerjaan, jodoh, kematian di tangan Allah kita tinggal menjalani”.
“Iya kamu bisa bilang seperti itu
karena kamu sudah punya pekerjaan, sedangkan aku”.
Hembusan nafasnya sampai terdengar di
telingaku. “Setiap orang punya nikmat sendiri, kau tak perlu iri dengan nikmat
orang lain”.
“Baiklah”, ku tinggalkan Farhan
sendiri di teras kos. Tapi hatiku tak tentram, aku tak mau tertinggal dengan
Farhan. Kami dilahirkan hampir bersamaan jadi jangan sampai gara-gara
kecerobohanku prestasi kami begitu beda.
* * *
Semakin sering aku dan akhwat itu
berkirim pesan, sharing-sharing tentang agama maupun kuliah bu Tantri. Tak
jarang jarkoman kajian mendarat di layarku maupun dilayarnya. Aku suka dengan
cara pandangnya tentang islam, tentang masalah-masalah di dalamnya dan
penyelesaian yang dia pikirkan. Bahkan masih ku sempatkan sharing-sharing
melalui sms di sela kesibukanku menyusun skripsi.
Akhir semester pun tiba, kelas bu
Tantri tak lagi ada. Aku juga semakin jarang pergi ke kampus, mungkin hanya
menemui dosen pembimbing. Semakin jarang juga aku bertemu dengan akhwat bernama
Nisa’, namun sms ku maupun smsnya tetap bergulir di layar handphone. Dia sering
bertanya tentang islam, pengetahuan agamanya pun sangat luas. Bukan hanya
penampilan luarnya yang terlihat luar biasa tapi dalamnya pun luar biasa.
* * *
Ternyata sulit juga mencari kerja,
tak semudah yang ku pikirkan. Sekarang ini menjadi tentor adalah satu-satunya
pekerjaanku. Aku tak mau jauh tertinggal dengan Farhan. Sekeras apapun usahaku,
tetap saja. Mungkin Allah belum memberikan rezeki yang lebih padaku.
“Bagaimana lamaranmu yang di perusahaan
itu, sudah ada balasan?”, tanya Farhan suatu malam.
“Belum ada balasan juga mungkin belum
rezeki”, jawabku santai.
Dia menggeser duduknya mendekatiku.
“Iya mungkin belum rezeki, yang sabar ya, Allah selalu bersama kita. Umi, Abi
dan aku juga selalu bersamamu”.
“Iya, bagaiman dengan skripsimu?”, tanyaku
basa-basi. Tapi ini lah moment yang indah, hanya berdua dengan Farhan di malam
yang tenang. Suasana yang sangat hangat dan nyaman.
“Belum kelar juga, kau?”.
“Sebentar lagi, pantaslah kau sibuk
dengan kerjaanmu. Kalau aku sampai molor apa kata dunia aku tak disibukkan
dengan pekerjaan apapun”, kataku polos.
“Kau bisa saja”, tiba-tiba dia
menggenggam tangan ku erat.
Aku memiliki saudara kembar yang
sangat pengertian dan menyayangiku. Namun terkadang aku juga takut jauh
tertinggal dari kesuksesan saudaraku.
* * *
Alhamdulillah skripsiku sudah
selesai, tapi masalah pekerjaan terus menghantuiku. Aku juga ingin bekerja
layaknya orang setelah lulus kuliah.
“Kamu mau nerusin S2, nak?”, Tanya
Umi ku tiba-tiba.
“Tidak Umi, Fadil pengen kerja saja
seperti kak Farhan, malu kalau tak kerja-kerja”.
“Kalau pengen nerusin S2 juga tak apa,
Umi sanggup biayai kamu. Lagian kakak mu sudah tak mau kuliah lagi katanya”.
“Tidak Umi, saya cari kerja saja”, ya pantas lah Farhan tak mau nerusin kuliah,
keenakan kerja sih, batinku yang mungkin sedikit dongkol.
* * *
Dua tahun berlalu sedangkan aku masih
belum mendapat pekerjaan yang tepat. Akhirnya ku putuskan untuk kuliah lagi S2.
Tak apalah Umi dan Abi juga tak keberatan.
Malam hari sewaktu aku mengerjakan
laporan, sms masuk dari akhwat bernama Nisa’. Sudah lumayan lama dia tak
berkirim kabar maupun tanya-tanya. Sekitar tiga bulan yang lalu terakhir kali
dia sms. Semburat senyum menyunggging di bibirku, entah apa yang ku pikir.
Mas
bagaimana cara rohis kampus ini bisa jalan, ketumnya tidak terlalu merespon
terhadap masalah.
Wah dia sudah
bergelut dengan dunia yang sesungguhnya. Adek
jadi kaput? Begini saja terus adakan rapat Ketum, Kaput, Kadept dan Sekdept
untuk membahas issue-issue dan mengembangkan proker yang dibuat.
Dari mana mas tau ana Kaput?
Dari sms anti dek
Mulai malam itu kami sering berkirim
pesan lagi, sering dia menanyakan masalah-masalahnya di organisasi. Bahkan kami
saling mengingatkan Amal Yaumi kami.
* * *
“Kau akan mendampingiku juga kan?”,
aku masih binggung dengan kata-kata Farhan
“Mendampingi apa?”, tanyaku penasaran
“Aku minta Abi mengkitbahkan akhwat
untukku”.
“Benarkah, semoga dimudahkan. Oke aku
ikut, kalau boleh tahu siapa nama akhwat itu? ”, heran juga kenapa Farhan
pengen cepat-cepat menikah.
“Namanya Nisa’ dia adik tingkat
kita”. DEG, apakah Nisa’ yang sering sms , sharing dan curhat denganku.
Akhirnya sampailah kami di depan
rumah akhwat yang akan dikitbah oleh Abi untuk Farhan, aku pun turut mengantarnya.
“Tujuan kami kesini yang pertama
silaturahim dengan keluarga yang kedua saya atas nama Abi dari Farhan ingin
meminang putri bapak”, kata Abiku agak gugup.
Calon mertua Farhan mungkin bingung
waktu kami memasuki rumah beliau, tapi kami segera memperkenalkan diri dan yang
akan mengkitbah adalah Farhan bukan Fadil.
“Terimakasih atas kedatangan Bapak
sekeluarga ke sini, kami merasa sangat terhormat, namun semua keputusan ada di
tangan putri saya. Saya panggilkan dulu Nisa’ ”, Bapak itu masuk ke dalam rumah
meminta putrinya menemui tamu yang secara tiba-tiba bertamu.
DEG. Nisa’ benarkan mataku tak salah memandang
atau hanya igauanku saja. Akhwat yang dipilih Farhan benar-benar Nisa’ yang ku
kenal. Apa ini tidak keliru. Ya Allah semua jodoh ada di tangan-Mu.
Sepertinya Nisa’ juga sedikit
terkejut melihatku datang kerumahnya terlebih lagi dia mendapatkan pinangan
dari Farhan. Dia sedikit melirik ke arahku namun tak begitu lama dia menunduk
lagi, tak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
* * *
Malam yang kelabu, akhwat yang
mungkin ku incar didahului kakakku, tak apalah mungkin bukan jodoh.
“Sudah lama kau kenal dengan ahkwat
itu?”, tanya ku pada Farhan.
“Sudah hampir dua tahun, tapi memang
dia belum mengenalku, semoga dia segera memberikan jawaban yang tidak
mengecewakan”.
“Amin”, jawabku polos.
Nada dering sms pun berbunyi, ada sms
masuk segera ku baca. Dari Nisa’.
Ana
senang sewaktu menerima tamu kemarin, tamu terhormat sudi datang kerumah ana apalagi
dengan membawa tujuan yang sangat mulia. Hati ana berbunga-bunga waktu melihat
mas, namun ternyata yang mengkitbah ana adalah orang lain. Ana tak tahu harus memberi
jawaban apa pada mas Farhan. Akankah ana
terima atau tolak, ana masih bimbang.
Aku tak tahu
harus membalas bagaimana. Jujur aku juga menaruh hati padanya. Tapi bagaimana
lagi aku lebih memilih saudara kembarku daripada akhwat yang belum tentu menjadi
tulang rusukku. Aku malu pada Allah jika bayanganku dapat mengacaukan
kekhusyukannya dalam mencapai ridho-Nya.
Mungkin
adek perlu istirahat dulu, pikirkan dengan baik-baik pinangan saudara ana. Dia
orang yang sholeh dan insyaAllah bisa menjadi imam dalam keluarga adek nanti
Tapi ana belum tahu sikap mas Farhan,
dan ana merasa nyaman jika bertukar pikiran dengan mas.
DEG, seakan-akan
dia menuntutku untuk meminangnya lebih dulu daripada oranglain.
Ana
belum berani mengkitbah siapapun, ana belum punya persiapan yang matang tidak
seperti kak Farhan, kalaupun ana sudah cukup persiapan ana tak akan mengkitbah
akhwat yang telah dikitbah oleh saudara seiman ana apalagi saudara kembar ana.
Karena mengkitbah diatas kitbahan saudaranya hukumnya haram. Pikirkanlah dek,
Farhan mungkin yang terbaik buatmu. Sudahlah minta tolong kepada pemilik
nyawamu dek. Semoga cepat diberi jalan keluar dan jangan sia-siakan orang yang
sholeh dek yang pantas menjadi imammu.
Tak ada balasan
lagi. Mungkin dia marah padaku. Tapi itulah yang terbaik aku tak boleh
mengikatnya walau hanya dengan perasaan karena perasaan inilah yang tidak
diridhoi Allah. Aku memang memiliki rasa padanya, namun kalau dia bukan tulang rusukku yang hilang
tidak mungkin Allah akan mempertemukan kami di sebuah ikatan yang suci. Biarkan
dia mendapat cinta dan surga terbaiknya. Dan aku pun akan selalu berdoa supaya
kesalahan yang terdahulu tak terulang dan dia hidup bahagia dengan kakakku.
* * *
Tak lama berselang Nisa’ memberikan
jawabannya, akhirnya dia bukanlah tulang rusukku yang hilang. Dia tulang rusuk
kakakku. Pernikahan pun berlangsung, aku turut serta membantu mempersiapkan
segalanya. Semoga cintanya selalu suci pada suaminya dan aku harap aku tak kan
ada lagi dalam memorinya.
Tak terasa aku pun sudah selesai
menempuh S2. Karena keinginanku menjadi dosen maka aku segera mengajukan surat
lamaran, namun sebelumnya aku dipanggil dosen pembimbingku.
“Saya harap Anda mau menerima kesempatan ini”.
“Saya harap Anda mau menerima kesempatan ini”.
“InsyaAllah saya menerimanya Pak,
terimakasih banyak”, segera ku salami dosen pembimbingku dengan sedikit haru.
“Terimakasih kembali, sukses buat
Anda”.
Alhamdulillah aku diterima menjadi
dosen sebelum aku mengajukan surat lamaran, dan aku juga mendapatkan beasiswa
S2 ke Australia. Sungguh sangat besar kuasa Allah. Inilah rejekiku yang ku
tunggu-tunggu. Aku tak akan menyia-nyiakannya. Terimakasih Ya Allah. Benar apa
kata Farhan setiap orang mempunyai rejeki sendiri-sendiri dan aku tak perlu iri
dengan orang lain. Jodohku pun sudah dipersiapkan oleh Allah, hanya saja
waktunya belum tepat.
“Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahman:55)
SELESAI