HILANGNYA SENYUM MANIS MALAIKATKU
Sudah berhari-hari aku
tak melihat senyum manis di sudut bibirnya apalagi di bibir sebenarnya. Aku
tahu dia merasa kehilangan. Aku juga tapi aku bukan merasa kehilangan atas apa
yang dia ratapi tapi aku kehilangan akan dirinya yang seperti tak bisa lagi
tersenyum. Seakan senyumnya menghilang entah ditelan bumi dan ngarai. Aku yang
sejak dulu selalu membuatnya tersenyum sekarang aku tak ada daya untuk
melakukannya bahkan hanya secuil.
Padahal
jiwaku tak pernah meninggalkannya, aku selalu berusaha untuk memenuhi semua
maunya. Aku bahkan rela mati, berkorban untuk dirinya, untuk menjaga
keselamatannya. Aku tak akan rela hidup tanpa senyum dibibir dan jiwanya,
“Refa
makan dulu Sayang”, aku mencoba mendekatinya sekali lagi, sebenarnya sejam lalu
aku juga sudah menawarinya makan tapi dia tak menoleh kepadaku barang sejenak.
Aku berharap kali ini dia mau memakan makanan yang kutawari meski tidak melihat
wajahku.
Dan
berhasil dia menoleh padaku mungkin hanya dua tiga detik namun kembali
termenung dengan pikirannya. “ Refa katakana pada mama apa yang kau mau Nak,
mama akan mencoba memberikanya untukmu”, sekilas Refa menoleh dengan harapan
dihati keinginannya akan terkabul.
“Bicara
Sayang, mama binggung dengan keadaanmu”, aku memcoba mengiba supaya Refa
memperhatikanku.
“Aku
ingin dia kembali”, hanya itu kata yang keluar dari mulut mungil putri semata
wayangku.
***
Refa
adalah anak semata wayangku dari hasil pernikahanku dengan lelaki yang aku
cintai. Papa Refa adalah seorang lelaki yang sangat sibuk namun dia tetap
memperhatikan keluarga ditengah padatnya jadwal kerja. Sedangkan aku hanya
seorang ibu rumah tangga berkesampingan menjaga toko bunga disebelah rumah.
Sehingga akulah orang yang paling dekat dengan Refa. Sekarang umur Refa baru
tujuh tahun dan dia sudah mengalami depresi.
***
“
Refa mau kemana?”, sapaku halus dari depan toko bunga saat aku melihat Refa
keluar dengan kucing kesayangannya Si Dodot. Refa sangat menyukai kucing dan
dia sendiri yang memberikan nama kucingnya itu.
Kaki
mungilnya mulai beranjak meninggalkan pagar rumah, tapi dia tetap mendengar
sapaanku. “ Mau ajak Dodot jalan-jalan Ma”.
Aku
tak tahu bagaimana kronologi kejadiannya, tiba-tiba saja Refa berteriak
histeris. Aku sangat khawatir, aku takut terjadi sesuatu dengan Refa. Jalanan
depan rumah memang lumayan ramai kendaraan. Sontak aku berlari tergopoh-gopoh
menuju tempat Refa tadi berdiri.
Aku
sangat bersyukur tidak ada luka secuilpun yang terjadi pada malaikatku. Sekejap
jantungku berhenti berdetak. Ini anugerah, aku masih diberi kesempatan untuk
menciumi malaikat kecilku yang sangat aku sayangi.
Aku
mencoba mencari apa yang patut dia teriaki dengan mirisnya. Tergeletak tak
bernyawa bahkan sudah tak berbentuk lagi Si Dodot, darah segar mengalir di
sekitar tubuhnya yang perkasa.
Tak
ku dengar lagi tangisan apalagi teriakan dari malaikatku namun ku pandang
matanya yang sayu seakan berkata kembalikan
Dodot padaku, aku sangat membutuhkannya. Matanya nanar menatap sesosok yang
bergelimang darah. Dia terdiam berdiri seperti patung yang siap diterpa hujan
badai atau pun panasnya matahari gurun.
***
Tanah merah masih basah, namun Refa tak beranjak dari
tempatnya. Aku sudah menyuruhnya berkali-kali, namun tetap saja. Akhirnya
papanya yang turun tangan memaksa untuk segera masuk kamar.
Kejadian itu sudah berlangsung hampir enam bulan lalu.
Hingga dia lupa caranya tersenyum dan bercanda ria. Mungkin dia lupa dengan
mama papanya dan aku tak ingin semuanya terjadi dengan malaikatku. Aku ingin
malaikatku mengepakkan sayapnya untuk terbang ke atas awan menari bersama
bintang bukan terpuruk tak berdaya seperti ini. Dia masih punya harapan dia
masih punya hidup dan jalan hidupnya pun masih sangat panjang.
Aku tak ingin rasa kehilangnnya membunuh dirinya sendiri,
bahkan lebih baik aku saja yang mengalami kejadian itu.
Aku sudah beberapa kali membawanya ke psikiater, namun
jawabannya sama saja “ Anak Anda terkena depresi berat”. Dan setiap kali aku
bertanya obat apa yang seharusnya aku berikan agar dia kembali seperti semula.
Dan semuanya juga menjawab“ Tidak ada obat secara khusus tapi kasih sayang
orang tualah yang sangat diperlukan”.
Aku dan suamiku selalu menuruti perintah supaya anak kami
segera kembali. Bahkan suamiku mengurangi jadwal kerja dan meetingnya hanya
untuk berkumpul dengan keluarga dan lebih dekat dengan Refa.
Aku pun seperti itu lebih banyak mengajak Refa
jalan-jalan untuk menghirup udara segar. Seharusnya Refa memang menginjak kelas
dua sekolah dasar, namun aku tak tega untuk memasukkannya sekolah. Sudah ku
coba menyekolahkannya lagi dengan harapan dia bisa bersosialisasi dan melepas
rasa kehilanag itu, namun keadaan semakin memburuk bahkan dia menjerit-jerit di
waktu pelajaran. Dan aku putuskan akulah guru sekaligus ibu yang akan memberikan
kasih sayang yang tiada habisnya.
***
Mata
Refa mulai bercahaya saat memandangku. “Aku ingin dia bersamaku lagi”. Aku
tersontak, dia sudah mengatakannya untuk yang kedua bahwa Refa menginginkan
sesuatu yang telah mati hidup kembali.
“Refa
sayang, sesuatu yang hidup itu pasti akan mati dan akan kembali kepada
Penciptanya, begitu pula dengan kita nanti, tidak ada yang tahu kita akan mati
kapan”, aku mulai berbicara serius. Seharusnya dia tidak diberikan kata-kata
yang berat untuk menjelaskan karena kekuatan
otaknya untuk menangkap masih belum seberapa.
“Aku
ingin dia kembali Ma”, aku senang Refa mulai memohon kepadaku karena aku tahu
dia mulai sadar akan kebinggungannya selama ini.
***
Pagi
ini aku mengajak Refa jalan-jalan bersama dengan papanya juga. Aku ingin
memberikan kejutan untuk Refa dihari spesialnya ini. Hari dimana umurnya mulai
menaik lagi. Aku dan suamiku berencana mengajaknya ke toko hewan.
“
Refa boleh memilih hewan apapun yang Refa suka”,baru kali ini aku melihat
senyumnya kembali, aku sangat senang. Aku dan suamiku membiarka Refa
membelihewan apapun untuk mengobati hatinya yang lara.
Dia
menunjuk ke salah satu keranjang hewan tepat di pojok kanan. “Ma, Pa aku sudah
menemukannya, mbak penjaga tokonya mana? Aku ingin segera membawanya pulang”,
hatiku benar-benar senang bahkan seperti layang-layang yang berhasil menggapai
langit. Dia kembali tersenyum dan aku pun tersenyum.
Namun
aku sungguh sangat terkejut ternyata keranjang hewan yang dia tunjuk tidak ada
sesuatu pun didalamnya, bahkan hewan sebesar kutupun tidak ada…………

Tidak ada komentar:
Posting Komentar