Engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. dan dikatakan kepada mereka " Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya". Demikian itulah kemenangan yang agung. (Al-Hadid : 12)

Jumat, 08 Juni 2012

LANGKAH MENJADI PEMIMPIN

Seorang calon pemimpin yang kharismatik tentu harus memulai karier kepemimpinannya dengan belajar memimpin. Sederhananya syarat menjadi pemimpin ada tiga yaitu rendah hati dan jujur, cerdas akal serta memiliki keberanian.
            Dalam kenyataannya, pemimpin diharap untuk menggalang dukungan sebab seorang pemimpin tidak ada artinya tanpa kerjasama dan dukungan dari pendukungnya. Kelompok pendukung itulah yang membuatnya menjadi pemimpin yang sebenarnya. Oleh karena itu diperlukan dukungan yang efektif dan efisien.
            Dukungan terbaik adalah yang diperoleh secara terbuka dan penuh kesadaran, tanpa paksaan atau tipu muslihat. Jika tujuan dan motif positif yang dikembangkan dan dimanfaatkan sesuai dengan tujuan, maka akan diperoleh apa yang dicita-citakannya.
            Beberapa contoh sikap menjadi pemimpin yang lebih baik :
1.      Tidak menyampaikan perintah dengan nada seorang penguasa
Kebanyakan orang tidak suka diperlakukan sebagai bawahan, pun orang tidak suka dipimpin atau dikuasai oleh seorang yang arogan. Orang tidak suka diperlakukan tidak senonoh seperti perlakuan seorang pemimpin yang otoriter kepada bawahannya.
Seharusnya dibiasakan menyampaikan perintah seperti menyampaikan sebuah permintaan atau sebagai keputusan bersama. Dengan sikap seperti itu orang akan menerima perintah dengan sungguh-sungguh.
Tidak ada yang menyamai rendahnya perasaan ketika seorang harus tunduk kepada sebuah ultimatum. Setiap dukungan yang diperoleh dari ultimatum bisa dipastikan berangkat dari keterpaksaan dan perasaan tidak rela.
2.      Menggunakan teknik “kita”
Seorang pemimpin yang baik akan lebih menyukai kata “kita” daripada “Anda” untuk memberikan perintah. Dengan menggatikan kata “kita” permintaan kerjasama yang dilakukan dengan orang lain akan lebih efektif karena merasa adanya kepentingan bersama.
3.      Variasi penggunaan teknik
Menyampaikan perintah dengan pertanyaan misalnya saja “Apakah menurut Anda kita harus melakukan sesuatu untuk melakukan perubahan?” atau “Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang lebih?”. Pertanyaan seperti ini memerlukan keputusan. Orang lain merasa orang yang memberi tugas menghargainya karena menanyakan pendapatnya sehingga pekerjaan akan terselesaikan dengan baik.
4.      Belajar mendelegasikan wewenang
Pemimpin yang tidak bisa mendelegasikan pekerjaan akan menghabiskan banyak waktu untuk bekerja meski tugas paling mudah sekalipun. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berusaha mendelegasikan pekerjaan dengan baik, mempercayai bawahannya atau anak buahnya dengan sepenuh hati
5.      Belajar memuji orang lain
Kebanyakan orang akan senang bila mendapat pujian. Meskipun sudah mendapat uang lembur dan sejenisnya orang lain akan merasa tersanjung bila pemimpin menghargai pekerjaannya.
6.      Menyelesaikan masalah dengan cepat
Jangan membiarkan situasi yang buruk akan menjadi lebih kritis karena bila dibiarkan yang menjadi korban pertama adalah pemimpin. Sebagai seorang pemimpin dituntut untuk bersikap terbuka. Apapun kekurangannya harus siap mendapat kritikan dari bawahan bahkan harus siap melayani berbagai dialog dari bawahannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar