Engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. dan dikatakan kepada mereka " Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya". Demikian itulah kemenangan yang agung. (Al-Hadid : 12)

Kamis, 14 Juni 2012

BEGADANG




Malam semakin larut
Tapi hati terlarut untuk menumpahkan karangan
Berjuta bintang telah menyesaki kepala
Beribu kata sudah tak keluar dari lorongnya
Masihkah tubuh ini kuat menopang ?
Masihkah tangan ini kuat menuliskan ?
Masihkah otak ini kuat berpikir ?
Masihkah mata ini kuat terbelalak ?
Masihkah raga ini kuat diajak bicara ?
Ah sepertinya tidak
Sepertinya tubuh, tangan, otak, mata, raga ini sudah tak bersahabat
Seakan mereka bagai musuh
Atau layaknya anak kecil yang meronta minta lepas
Haruskah aku menyerah ?
Tidakkah aku bisa menakklukkan kalian?

Rabu, 13 Juni 2012

DAKWAH SI KEMBAR 

“Ali kau sudah menyelesaikan proker untuk LDK minggu depan?”, sapa Zahra dari pintu kamar Ali yang kebetulan terbuka.
“Tinggal sedikit, besuk akan ku kerjakan lagi?”, jawabnya ketus.
Setiba di kamarnya Zahra memikirkan Ali, kenapa dia berkata ketus seperti itu. Mata pun sudah dipejamkannya namun tak bisa tertidur juga. Rupanya perkataan ketus Ali masih menempel di hati Zahra. Beberapa jam dia membolak-balikkan badan namun tetap saja matanya sulit terpejam.
“ Sudah di mulai ya?”, tanya Zahra khawatir. Menurutnya ini amanah yang tak boleh dilalaikan sedikit pun. Semenjak memasuki dunia kuliah dia aktif sebagai aktivis begitu juga dengan Ali, mereka dalam satu forum.
“ Masih baru dimulai”, sambung Dita
“ Ali sudah datang dari tadi ya?”, tanya Zahra lagi, karena tadi Ali buru-buru dan meninggalkan Zahra padahal tujuan mereka sama.
“ Belum tu, dari tadi aku belum liat Ali, memangnya kamu gak bareng dia?”, Dita balik bertanya karena Zahra memang satu kelas dengan Ali.
Zahra tidak mau berburuk sangka tentang Ali. Di forum tadi dia tidak muncul padahal dia juga membawa amanah yang tak kalah berat dengan Zahra. Bahkan dia yang menjadi ketua di suatu kementerian sedangkan Zahra hanya sebagai sekretarisnya.
Malam pun sudah menunjukkan mukanya, sedangkan Ali belum juga pulang. Sudah pula ia tanyakan pada Bundanya.
“ Lho bukannya seharian sama kamu terus ya Zah?”, Bundanya pun malah balik bertanya.
“ Sejak pulang kuliah dia gak sama Zahra Bun”.
“ Mungkin Ali ada keperluan lain, sudah kamu belajar saja sana”.
Zahra hanya melenggeng tanpa sepatah kata pun. Belajar pun jadi tak konsentrasi, Zahra terus memikirkan Ali. Terdengar suara berisik dari kamar Ali, tapi Zahra mengurungkan niatnya untuk melihat ke dalam kamar Ali. Dia hanya bersyukur Ali sudah pulang dan kekhawatirannya pun berkurang. Tapi ada yang aneh, tak seperti biasa di kamar Ali sangat ribut. Kalau pun ada teman-teman rohisnya datang keadaan tak seribut ini.
“ Ali ada temanmu ya, kok berisik banget padahal ini kan sudah malam”, sapa Zahra sewaktu Ali mengambil minuman untuk temannya.
“ Iya temanku, nanti aku kasih tau agar tak ribut”, jawabnya polos dan sedikit ketus. “ Siapa? Ikhwan yang mau ngerjain proker ya?”, tanya Zahra pula.
“ Bukan, ini temanku yang lain”.
Kenapa bicaranya ketus, lantas siapa temannya kalau bukan teman kampus atau teman aktivis? Apa dia punya teman lain, sejak kapan? Dan kenapa aku tak mengetahuinya, padahal selama ini temanku temannya dan temannya adalah temanku juga. Pikiran Zahra mulai tak tenang, dia memberanikan diri melihat siapa teman yang dibawa Ali ke rumah.
Zahra hanya bisa mengucap istigfar setelah tahu siapa teman Ali. Tak bisa menahan kecewanya Zahra lantas pergi ke kamar. Dia hanya bisa menangis menahan semuanya, dia juga tak menyangka Ali berteman dengan orang seperti itu.
“ Kau mau berangkat bareng aku gak?”, kali ini Zahra yang berucap ketus.
“ Iya lah, aku kan selalu bareng ama kamu”, seperti biasa Ali mengandeng tangan Zahra sebelum berangkat. Tapi kali ini Zahra menolak, bahkan menjauh dari Ali.
“ Kau kenapa, tak seperti biasa”, tandas Ali kaget dengan perubahan Zahra.
“Siapa yang tak seperti biasa, aku apa kamu, kemarin dari mana, gak datang waktu syuro’ ?”.
“ Aku ada urusan”.
“ Lebih pentingkah urusanmu dengan syuro’ kemarin?”.
“ Udah aku tak mau mengungkit itu lagi, kita siap berangkat putri”, canda Ali segera mengas motornya.
Kali ini pun Zahra disuruhnya pulang sendirian. Sepanjang jalan Zahra hanya bergumul kesal pada Ali. Sebenarnya ada urusan apa hingga tega-teganya menelantarkannya seperti ini. Memang beberapa hari ini Ali terlihat aneh, dia jarang kumpul dengan teman aktivisnya, tak lagi mengantar Zahra pulang, pulangnya juga malam, teman yang tak seharusnya datang ke rumah pun diundangnya.
Sesampai di rumah, Zahra tak menemukan Ali padahal dia naik angkot dan harus mampir ke rumah Dita, sedangkan Ali bawa motor. Karena penasaran Zahra ingin melihat-lihat kamar Ali.
“ Zahra, makan dulu Nak”, Bundanya mulai memanggilnya.
“ iya Bun nanti saja, sekalian nunggu Ali”.
“ Lho memangnya kamu gak bareng Ali?”, Tanya Bundanya penasaran.
“ Gak Bun, tadi katanya dia ada urusan jadi Zahra pulang naik angkot”, jelas Zahra masih kesal dengan sikap Ali.
“ Oh ya sudah tapi cepat makan ya, soalnya Bunda mau kerumah Nenek, sekalian kamu sama Ali jaga rumah ya Nak”.
“ Iya Bun, kerumah Nenek sama Ayah juga?”.
“ Iya”.
Keinginan melihat kamar Ali pun membuncah lagi. Sebenarnya dia tak ingin melihat-lihat kamar Ali karena tak sopan juga, tapi dia sudah terlanjur kesal dengan Ali. Seperti biasa kamar Ali rapi tapi memang tak serapi kamarnya. Hampir semua perabotan berwarna hijau dan biru hampir sama dengan kamarnya yang bernuansa hijau namun dipadu dengan putih.
Zahra juga sedikit binggung, darimana Ali belajar menata kamar serapi ini. Buku tertata rapi juga pada tempatnya, tak ada yang aneh dan mencurigakan sedikit pun, bahkan dia sudah memeriksa hingga ke kolong tempat tidur, namun tak menemukan apapun. Hingga matanya melirik ke arah meja belajar yang ada sedikit tumpukan buku dan lembaran-lembaran tak terlihat.
Mungkin hanya proker yang belum sempat terselesaikan, pikir Zahra enteng. Tapi keinginannya untuk melihat semuanya sangat besar. Akhirnya Zahra mengangkat dua tumpukan buku dan lembaran-lembaran. Beberapa lembaran yang terselip di antara tumpukan buku berhamburan hingga memenuhi lantai kamar Ali. Betapa kagetnya Zahra mengetahui lembaran gambar dan foto-foto yang sangat menjijikan. Dia cepat-cepat merapikan semua dan bergegas ke kamar.
“ Assalamu’alaikum, Zahra kamu di dalam?”, teriak Ali dari luar.
“ Wa’alaikumsalam iya sebentar, Ali kamu kenapa”, Tanya Zahra panik melihat baju Ali penuh darah.
“Ah aku tak apa-apa”.
“Apa kau luka?”, sekesal apapun Zahra pada Ali namun dia tetap menyayangi Ali.
“Aku tidak apa-apa, kenapa kau habis nangis? Siapa yang menyakitimu?”, cecar Ali khawatir karena mata Zahra sembab pertanda dia baru saja menangis.
“ Aku benci padamu”, Zahra berlari ke kamarnya sambil menangis, sedangkan Ali binggung tak mengerti apa maksud Zahra.
“ Zahra, kamu kenapa tolong buka pintunya”, Ali binggung dengan sikap Zahra, dia juga khawatir sesuatu terjadi dengan Zahra.
“ Sebaiknya kau tanyakan sendiri pada dirimu, kau salah apa?”.
“Zahra Sayang aku tak mengerti apa maksudmu”, kali ini Ali mulai mengedor pinti kamar Zahra.
“ Lihat tumpukan kertas di kamarmu, apa kamu masih menyangkal, aku malu punya saudara sepertimu Ali”.
Ali lantas berlari ke dalam kamarnya dan mulai mencari tumpukan kertas di bawah buku pelajarannya. Dia hanya tersenyum tawar melihatnya.
“ Zahra ijinkan aku masuk, aku akan menjelaskan semuanya”.
Ternyata pintu kamar tidak dikunci. Zahra hanya menelungkupkan tubuhnya menghadap tembok tak bergerak. Ali mencoba mencairkan suasana dengan mengetuk pintu sambil berdendang-dendang. Tapi tetap saja Zahra seperti mayat hidup tak bergerak.
“ Zahra kamu ini salah paham, aku bisa menjelaskan semuanya”.
“ Apa yang akan kau jelaskan, kau bukan Ali ku yang dulu, kau sudah berubah”, kali ini suara Zahra begitu seraknya karena menangis. Ali pun tahu kalau Zahra menangis, dia juga kebinggungan.
“ Aku berubah jadi superhero ya?”, canda Ali agar suasana mulai cair, tapi tetap saja Zahra tak memperlihakan wajahnya. Entah dia marah, kesal atau benci dengan Ali.
“ Gak lucu Ali”, jawab Zahra ketus.
“ Makanya kau dengarkan aku”, kali ini Ali juga bicara tak kalah ketusnya dengan Zahra.
“ Apanya yang mau didengarkan semuanya sudah jelas dan aku mengerti semuanya”.
Zahra mulai bangun, dia mengawasi kedatangan Ali yang masih mengenakan baju yang berlumuran darah. Zahra memandangnya dengan jijik bercampur marah. Dia benar-benar tak menyangka Ali berubah dan berbuat tidak kenal aturan agama. “ Kenapa kau belum mengganti pakaiana kotormu itu, aku jijik melihatnya”, tegur Zahra kesal.
“ Sekarang siapa yang berubah aku apa kamu, kenapa kau berkata sekeras ini padaku, padahal sebelumnya kau tak berani berkata keras padaku”.
“ Karena aku sudah muak dengan tingkahmu, kau sudah tak memperdulikanku dan juga amanah di kampus”, Zahra masih saja mencerocos seperti biasa.
“ Apa yang kau pikirkan tentangku?”, Ali bertanya balik ingin mendengar kesalahpahaman yang terjadi pada Zahra, hingga Zahra sampai hati berkata sekeras ini pada Ali. Beberapa saat Ali menunggu tapi kata-kata Zahra tak keluar juga dari mulutnya yang mungil. Zahra melihat lekat-lekat mata Ali, dia sangat menyayangi Ali, dia tak ingin Ali berubah apalagi meninggalkan dirinya.
“ Sekarang kau berteman dengan anak pank anak nakal padahal dulu temanmu sama dengan temanku anak baik-baik, bacaanmu sekarang buku-buku yang bergambar tidak senonoh padahal dulu kau sering membawa kitab ke rumah dan mempelajarinya bersamaku, sekarang kau sering pulang malam padahal dulu kau selalu pulang bersamaku, dan sekarang lihatlah pakaianmu penuh darah pasti kau berkelahi, sejak kapan kau melakukan itu semua, aku sangat menyayangkan sekali Ali”, Zahra menangis tersedu.
Sedangkan Ali hanya tersenyum dan melirik nakal pada Zahra. “ Dan sejak kapan kau melirikku seperti itu, aku sangat membencinya”.
“ Zahra sejak kapan pikiranmu sempit, kau tak menanyakan dulu apa permasalahnnya pada yang bersangkutan dan langsung marah-marah seperti ini”.
“ Apa maksudmu Ali”, Zahra mulai menenangkan hatinya.
“ Zahra dengarkan aku baik-baik. Teman-teman yang ku bawa kesini memang anak pank, anak jalanan, dan anak nakal lainnya sedangkan lembaran yang ada di kamarku aku belum tau apa isinya tapi itu punya temanku si penjual majalah porno yang tertinggal di kamarku dan demi Allah aku belum melihat apa isinya, aku memang sering pulang malam dan tak mengajakmu menuntaskan urusanku, tapi ku lakukan itu semua agar orang yang tak mengenal agama juga mengenalnya”.
Zahra masih sesenggukan, dia belum mengerti kearah mana Ali akan bicara. “ lanjutkan”, pinta Zahra kemudian.
“ Zahra apa kau pernah berpikir, proker LDK yang kita buat memang sangat bagus, acara rohis dan kau tentu tau siapa yang biasa menikmati acara seperti itu, pasti cuma anak-anak rohis paling banter juga teman-teman kampus kita, kita dakwah juga didengar sesama teman rohis kita, mana bisa dakwah berkembang dengan cara seperti itu. Dan aku punya proker sendiri aku ingin dakwah di luar kampus, aku ingin berbagi macam ilmu kepada teman-teman pank, teman yang kau rasa nakal tapi mereka juga punya hati untuk mendapat dahwah dan sumbangan ilmu dari kita. Aku tidak ingin dakwahku hanya terpaut sekitar kampus tapi juga melebar kesegala penjuru. Apa sekarang kau mengerti?”, jelas Ali panjang lebar.
“ Lantas kenapa bajumu itu kotor dengan darah, kalau kau tidak berkelahi?”, tanya Zahra masih penasaran.
“ Tadi temanku kecelakaan aku sebagai manusia berkewajiban menolongnya jadi aku mebawanya ke RS dulu, baru pulang, apa aku ada memar-mamar”, seketika Zahra memandang wajah Ali dan dia menggelengkan kepala tanda dia percaya dengan Ali.
“ Bagaimana sekarang kau percaya padaku?”, tanya Ali melirik ke sudut mata Zahra.
Hanya anggukan dari Zaha, mungkin dia malu sudah berburuk sangka terhadap saudaranya sendiri.
“ Zahra apa kau sudah membuka lembaran yang ada di atas meja belajarku?”, tanya Ali menggoda dan duduk disebelah Zahra.
“ Iya, tapi itu juga tanpa sengaja”, Zahra mendelik karena merasa kena skak dari Ali.
“ Bisa kau ceritakan apa isinya, aku ingin tahu, tapi aku tak mau melihat sendiri apa isinya”, Ali kembali menggoda dan menyenggol lengan Zahra.
“ Kau ini apa-apaan, aku tak mau menceritakannya”, lantas Zahra memeluk Ali denga sayang. “ Ali maafkan aku ya, aku salah dan maukah kau mengajakku ke teman-temanmu?”, pinta Zahra.
“ Tentu, tentu Sayang, kapanpun kau ada waktu luang akan ku antar”.
SELESAI
HILANGNYA SENYUM MANIS MALAIKATKU


Sudah berhari-hari aku tak melihat senyum manis di sudut bibirnya apalagi di bibir sebenarnya. Aku tahu dia merasa kehilangan. Aku juga tapi aku bukan merasa kehilangan atas apa yang dia ratapi tapi aku kehilangan akan dirinya yang seperti tak bisa lagi tersenyum. Seakan senyumnya menghilang entah ditelan bumi dan ngarai. Aku yang sejak dulu selalu membuatnya tersenyum sekarang aku tak ada daya untuk melakukannya bahkan hanya secuil.
            Padahal jiwaku tak pernah meninggalkannya, aku selalu berusaha untuk memenuhi semua maunya. Aku bahkan rela mati, berkorban untuk dirinya, untuk menjaga keselamatannya. Aku tak akan rela hidup tanpa senyum dibibir dan jiwanya,
            “Refa makan dulu Sayang”, aku mencoba mendekatinya sekali lagi, sebenarnya sejam lalu aku juga sudah menawarinya makan tapi dia tak menoleh kepadaku barang sejenak. Aku berharap kali ini dia mau memakan makanan yang kutawari meski tidak melihat wajahku.
            Dan berhasil dia menoleh padaku mungkin hanya dua tiga detik namun kembali termenung dengan pikirannya. “ Refa katakana pada mama apa yang kau mau Nak, mama akan mencoba memberikanya untukmu”, sekilas Refa menoleh dengan harapan dihati keinginannya akan terkabul.
            “Bicara Sayang, mama binggung dengan keadaanmu”, aku memcoba mengiba supaya Refa memperhatikanku.
            “Aku ingin dia kembali”, hanya itu kata yang keluar dari mulut mungil putri semata wayangku.
***
            Refa adalah anak semata wayangku dari hasil pernikahanku dengan lelaki yang aku cintai. Papa Refa adalah seorang lelaki yang sangat sibuk namun dia tetap memperhatikan keluarga ditengah padatnya jadwal kerja. Sedangkan aku hanya seorang ibu rumah tangga berkesampingan menjaga toko bunga disebelah rumah. Sehingga akulah orang yang paling dekat dengan Refa. Sekarang umur Refa baru tujuh tahun dan dia sudah mengalami depresi.
***
            “ Refa mau kemana?”, sapaku halus dari depan toko bunga saat aku melihat Refa keluar dengan kucing kesayangannya Si Dodot. Refa sangat menyukai kucing dan dia sendiri yang memberikan nama kucingnya itu.
            Kaki mungilnya mulai beranjak meninggalkan pagar rumah, tapi dia tetap mendengar sapaanku. “ Mau ajak Dodot jalan-jalan Ma”.
            Aku tak tahu bagaimana kronologi kejadiannya, tiba-tiba saja Refa berteriak histeris. Aku sangat khawatir, aku takut terjadi sesuatu dengan Refa. Jalanan depan rumah memang lumayan ramai kendaraan. Sontak aku berlari tergopoh-gopoh menuju tempat Refa tadi berdiri.
            Aku sangat bersyukur tidak ada luka secuilpun yang terjadi pada malaikatku. Sekejap jantungku berhenti berdetak. Ini anugerah, aku masih diberi kesempatan untuk menciumi malaikat kecilku yang sangat aku sayangi.
            Aku mencoba mencari apa yang patut dia teriaki dengan mirisnya. Tergeletak tak bernyawa bahkan sudah tak berbentuk lagi Si Dodot, darah segar mengalir di sekitar tubuhnya yang perkasa.
            Tak ku dengar lagi tangisan apalagi teriakan dari malaikatku namun ku pandang matanya yang sayu seakan berkata kembalikan Dodot padaku, aku sangat membutuhkannya. Matanya nanar menatap sesosok yang bergelimang darah. Dia terdiam berdiri seperti patung yang siap diterpa hujan badai atau pun panasnya matahari gurun.
***
            Tanah merah masih basah, namun Refa tak beranjak dari tempatnya. Aku sudah menyuruhnya berkali-kali, namun tetap saja. Akhirnya papanya yang turun tangan memaksa untuk segera masuk kamar.
            Kejadian itu sudah berlangsung hampir enam bulan lalu. Hingga dia lupa caranya tersenyum dan bercanda ria. Mungkin dia lupa dengan mama papanya dan aku tak ingin semuanya terjadi dengan malaikatku. Aku ingin malaikatku mengepakkan sayapnya untuk terbang ke atas awan menari bersama bintang bukan terpuruk tak berdaya seperti ini. Dia masih punya harapan dia masih punya hidup dan jalan hidupnya pun masih sangat panjang.
            Aku tak ingin rasa kehilangnnya membunuh dirinya sendiri, bahkan lebih baik aku saja yang mengalami kejadian itu.
            Aku sudah beberapa kali membawanya ke psikiater, namun jawabannya sama saja “ Anak Anda terkena depresi berat”. Dan setiap kali aku bertanya obat apa yang seharusnya aku berikan agar dia kembali seperti semula. Dan semuanya juga menjawab“ Tidak ada obat secara khusus tapi kasih sayang orang tualah yang sangat diperlukan”.
            Aku dan suamiku selalu menuruti perintah supaya anak kami segera kembali. Bahkan suamiku mengurangi jadwal kerja dan meetingnya hanya untuk berkumpul dengan keluarga dan lebih dekat dengan Refa.
            Aku pun seperti itu lebih banyak mengajak Refa jalan-jalan untuk menghirup udara segar. Seharusnya Refa memang menginjak kelas dua sekolah dasar, namun aku tak tega untuk memasukkannya sekolah. Sudah ku coba menyekolahkannya lagi dengan harapan dia bisa bersosialisasi dan melepas rasa kehilanag itu, namun keadaan semakin memburuk bahkan dia menjerit-jerit di waktu pelajaran. Dan aku putuskan akulah guru sekaligus ibu yang akan memberikan kasih sayang yang tiada habisnya.
***
            Mata Refa mulai bercahaya saat memandangku. “Aku ingin dia bersamaku lagi”. Aku tersontak, dia sudah mengatakannya untuk yang kedua bahwa Refa menginginkan sesuatu yang telah mati hidup kembali.
            “Refa sayang, sesuatu yang hidup itu pasti akan mati dan akan kembali kepada Penciptanya, begitu pula dengan kita nanti, tidak ada yang tahu kita akan mati kapan”, aku mulai berbicara serius. Seharusnya dia tidak diberikan kata-kata yang berat untuk menjelaskan karena  kekuatan otaknya untuk menangkap masih belum seberapa.
            “Aku ingin dia kembali Ma”, aku senang Refa mulai memohon kepadaku karena aku tahu dia mulai sadar akan kebinggungannya selama ini.
***
            Pagi ini aku mengajak Refa jalan-jalan bersama dengan papanya juga. Aku ingin memberikan kejutan untuk Refa dihari spesialnya ini. Hari dimana umurnya mulai menaik lagi. Aku dan suamiku berencana mengajaknya ke toko hewan.
            “ Refa boleh memilih hewan apapun yang Refa suka”,baru kali ini aku melihat senyumnya kembali, aku sangat senang. Aku dan suamiku membiarka Refa membelihewan apapun untuk mengobati hatinya yang lara.
            Dia menunjuk ke salah satu keranjang hewan tepat di pojok kanan. “Ma, Pa aku sudah menemukannya, mbak penjaga tokonya mana? Aku ingin segera membawanya pulang”, hatiku benar-benar senang bahkan seperti layang-layang yang berhasil menggapai langit. Dia kembali tersenyum dan aku pun tersenyum.
            Namun aku sungguh sangat terkejut ternyata keranjang hewan yang dia tunjuk tidak ada sesuatu pun didalamnya, bahkan hewan sebesar kutupun tidak ada…………

Selasa, 12 Juni 2012

KULINER KHAS TRENGGALEK 


Nasi Geghog adalah makanan khas dari kota Trenggalek. Makanan yang satu ini mempunyai cita rasa yang berbeda dari makanan-makanana yang lain. Bukan hanya cita rasanya saja yang berbeda namun juga bentuknya yang unik. Dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkusnyamerupakan ciri khas dari nasi geghog.
Ciri lain dari nasi geghog adalah rasa pedasnya yang luar biasa, meskipun pedas nasi geghog banyak digemari mulai dari anak kecil, anak sekolahan, ibu-ibu, pekerja, pegawai hingga penjabat pun menyukainya. Kata warga sekitar dengan makan nasi geghog akan mengurangi rasa pegel linu karena rasanya yang luar biasa pedas.
Sebenarnya cara pembuatan nasi geghog tidaklah sulit, bahan bakunya pun sangat mudah didapat. Hanya bermodalkan beras, terasi, cabe, bawang merah, bawang putih, garam dan ikan teri, maka nasi geghog pun bisa dibuat.
Cara pembuatan nasi geghog :
1. Masak beras hingga setengah matang (karon)
2. Haluskan bumbu (cabe, bawang merah, bawang putih, terasi dan garam)
3. Siapkan ikan teri yang sudah direbus
4. Campurkan bumbu dengan ikan teri
5. Ambil daun pisang sebagai pembungkus nasi, bumbu dan ikan teri
6. Kukus kembali selama 15 menit dan nasi geghog siap dihidangkan
Di Kota Trenggalek sudah banyak yang berjualan nasi geghog namun yang paling terkenal adalah nasi geghog di Srabah Bendungan Trenggalek. Kekhasannya sudah menyebar dan mudah di dapat harganya pun sangat murah hanya dengan mengeluarkan uang Rp 1.000,00 Anda sudah dapat menikmati pedasnya nasi geghog.
Kalau berkunjung ke Trenggalek atau sekadar lewat Trenggalek mampir untuk menikmati nasi geghog ya dijamin ketagihan deh !!!!!…….
HUSBAND OR JOB

Inilah diriku sekarang. Seorang wanita karier yang menghabiskan sebagian waktunya untuk bekerja. Namun takku sadari akibat dari profesiku ini. Sebenarnya aku tak bekerja seharian penuh, hanya dari pukul delapan pagi hingga pukul tiga siang. Namun apa daya hati ini tak kuasa antara suami dan pekerjaan.
            “ Makanlah mas, aku sudah menyiapkannya dari tadi pagi”, tegurku pada mas Ikhwan, suamiku. Aku terus memandangnya berharap masakan yang ku buat dimakan dengan lahap. Detik berganti menit namun makanan yang telah ku hidangkan tak digubrisnya.
            Segelas susu segar diteguknya dengan cepat. “Mas mau kemana? Kenapa tidak sarapan?”, aku mulai gusar saat mas Ikhwan mendorong kursinya ke belakang dan bersiap meninggalkanku.     “Anak didikku perlu ku beri sarapan pelajaran”, jawabnya ketus tanpa memandangku. Aku hanya bisa bernapas berat dan tak bisa mencegahnya pergi.
            Aku bergegas membereskan sisa-sisa makanan dan merapikan alat-alat dapur. Jarum pendek menunjuk diantara angka tujuh dan delapan. Aku cepat-cepat takut telat masuk kantor.
            Sebenarnya suamiku atau aku yang berubah. Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk suamiku. Karena dia ada diurutan ketiga yang wajib aku cintai dan kuhormati setelah Rabb dan Rasul-Nya. Tapi sepertinya suami ku semakin hari semakin berbeda sikap dengan pertama kali kami bertemu. Pertemuan antara kami memang tak seromantis kisah-kisah di novel namun insyaallah pertemuan kami penuh berkah.
* * *
            “Dinda cobalah dulu bertemu dengan pemuda itu, jika tidak cocok ya tidak apa-apa”, tangan halus Umi mengelus-elus kepalaku. Namun aku tak bergeming dan tetap dalam posisiku, tengkurap dan mendekap bantal. Aku jengkel dengan niatan Abi dan Umi menjodohkanku. Aku masih kuliah dan aku ingin menjadi wanita karier.
            “Dinda tak harus menikah sekarang, terserah kapan Dinda mau menikah. Abi dan Umi hanya ingin mengenalkan pada pemuda yang insyaallah soleh, kalaupun Dinda tidak suka ya tidak apa-apa, Sayang”.
            “Dinda ingat riwayat Al-Bukhkari “Wanita itu dinikahi karena empat hal : Karena hartanya, karena garis keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya, maka pilihlah wanita yang baik agamanya maka engkau akan selamat” begitulah Sayang”.
            Senyuman kecil yang selalu Umi perlihatkan. Aku mulai berpikir rencana apa yang kedua orang tua ku akan lakukan. Akhirnya aku menyetujui pertemuan itu.
* * *
            Udara kampus sangat segar memang tak seperti biasa namun pikiran dalam otakku terus berkecamuk dan pikiranku pun tidak tenang. Aku memutuskan untuk mengikuti motivasi training barang dua jam sebelum pulang. Terlambat dalam pertemuan itu tak masalah, pikirku.
            “Suhanaallah ya Ukhti Dinda, mentoringnya keren abis”, bisik teman disebelahku. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Memang mentoring kali ini lain, beliau hampir menyelesaikan skripsi namun kata-kata motivasinya seperti seorang yang bergelar master atau lebih tepatnya ustadz. “Kang Ikhwan itu bukan hanya pandai tapi tampangnya juga oke, wah laki-laki idaman ni”, celoteh temanku lagi. Dia memang tidak bisa berhenti bicara jika masalah laki-laki.
            Segera aku bergegas pulang takut Abi dan Umi marah karena aku terlambat pulang. “Umi pemuda itu gak jadi datang ya?”, aku celingukan mencari tamu yang takku harap kedatangannya.
            Umiku hanya geleng-geleng kepala dan aku pun semakin binggung. “Sejak kapan Dinda masuk rumah gak salam?”, aku langsung melotot, menyadari akan kesalahanku. “Mungkin dia akan datang telat”.
            Senyumku tiba-tiba hilang, lenyap. Dan suara salam dari depan pintu sangat menyentakku. “Assalamu’alaykum”. Keluargaku pun membalas salam dan segera menyambutnya. Tanpa ku palingkan wajah aku segera lari kedalam kamar.
            “Dinda ayo keluar”, Umi sedikit memaksaku. Aku benar-benar malu dengan pertemuan ini. Duh Gusti apa benar ini pemuda yang dimaksud Umi dan Abi , pikiranku bergelora. Aku ragu untuk menemuinya.
            “Bukannya Anda motivator diacara kampus tadi?”, tanyaku dengan malu-malu.
            Dan benar ini bukan hanya pertemuan biasa atau sekadar menawariku jodoh. Kedua orang tua Kang Ikhwan datang dan melamarku.
* * *
            Itulah pertemuan keduaku dengan suami tercinta yang berujung pada pernikahan. Kuliah masih terus berjalan walau aku sudah menikah. Dan semua biaya kuliah ditanggung suamiku.    Hidup kami bisa dikatakan berkecukupan, asalkan kita selalu mensyukuri semua yang diberikan ALLAH maka semua akan terasa indah dan tidak ada yang berat. Begitu juga dengan kehidupan kami. Kami tak mau bergantung dengan orang tua walau kadang masalah keuangan datang mendera.
            Aku sangat beruntung berjodoh dengannya. Dia tak pernah marah apalagi berkata keras padaku. Mungkin jika pendapatnya kurang sepaham denganku dia hanya mendehem itu yang paling banter. Mungkin dia salah satu ikhwan pilihan akhwat. Kami jarang sekali berselisih malah hampir tidak pernah. Pernikahan kami berjalan mulus, kami saling mencintai, menyayangi, menghormati dan saling memberikan hak serta kewajiban. Bahkan banyak dari temanku yang iri dengan cara berkeluarga kami, meskipun kami masih muda kami dapat mengatur segalanya dengan baik.  
Betapa baiknya suami ku. Waktu aku bangun kesiangan karena haid dan terlambat membuat sarapan, suamiku datang ke meja makan dengan senyum dan hanya meminum seteguk air putih.
            Seperti itulah hari-hariku bersama suami tercinta, sangat indah dan berkesan hingga tak terasa wisuda di depan mata. Dan aku juga bertekad ingin membantu keuangan suamiku, namun aku belum mengatakan pendapatku ini pada suami.
* * *
            Ku lirik jam di tangan sudah menujuk angka delapan. Oh astaga aku baru menyadari pulang selarut ini, siapa yang membuatkan makanan untuk suamiku. Pekerjaan yang menumpuk tak bisa ku tinggalkan begitu saja, aku sudah terlalu capek. Tapi hak-hak suami tak bisa ku lupakan begitu saja.
            Segera ku buka pintu rumah dan takku duga masih terkunci. Kenapa suamiku belum pulang jam segini tak seperti biasa, lampu dirumahku pun belum dinyalakan. Kemana suamiku, pikiranku kembali bergentayangan.
            Aku lemparkan tubuhku ke tempat tidur, ku coba luruskan punggungku yang kaku. Aku menatap langit-langit, mencoba menghilangkan beban dan pikiran jahat. Kepalaku terasa pusing dan perutku pun mual. Oh mungkin ini hanya bawaan pikiran. Aku baru ingat harus mempersiapkan makanan untuk suami, mungkin suamiku akan pulang dengan keadaan lapar walau sudah larut malam. Segera ku siapkan hidangan dan menunggu suamiku pulang.
            “Assalamu’alaykum”, terdengar salam dan aku pun segera menyongsong suamiku dengan bahagia. “Wa’alaykumsalam”, wajah suamiku terlihat sangat lelah. Aku tak berani bertanya apa yang terjadi dengan sikapnya yang dingin. Biasanya setiap pulang dia mencium keningku dengan hangat, namun kenapa kali ini tidak, adakah yang aneh dengan suamiku.
            “Mas makanannya sudah siap, kita makan bareng yuk”, tawarku dengan senyuman meski perut sudah meronta-ronta ingin diisi.
            “Makan saja sendiri, aku sudah kenyang tadi makan diluar”, hilang sudah nafsu makanku mendengar jawaban suami seperti itu. Tak terasa air mataku berjatuhan, tapi tetap kusembunyikan dari suami. Dan baru kali ini aku menangis karena sikap suamiku.
            Ku rebahkan tubuh disamping suamiku, namun aku tak berani berkata-kata. Dan kelihatannya suamiku juga sudah tidur, matanya sudah terpejam dan mungkin tak ingin membukanya hanya untukku. “Tadi kau pulang jam berapa?”, terkaanku ternyata salah, suamiku belum tidur dan secara spontan mengeluarkan pertanyaan yang membuatku kaget.
            Aku tak bisa membohonginya, namun aku takut pulang selarut itu karena menurut suamiku jam delapan sudah terlalu larut. “Ta..tadi pulang jam… delapan mas, ada banyak pekerjaan di kantor”, jawabku dengan takut-takut. “Maaf tadi aku juga pulang telat, ada sesuatu hal yang harus ku kerjakan”, jawabnya datar. Aku berpikir kali ini kami impas.
            “Tapi bukannya kau sudah paham aku membolehkanmu bekerja asalkan kau tak lupa waktu, aku masih bisa menopang ekonomi keluarga kita”, kali ini dia membelakangiku.
            “Maafkan aku mas, aku salah”, sengaja ku miringkan badan agar air mataku yang keluar tak diketahuinya.
            “Kalau atasanmu menuntut pekerjaan yang berat dan harus pulang malam lebih baik kau tidak usah kerja, aku tidak rela”, aku hanya terdian membisu tak bisa berkata-kata lagi, namun aku masih terus penasaran apa alasan suamiku juga pulang telat.
            “Tadi mas kemana dulu tak seperti biasa pulang malam?”, tanyaku akhirnya dengan ragu-ragu.
            “Tadi ada urusan”.
“Iya, tapi urusan apa?”.
            “Bukan urusanmu”, jawabnya tanpa memalingkan muka.
            Hari-hari ini mual terus menderaku, mungkin maagku kambuh lagi. Aku tak sempat pergi ke dokter untuk cek kesehatan. Takut pulang telat, pekerjaan kantor yang menumpuk pun aku selesaikan di rumah dan akibatnya suami semakin tak terurus dan dia pun semakin sering pulang telat bahkan pulang malam. Aku memang kesepian jika sepanjang malam tak didampingi suami namun dengan pekerjaanku yang begitu banyak kesepianku semakin berkurang. Hubunganku dengan suami pun tak sedekat dan seromantis dulu bahkan aku sering menanggapi perkara-perkara miring tentang suamiku.
            “Maaf aku pulang telat, tadi ada urusan”, suamiku memulai pembicaraan sebelum kami tertidur.
            “Tak seperti biasanya mas minta maaf, mas kan sering pulang telat”, sindirku.
            “Iya aku memang hampir setiap hari pulang telat karena tak kau perhatikan lagi”.
            “Terus mencari perhatian wanita lain?”.
            “Apa maksudmu mencari perhatian wanita lain”.
            “Tak apa, mas sudah bosan denganku?”,tanyaku dengan was-was.
            “Seharusnya aku yang tanya seperti itu, karena kau tak lagi memperhatikanku”.
            “Aku sibuk dengan pekerjaanku mas”, sanggahku tak mau kalah.
            “Apa aku menyuruhmu bekerja, tidakkan? Masih ingat surah Al-Baqorah ayat 233 “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf” sudah jelaskan? ”.
            Akhirnya aku terdiam. “Kita sudah membuat kesepakatankan, kau boleh bekerja asal tak lupa waktu dan suamimu, dan yang wajib bekerja bukan kamu tapi aku kepala rumah tangga disini”.
            “Tapi aku juga ingin menopang ekonomi keluarga kita dan membantu keduaorangtua kita mas”, belaku. Air mata sudah mulai mengembang di pelupuk.
            “Aku tahu gajimu lebih besar dari gajiku tapi dengan penghasilanku aku mampu memenuhi kebutuhan keluarga kita bahkan membantu keduaorangtua kita, dan kau jangan sampai melupakan kodratmu sebagai wanita”, aku sudah tak tahan, aku menumpahkan air mataku.
            Aku segera teringat sepotong ayat di surah An-Nisa ayat 34 “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan  nuzyusnya maka nasehatilah mereka dan pukullah meraka. Kemudian jika mereka mentaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya”. Mungkin aku terlalu shu’udhon kepada suamiku.
* * *
            Dimanapun, kapanpun, bahkan apa yang sedang kukerjakan selalu tak konsentrasi. Aku selalu terbayang-bayang dengan suamiku. Aku sangat membutuhkannya. Apakah jika aku berubah suamiku juga akan berubah. Aku tak tahu setiap malam suamiku kemana, dia selalu pulang telat. Aku benar-benar sudah tak bisa berpikir jernih lagi. Apalagi ada orang yang terus mengobor-oboriku dengan gosip murahan tentang suamiku. Mungkin aku akan berhenti bekerja atau mencari pekerjaan yang tak terlalu berat.
            “Mas aku berhenti bekerja”, tuturku akhirnya.
            “Kenapa?”.
            “Tak apa, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu lebih lama”.
            Baru kali ini suamiku tersenyum kembali, padahal selama ada masalah ini suamiku jarang bahkan tak pernah senyum padaku.
            “Benarkah?”,
            “Iya, aku sadar kewajibanku bukan mencari nafkah dengan bekerja keras, aku akan menurut apa katamu mas”.
            “Terimakasih sayang”, baru kali ini juga dia mengecup keningku sejak kami ada masalah.
            “Tapi bolehkah aku tahu, kenapa setiap malam kau pulang telat bukankah pekerjaanmu hanya sampai jam satu siang?”.
            Senyum pun ditampilkannya. “Ayo tebak aku kemana?”, suamiku malah mengoda dan mengedipkan matanya. Aku pun semakin binggung.
            “Lebih baik kau cari tahu sendiri, ayo kita tidur aku sudah sangat ngantuk”.
* * *
            Akhirnya aku mencari tahu apa yang dilakukan suamiku. Subhanallah ternyata sepulang dari mengajar dia mancari uang tambahan dengan mengajar les privat sampai sore, sedangkan sore hari kadang dia pulang sampai malam karena dia membantu di panti jompo dengan ikhlas.
            “Mas kenapa kau lakukan itu semua”.
            “Aku mengajar les privat untuk mencari uang tambahan alasannya aku tak ingin penghasilanmu melebihi penghasilanku karena aku takut gara-gara itu kau akan berubah sedangkan aku membantu di panti jompo karena setiap malam aku selalu kesepian, kau tak lagi memperhatikanku hanya pekerjaan yang kau urusi”.
            “Maafin aku mas”, segera ku memeluk suami dan mencium tangannya dengan takzim.
            “Ada kabar gembira lagi mas”.
            “Apa”,wajah suamiku terlihat sangat penasaran
            “Kau akan menjadi seorang Abi”.
“Alhamdulillah Ya Rabb”,takku sangka suamiku segera sujud syukur.
            Aku baru menyadari betapa pentingnya peran suami dan istri di keluarga.
Baik-baiklah terhadap kaum wanita, karena sesungguhnya mereka itu diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya yang paling bengkok diantara tulang rusuk adalah bagian yang paling atas, jika engkau berusaha meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, tapi jika engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok, maka baik-baiklah terhadap kaum wanita”. (Dari riwayat Al-Bukhari)