Engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. dan dikatakan kepada mereka " Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya". Demikian itulah kemenangan yang agung. (Al-Hadid : 12)

Selasa, 12 Juni 2012

HUSBAND OR JOB

Inilah diriku sekarang. Seorang wanita karier yang menghabiskan sebagian waktunya untuk bekerja. Namun takku sadari akibat dari profesiku ini. Sebenarnya aku tak bekerja seharian penuh, hanya dari pukul delapan pagi hingga pukul tiga siang. Namun apa daya hati ini tak kuasa antara suami dan pekerjaan.
            “ Makanlah mas, aku sudah menyiapkannya dari tadi pagi”, tegurku pada mas Ikhwan, suamiku. Aku terus memandangnya berharap masakan yang ku buat dimakan dengan lahap. Detik berganti menit namun makanan yang telah ku hidangkan tak digubrisnya.
            Segelas susu segar diteguknya dengan cepat. “Mas mau kemana? Kenapa tidak sarapan?”, aku mulai gusar saat mas Ikhwan mendorong kursinya ke belakang dan bersiap meninggalkanku.     “Anak didikku perlu ku beri sarapan pelajaran”, jawabnya ketus tanpa memandangku. Aku hanya bisa bernapas berat dan tak bisa mencegahnya pergi.
            Aku bergegas membereskan sisa-sisa makanan dan merapikan alat-alat dapur. Jarum pendek menunjuk diantara angka tujuh dan delapan. Aku cepat-cepat takut telat masuk kantor.
            Sebenarnya suamiku atau aku yang berubah. Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk suamiku. Karena dia ada diurutan ketiga yang wajib aku cintai dan kuhormati setelah Rabb dan Rasul-Nya. Tapi sepertinya suami ku semakin hari semakin berbeda sikap dengan pertama kali kami bertemu. Pertemuan antara kami memang tak seromantis kisah-kisah di novel namun insyaallah pertemuan kami penuh berkah.
* * *
            “Dinda cobalah dulu bertemu dengan pemuda itu, jika tidak cocok ya tidak apa-apa”, tangan halus Umi mengelus-elus kepalaku. Namun aku tak bergeming dan tetap dalam posisiku, tengkurap dan mendekap bantal. Aku jengkel dengan niatan Abi dan Umi menjodohkanku. Aku masih kuliah dan aku ingin menjadi wanita karier.
            “Dinda tak harus menikah sekarang, terserah kapan Dinda mau menikah. Abi dan Umi hanya ingin mengenalkan pada pemuda yang insyaallah soleh, kalaupun Dinda tidak suka ya tidak apa-apa, Sayang”.
            “Dinda ingat riwayat Al-Bukhkari “Wanita itu dinikahi karena empat hal : Karena hartanya, karena garis keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya, maka pilihlah wanita yang baik agamanya maka engkau akan selamat” begitulah Sayang”.
            Senyuman kecil yang selalu Umi perlihatkan. Aku mulai berpikir rencana apa yang kedua orang tua ku akan lakukan. Akhirnya aku menyetujui pertemuan itu.
* * *
            Udara kampus sangat segar memang tak seperti biasa namun pikiran dalam otakku terus berkecamuk dan pikiranku pun tidak tenang. Aku memutuskan untuk mengikuti motivasi training barang dua jam sebelum pulang. Terlambat dalam pertemuan itu tak masalah, pikirku.
            “Suhanaallah ya Ukhti Dinda, mentoringnya keren abis”, bisik teman disebelahku. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Memang mentoring kali ini lain, beliau hampir menyelesaikan skripsi namun kata-kata motivasinya seperti seorang yang bergelar master atau lebih tepatnya ustadz. “Kang Ikhwan itu bukan hanya pandai tapi tampangnya juga oke, wah laki-laki idaman ni”, celoteh temanku lagi. Dia memang tidak bisa berhenti bicara jika masalah laki-laki.
            Segera aku bergegas pulang takut Abi dan Umi marah karena aku terlambat pulang. “Umi pemuda itu gak jadi datang ya?”, aku celingukan mencari tamu yang takku harap kedatangannya.
            Umiku hanya geleng-geleng kepala dan aku pun semakin binggung. “Sejak kapan Dinda masuk rumah gak salam?”, aku langsung melotot, menyadari akan kesalahanku. “Mungkin dia akan datang telat”.
            Senyumku tiba-tiba hilang, lenyap. Dan suara salam dari depan pintu sangat menyentakku. “Assalamu’alaykum”. Keluargaku pun membalas salam dan segera menyambutnya. Tanpa ku palingkan wajah aku segera lari kedalam kamar.
            “Dinda ayo keluar”, Umi sedikit memaksaku. Aku benar-benar malu dengan pertemuan ini. Duh Gusti apa benar ini pemuda yang dimaksud Umi dan Abi , pikiranku bergelora. Aku ragu untuk menemuinya.
            “Bukannya Anda motivator diacara kampus tadi?”, tanyaku dengan malu-malu.
            Dan benar ini bukan hanya pertemuan biasa atau sekadar menawariku jodoh. Kedua orang tua Kang Ikhwan datang dan melamarku.
* * *
            Itulah pertemuan keduaku dengan suami tercinta yang berujung pada pernikahan. Kuliah masih terus berjalan walau aku sudah menikah. Dan semua biaya kuliah ditanggung suamiku.    Hidup kami bisa dikatakan berkecukupan, asalkan kita selalu mensyukuri semua yang diberikan ALLAH maka semua akan terasa indah dan tidak ada yang berat. Begitu juga dengan kehidupan kami. Kami tak mau bergantung dengan orang tua walau kadang masalah keuangan datang mendera.
            Aku sangat beruntung berjodoh dengannya. Dia tak pernah marah apalagi berkata keras padaku. Mungkin jika pendapatnya kurang sepaham denganku dia hanya mendehem itu yang paling banter. Mungkin dia salah satu ikhwan pilihan akhwat. Kami jarang sekali berselisih malah hampir tidak pernah. Pernikahan kami berjalan mulus, kami saling mencintai, menyayangi, menghormati dan saling memberikan hak serta kewajiban. Bahkan banyak dari temanku yang iri dengan cara berkeluarga kami, meskipun kami masih muda kami dapat mengatur segalanya dengan baik.  
Betapa baiknya suami ku. Waktu aku bangun kesiangan karena haid dan terlambat membuat sarapan, suamiku datang ke meja makan dengan senyum dan hanya meminum seteguk air putih.
            Seperti itulah hari-hariku bersama suami tercinta, sangat indah dan berkesan hingga tak terasa wisuda di depan mata. Dan aku juga bertekad ingin membantu keuangan suamiku, namun aku belum mengatakan pendapatku ini pada suami.
* * *
            Ku lirik jam di tangan sudah menujuk angka delapan. Oh astaga aku baru menyadari pulang selarut ini, siapa yang membuatkan makanan untuk suamiku. Pekerjaan yang menumpuk tak bisa ku tinggalkan begitu saja, aku sudah terlalu capek. Tapi hak-hak suami tak bisa ku lupakan begitu saja.
            Segera ku buka pintu rumah dan takku duga masih terkunci. Kenapa suamiku belum pulang jam segini tak seperti biasa, lampu dirumahku pun belum dinyalakan. Kemana suamiku, pikiranku kembali bergentayangan.
            Aku lemparkan tubuhku ke tempat tidur, ku coba luruskan punggungku yang kaku. Aku menatap langit-langit, mencoba menghilangkan beban dan pikiran jahat. Kepalaku terasa pusing dan perutku pun mual. Oh mungkin ini hanya bawaan pikiran. Aku baru ingat harus mempersiapkan makanan untuk suami, mungkin suamiku akan pulang dengan keadaan lapar walau sudah larut malam. Segera ku siapkan hidangan dan menunggu suamiku pulang.
            “Assalamu’alaykum”, terdengar salam dan aku pun segera menyongsong suamiku dengan bahagia. “Wa’alaykumsalam”, wajah suamiku terlihat sangat lelah. Aku tak berani bertanya apa yang terjadi dengan sikapnya yang dingin. Biasanya setiap pulang dia mencium keningku dengan hangat, namun kenapa kali ini tidak, adakah yang aneh dengan suamiku.
            “Mas makanannya sudah siap, kita makan bareng yuk”, tawarku dengan senyuman meski perut sudah meronta-ronta ingin diisi.
            “Makan saja sendiri, aku sudah kenyang tadi makan diluar”, hilang sudah nafsu makanku mendengar jawaban suami seperti itu. Tak terasa air mataku berjatuhan, tapi tetap kusembunyikan dari suami. Dan baru kali ini aku menangis karena sikap suamiku.
            Ku rebahkan tubuh disamping suamiku, namun aku tak berani berkata-kata. Dan kelihatannya suamiku juga sudah tidur, matanya sudah terpejam dan mungkin tak ingin membukanya hanya untukku. “Tadi kau pulang jam berapa?”, terkaanku ternyata salah, suamiku belum tidur dan secara spontan mengeluarkan pertanyaan yang membuatku kaget.
            Aku tak bisa membohonginya, namun aku takut pulang selarut itu karena menurut suamiku jam delapan sudah terlalu larut. “Ta..tadi pulang jam… delapan mas, ada banyak pekerjaan di kantor”, jawabku dengan takut-takut. “Maaf tadi aku juga pulang telat, ada sesuatu hal yang harus ku kerjakan”, jawabnya datar. Aku berpikir kali ini kami impas.
            “Tapi bukannya kau sudah paham aku membolehkanmu bekerja asalkan kau tak lupa waktu, aku masih bisa menopang ekonomi keluarga kita”, kali ini dia membelakangiku.
            “Maafkan aku mas, aku salah”, sengaja ku miringkan badan agar air mataku yang keluar tak diketahuinya.
            “Kalau atasanmu menuntut pekerjaan yang berat dan harus pulang malam lebih baik kau tidak usah kerja, aku tidak rela”, aku hanya terdian membisu tak bisa berkata-kata lagi, namun aku masih terus penasaran apa alasan suamiku juga pulang telat.
            “Tadi mas kemana dulu tak seperti biasa pulang malam?”, tanyaku akhirnya dengan ragu-ragu.
            “Tadi ada urusan”.
“Iya, tapi urusan apa?”.
            “Bukan urusanmu”, jawabnya tanpa memalingkan muka.
            Hari-hari ini mual terus menderaku, mungkin maagku kambuh lagi. Aku tak sempat pergi ke dokter untuk cek kesehatan. Takut pulang telat, pekerjaan kantor yang menumpuk pun aku selesaikan di rumah dan akibatnya suami semakin tak terurus dan dia pun semakin sering pulang telat bahkan pulang malam. Aku memang kesepian jika sepanjang malam tak didampingi suami namun dengan pekerjaanku yang begitu banyak kesepianku semakin berkurang. Hubunganku dengan suami pun tak sedekat dan seromantis dulu bahkan aku sering menanggapi perkara-perkara miring tentang suamiku.
            “Maaf aku pulang telat, tadi ada urusan”, suamiku memulai pembicaraan sebelum kami tertidur.
            “Tak seperti biasanya mas minta maaf, mas kan sering pulang telat”, sindirku.
            “Iya aku memang hampir setiap hari pulang telat karena tak kau perhatikan lagi”.
            “Terus mencari perhatian wanita lain?”.
            “Apa maksudmu mencari perhatian wanita lain”.
            “Tak apa, mas sudah bosan denganku?”,tanyaku dengan was-was.
            “Seharusnya aku yang tanya seperti itu, karena kau tak lagi memperhatikanku”.
            “Aku sibuk dengan pekerjaanku mas”, sanggahku tak mau kalah.
            “Apa aku menyuruhmu bekerja, tidakkan? Masih ingat surah Al-Baqorah ayat 233 “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf” sudah jelaskan? ”.
            Akhirnya aku terdiam. “Kita sudah membuat kesepakatankan, kau boleh bekerja asal tak lupa waktu dan suamimu, dan yang wajib bekerja bukan kamu tapi aku kepala rumah tangga disini”.
            “Tapi aku juga ingin menopang ekonomi keluarga kita dan membantu keduaorangtua kita mas”, belaku. Air mata sudah mulai mengembang di pelupuk.
            “Aku tahu gajimu lebih besar dari gajiku tapi dengan penghasilanku aku mampu memenuhi kebutuhan keluarga kita bahkan membantu keduaorangtua kita, dan kau jangan sampai melupakan kodratmu sebagai wanita”, aku sudah tak tahan, aku menumpahkan air mataku.
            Aku segera teringat sepotong ayat di surah An-Nisa ayat 34 “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan  nuzyusnya maka nasehatilah mereka dan pukullah meraka. Kemudian jika mereka mentaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya”. Mungkin aku terlalu shu’udhon kepada suamiku.
* * *
            Dimanapun, kapanpun, bahkan apa yang sedang kukerjakan selalu tak konsentrasi. Aku selalu terbayang-bayang dengan suamiku. Aku sangat membutuhkannya. Apakah jika aku berubah suamiku juga akan berubah. Aku tak tahu setiap malam suamiku kemana, dia selalu pulang telat. Aku benar-benar sudah tak bisa berpikir jernih lagi. Apalagi ada orang yang terus mengobor-oboriku dengan gosip murahan tentang suamiku. Mungkin aku akan berhenti bekerja atau mencari pekerjaan yang tak terlalu berat.
            “Mas aku berhenti bekerja”, tuturku akhirnya.
            “Kenapa?”.
            “Tak apa, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu lebih lama”.
            Baru kali ini suamiku tersenyum kembali, padahal selama ada masalah ini suamiku jarang bahkan tak pernah senyum padaku.
            “Benarkah?”,
            “Iya, aku sadar kewajibanku bukan mencari nafkah dengan bekerja keras, aku akan menurut apa katamu mas”.
            “Terimakasih sayang”, baru kali ini juga dia mengecup keningku sejak kami ada masalah.
            “Tapi bolehkah aku tahu, kenapa setiap malam kau pulang telat bukankah pekerjaanmu hanya sampai jam satu siang?”.
            Senyum pun ditampilkannya. “Ayo tebak aku kemana?”, suamiku malah mengoda dan mengedipkan matanya. Aku pun semakin binggung.
            “Lebih baik kau cari tahu sendiri, ayo kita tidur aku sudah sangat ngantuk”.
* * *
            Akhirnya aku mencari tahu apa yang dilakukan suamiku. Subhanallah ternyata sepulang dari mengajar dia mancari uang tambahan dengan mengajar les privat sampai sore, sedangkan sore hari kadang dia pulang sampai malam karena dia membantu di panti jompo dengan ikhlas.
            “Mas kenapa kau lakukan itu semua”.
            “Aku mengajar les privat untuk mencari uang tambahan alasannya aku tak ingin penghasilanmu melebihi penghasilanku karena aku takut gara-gara itu kau akan berubah sedangkan aku membantu di panti jompo karena setiap malam aku selalu kesepian, kau tak lagi memperhatikanku hanya pekerjaan yang kau urusi”.
            “Maafin aku mas”, segera ku memeluk suami dan mencium tangannya dengan takzim.
            “Ada kabar gembira lagi mas”.
            “Apa”,wajah suamiku terlihat sangat penasaran
            “Kau akan menjadi seorang Abi”.
“Alhamdulillah Ya Rabb”,takku sangka suamiku segera sujud syukur.
            Aku baru menyadari betapa pentingnya peran suami dan istri di keluarga.
Baik-baiklah terhadap kaum wanita, karena sesungguhnya mereka itu diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya yang paling bengkok diantara tulang rusuk adalah bagian yang paling atas, jika engkau berusaha meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, tapi jika engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok, maka baik-baiklah terhadap kaum wanita”. (Dari riwayat Al-Bukhari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar