Engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. dan dikatakan kepada mereka " Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya". Demikian itulah kemenangan yang agung. (Al-Hadid : 12)

Rabu, 24 Agustus 2011

kegiatan menulis



DI NEGERI SAKURA
Hari ini ku jejekkan kaki di negara orang, Negeri Sakura yang penuh dengan kesibukannya sendiri. Musim dingin telah menjalar diseluruh sudut kota termasuk tempat tinggal baruku. Di dekat pusat kota Kyoto diantara sela – sela jalan kecil itulah tempat tinggalku bersama dengan keenam teman cewek. Aku seperti terdampar dikegelapan labirin tak tahu akan berbuat apa dengan suasana yang sangat asing dan teman yang sebelumya tak ku kenal juga. Aku satu – satunya cewek dari Indonesia.
            Setelah lebih dari seminggu beradaptasi di sini aku mulai membiasakan diri dengan teman-temanku dan cuaca yang berganti setiap empat bulan sekali. Ternyata mereka cepat akrab denganku, meski dari berbagai negara kami saling menghormati budaya dan kepercayaan masing-masing.Aku mulai kerasan tinggal di sini meski baru sekali keluar membeli perlengkapan. Mungkin hari –hariku akan berubah di sini.
            Terpaksa ku tinggalkan keluarga,kekasih dan teman di Indonesia untuk meneruskan perjuanganku belajar di Negeri Sakura ini. Meski berat tapi aku yakin bisa hidup di sini. Tak akan ku sia-siakan beasiswa yang ku dapat. Aku harus bersungguh-sungguh belajar dan cepat kembali ke tanah air.Hari-hariku hanya ku isi dengan belajar dan bekerja part time untuk menghasilkan uang tambahan.
            Kuliah ku pun  mulai ada sedikit hambatan dalam proses pembelajaran karena tidak semua pengajar  menggunakan bahasa Internasional terkadang mereka mengajar dengan bahasa Jepang dan menuliskan huruf dalam katakana, hiragana maupun kanji. Sedangkan aku tak terlalu lihai dalam huruf-huruf seperti itu. Untung ada seorang teman yang sangat baik. Namanya Tatsuya, sejak hari pertama dia selalu duduk di sebelahku.Dia yang selalu mengajariku. Dia tinggal dekat dengan University of Kyoto kampus kami. Dia tinggal denagn neneknya karena rumah orang tuanya lumayan jauh.
            Dia bukan hanya teman tapi sahabat yang sangat perhatian. Jarak rumahnya tak jauh dari tempat tinggalku. Tak jarang dia berkunjung dan membawakanku kue. Perhatiannya kadang membuatku segan dengan teman-teman yang lain. Bahkan ada yang menganggap kami ada hubungan khusus. Aku pun semakin diiri hatikan teman cewek dikelasku karena Tatsuya sering memperhatikan ku dari pada mereka. Memang tidak bisa dielakkan Tatsuya punya wajah yang cakep daripada teman yang lain.
            “Hari ini tak ada acarakan?”, tanya Tatsuya pada ku setelah pelajaran usai.
            “Tidak”, jawabku singkat sambil menyandang tas untuk melangkah keluar kelas.
            “Aku ingin mengajakmu nonton opera, mungkin kau belum pernah nonton opera sebulumnya". Memang benar sudah hampir delapan bulan di sini aku tak pernah menonton opera atau sekadar pergi ke bioskop. Tapi aku punya harga diri. Aku langsung menolak dengan halus. Ada kekecewaan diwajah Tatsuya.
            Ternyata Tatsuya tak menyerah begitu saja keesokannya dan lusa dia tetap mengajakku keluar. Bahkan setiap pagi di depan pintu kamar ku sudah tersuguh beberapa kado dan makanan. Tapi kado-kado itu hanya kusimpan tanpa membuka bungkusnya hanya saja tercetak nama pengirimnya. Aku yakinkan diriku bahwa aku tak menaruh hati pada Tatsuya karena perhatiannya, aku punya semua orang yang menungguku disuatu tempat yang tak harus ku kecewakan. Namun sepertinya hati ini berkata lain benteng pertahanan ku agar tak merasa tersanjung akan perhatian Tasuya runtuh. Aku semakin dekat dengannya bahkan ajakan nonton dan dinner pun ku sanggupi.
            Aku memang tak pandai membuat masakan jepang tapi dengan senang hati Tatsuya mengajari ku dan sebagai imbalan aku harus membuatkan masakan khas Indonesia untuknya. Dia juga semakin sering datang ketempat tinggalku bahkan ke tempat kerjaku.
            Hari ini pelajaran pertama Pak Ogitsuro, guru favorit Tatsuya. Dia selalu berangkat awal waktu palajaran ini. Tapi hari ini aku tak melihatnya duduk disebelahku. Mungkin ada di belakang pikirku. Ternyata tak ada juga sampai pelajaran Pak Ogitsuro berakhir.Hanya ada Kira disebelah kananku dan Raimond berkebangsaan German disebelah kiriku. Biasanya Tatsuya selalu memberi kabar kalau dia tak masuk, tapi kenapa hari ini tidak. Ada sedikit rasa kecewa dengan hari ini.
            Tujuh hari Tatsuya tak masuk kuliah. Aku binggung sendiri, tak sedikit dari teman-teman yang menanyakannya padaku karena aku teman terdekatnya bahkan ada yang menganggap kami kekasih.  Hari ini aku putuskan akan mendatangi rumah neneknya. Tapi tak ada seorang pun di rumah yang terlihat tidak terawat itu. Aku menanyakan pada tetangga sebelah tapi tak ada yang tahu. Sebulan sudah aku tak melihat Tatsuya, aku semakin menyadari kalau aku punya special something dengannya. Aku khawatir dan merindukan kehangatan perhatiannya. Sampai suatu sore yang panas aku mendapat surat dari seorang yang tak ku kenal. Langsung saja ku buka isi surat itu.
            Hai..... lama ya tidak bertemu,aku rindu denganmu. Setiap hari aku memikirkanmu apa kau juga memikirkanku??? Bagaimana kabarmu dan apa kau senang dengan hadiah yang ku berikan dulu? Sekarang aku tak bisa mengirimkanmu hadiah maafkan aku. Lain kali akan ku kirimkan surat lagi jika masih sempat.
Salam hangat
Tatsuya 
            Segera aku pergi kerumah nenek Tatsuya siapa tahu dia sudah pulang dari pergi jauh. Namun tak ku dapati siapapun dirumah itu. Hanya ada hawa panas yang melingkupi hatiku. Kenapa hanya seperti itu isi surat dari Tatsuya. Dimana dia sekarang? Ada apa dengan kata-kata terakhir dalan surat itu? Kenapa jika sempat?Apa dia sudah bosan denganku? Hingga tak mau kembali menemaniku disini. Berbagai pertanyaan berkecamuk dihatiku. Aku benar-benar merasa kalut.
            Di minggu berikutnya aku mendapatkan surat lagi. Segera ku robek amplop yang membatasi isi surat.
            Hai..... aku harap keadaanmu baik-baik saja. Rinduku padamu semakin memuncak, sebenarnya aku ingin bertemu denganmu tapi entah kenapa rasanya tak sanggup. Sudah dulu ya. Aku sayang padamu
Denagn cinta
Tatsuya
            Ada apa denagn Tatsuya , dimana aku bisa bertemu dengan mu, aku sangat merindukanmu. Tulisan Tatsuya tak seperti biasa lebih jelek dan awut-awutan dari biasanya, ada apa ini? Siapa yang harus kutanya, aku benar-benar resah. Keesokan datang lagi orang yang mengantar surat Tatsuya seorang laki-laki yang lebih muda dari Tatsuya.
            “Apa kau tahu dimana Tatsuya?”, aku mencegah orang yang mengirim surat itu pergi. Dia hanya menunduk dan seperti enggan menjawab pertanyaanku.
            “Bisa kau antar aku bertemu dengannya, tolonglah”, pintaku lagi dengan derai tangis.
            “Bacalah dulu surat itu”, jawabnya dengan mata berbinar seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
            Hai..... aku ingin kakiku bertemu denganmu tapi tak bisa,aku ingin lenganku memelukmu tapi tak bisa, aku ingin mulutku mengucapkan cinta padamu tapi tak bisa, aku ingin jalan dan nonton denganmu tapi tak bisa, aku ingin mataku melihat sakura denganmu tapi tak bisa, aku ingin makan soto dari negaramu tapi tak bisa, aku ingin kuliah dan duduk disampingmu tapi tak bisa, aku ingin makan sushi denganmu tapi tak bisa, aku ingin telingaku mendengar musik jawa,jepang dan korea kesukaanmu tapi tak bisa, aku ingin hidungku membau musim gugur yang akan tiba denganmu tapi aku tak bisa,semuanya sudah tak bisa ku lakukan tapi aku masih bisa menulis surat terakhirku untukmu dan mengucap sayang dan cinta dengan tangan yang sebentar lagi tak bernyawa.
            Aku tahu kau bimbang dalam mencintaiku karena ku tahu ada seseorang dihatimu, aku salah telah memasuki hatimu tapi aku bener-benar mencintaimu. Tapi ingat kau tak harus mencintaiku. Kau masih punya seseorang di negaramu yang selalu siap menunggumu. Kau masih bisa melakukan semuanya yang tak bisa ku lakukan. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Tuntaskan studymu dan segera kembali ke negaramu ada banyak orang yang sangat merindukanmu. Tapi jangan lupa bawalah kenanganku bersamamu dimana saja kau berada. Jangan sampai melupakan Tatsuya yang bodoh, lemah dan menyebalkan ini. Kau boleh menganggapku sebagai apa saja dihatimu. Entah itu teman, sahabat atau mungkin kekasih yang telah tiada. Maaf aku hanya bisa menulis sampai disini jari-jariku sudah kelu dan sepertinya ada yang mau menjemputku.Aku selalu menyayangi dan mencintaimu.
Cinta dan sayangmu
Tatsuya
            Deraian air mata jatuh di antara lembar kertas. Hanya dengan dua paragraf  aku menyadari keadaan. Tapi aku masih harus mempertanyakan dimana Tatsuya sekarang.
            “Apa aku bisa bertemu Tatsuya? Tolong kasih tahu dimana dia dan apa yang terjadi dengannya”, suaraku masih dipenuhi isak tangis yang sulit menghilang.
            “Aku bisa mengantarmu ke tempat Tatsuya sekarang meski dia melarangku melakukannya”.
            “Dan kau ini siapa?”.
            “Aku adik Tatsuya, aku tahu Tatsuya sangat mencintaimu”.
            Setega itukah Tatsuya padaku. Aku membuntuti kemana laki-laki itu pergi. Kenapa ketempat sepi dan jauh dari jalanan. Tepat di bawah pohon sakura yang sedang gugur aku berhenti dan memperhatikan nisan batu dengan tanah masih segar. Air mataku tak bisa ku tahan lagi, secepat itukah Tatsuya pergi? Siapa yang akan memperhatikanku lagi di negar asing ini?
            “Sudah sejak lama Tatsuya menderita kanker otak, sejak dia mendengar kabar dan vonis dokter dia menjadi seorang yang pemalu dan mengurung diri. Keluarga jadi binggung dengan sikapnya, terlebih sejak dia memutuskan tinggal dengan nenek di Kyoto. Tapi semua untuk kebahagiaan Tatsuya. Dan satu-satunya orang yang ada di hati Tatsuya adalah kau. Sejak mengenalmu semangat hidup Tatsuya bangkit. Dia menjadi lebih energik dan ceria dengan penyakitnya. Kau yang memberinya semangat”.
            Hanya uraian air mata yang bisa kupersembahkan untuk Tatsuya. Hanya rinaian tangis yang tiada ujung. Bahkan sering aku mengecewakannya. Sering aku menolak ajakannya. Namun semangat hidup Tatsuya didapatnya dariku. Aku benar-benar menyesal dengan sikapku pada Tatsuya selama ini.
Aku tak boleh terlalu pilu dengan keadaan ini. Aku masih beruntung ada seseorang yang sangat memperhatikan ku disini ataupun di tanah air. Aku sadar memberikan sedikit hatiku pada Tatsuya yang seharusnya tak akan kuberikan. Aku harus segera menyelesaikan studyku di sini dan segera kembali ke tanah air. Dan aku akan membawa kenangan Tatsuya ke tanah air. Pernah suatu saat dia ingin pergi ke Indnesia dan mempelajari budayaku. Namun dia pergi lebih dulu sebelum sempat aku mememerkan apapun ke Tatsuya. Semoga kau bahagia di alam sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar