Engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. dan dikatakan kepada mereka " Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya". Demikian itulah kemenangan yang agung. (Al-Hadid : 12)

Senin, 22 Juli 2013

TEGUH HATI CACAT DIRI



Daun itu akhirnya gugur juga dan pasti akan gugur. Dia meninggalkan pohon yang berdiri kokoh yang selalu menopangnya yang selalu melindunginya dari terjangan angin namun apa daya umur daun semakin menua dan akhirnya meninggalkan si pohon. Dan kita pun akan semakin menua yang akan meninggalkan kehidupan yang fana ini. Kehidupan dunia bukanlah segala-galanya, hanya sementara hanya sebuah mimpi tapi banyak yang mengagungkan kehidupan dunia ini. Ah…benarkah hidup hanya sementara.
          Aku merasakannya sekarang, aku masih hidup, ya aku masih hidup. Namun entah di mana diriku saat ini tak ada bunda dan ayah yang menemaniku. Aku sendirian tapi aku masih hidup aku yakin itu. Aku merasakan ketakutan yang sangat, tidak dingin dan tidak panas tak ada seorang pun dan yang ku lihat hanya samudra yang terhampar luas dengan langit yang membiru. Indah sekali jika kalian bisa melihatnya. Namun hanya beberapa menit saja dan aku tersadarkan oleh bau perabot rumah sakit dan terdengar juga sesenggukan tangis. Ku coba untuk menikmati indahnya samudra namun sudah tak bisa. Aku mulai membuka mata namun sakit. Ah aku ingat aku di rumah sakit tapi sedang apa diriku?
          “Sayang ini bunda nak, bicaralah”, suara bundaku yang sangat lembut. Oh aku tersadar mungkin aku sedang sakit. Aku melihat bunda bercucuran air mata .Disebelahnya ayahku yang selalu setia mendampingi bunda. Aku mencoba tersenyum tapi tangis kedua malaikatku semakin menjadi. Entah apa yang terjadi.
          Dokter cantik itu memeriksaku, dia tersenyum. Umurnya mungkin seumuran bundaku tapi masih cantik karena kerudung. Dia tersenyum padaku dan aku membalasnya.
“Kau sudah sadarkan?”, tanya dokter itu. Aku tersenyum dan mengangguk.
“Kau masih ingat siapa mereka? dan sekarang dimana?”, tanya dokter itu lagi sembari menunjuk ke orang tua ku. Aku kembali mengangguk dan tersenyum.
“Sekarang cobalah bicara”, perintahnya. “Iya dok”, jawabku pias.
“Baik sekarang gerakkan semua anggota badanmu”, perintahnya lagi.
Aku tersenyum lagi, masih terpesona dengan dokter itu. Ku gerakkan tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan dan Ya Allah apa yang terjadi. Aku melihat kearah orang tua ku, mereka terisak lagi dan ku pandang dokter di sebelahku, tatapannya sayu. Aku memandangi mereka semua secara bergantian tak ada yang mau bicara, aku lelah menunggu. Air mataku pun mengalir deras tanpa isakan.
Bunda segera memelukku dengan uraian air mata, ayah pergi meninggalkan ruangan dengan terisak. Aku seperti patung hanya membisu dan tak berani bergerak lagi hanya mataku yang bekerja mendorong air-air ini untuk keluar lebih banyak.
“Sabar ya Sayang”, dokter itu ikut memelukku. Aku serasa dicekik dan tak bisa bernafas. Oh ingin ku ulangi lagi mimpiku melihat langit luas dan samudra, tak ingin kembali lagi kesini.
“Aku ingin melihatnya”, suaraku serak. Ku tabahkan diriku, dokter mulai membuka selimut yang menutup kakiku. Ya Allah inikah Kuasa Mu. Hanya satu kaki yang terlihat dan entah yang satunya tak ada seperti mimpi tapi inilah yang terjadi. Bunda kembali memelukku erat menguatkanku agar aku tak jatuh, tapi aku hanya tersenyum dengan air mata yang semakin banyak.
“Maafkan kami harus mengamputasi kakimu, tapi percayalah ini adalah tanda kasih sayang Allah pada umatnya yang beriman”.
“Iya terimakasih dok. Insyaallah saya bisa berbesar hati dok”, ucapku dengan hati yang tak karuan.
“Jangan patah semangat,semua  ini bukan alasan untuk melemahkan semangat dan imanmu sayang”, kata dokter itu sebelum meninggalkan ruangan.
Bunda masih dengan isakannya. “Bunda insyallah dinda menerima kok, jangan nangis lagi ya, Ayah tolong jangan perlihatkan air matamu itu akan semakin menyakitkan buatku”.
Ayah dan bunda memelukku erat.
Aku tetap aku meski satu kakiku telah diambil Allah. Aku berusaha ikhlas dan sabar meski berat. Aku adalah seorang aktivis kerohanian kampus, temanku banyak dan mereka selalu mensupportku. Aku senang mereka selelu mendatangiku. Aku ingat waktu itu sepulang dari kampus aku mengendarai motor dan hilang keseimbangan ditengah jalan. Inilah ujian dan ujian beratku.
Sudah seminggu ini aku di rumah sakit belum diperbolehkan untuk pulang. Tak sedikit dari teman-teman yang menjengukku, memberikanku semangat hingga bercanda bersama. Namun ada satu orang yang tak kunjung datang padahal kedatangannya selalu ku nantikan.
“Dari kemarin kok aku tak melihatnya ya”, aku memberikan kode pada sabahatku.
“Ehem cie…iya ya aku juga jarang lihat dikampus juga lho”, jawabnya santai dengan senyum mengejek.
“Mungkin lagi sibuk dengan amanahnya kali ya”, tebakku positif thinking.
“May be yes may be no, soalnya dalam acara apapun dia gak keliatan tu”.
“Ya sudahlah. Ayo antar aku ke taman belakang, disana tamannya bagus loh”, ajakku pada sahabatku.
Ya dia adalah sosok lelaki yang membuatku terpana sejak maba. Karekternya yang kuat, aktif dan berprestasi selalu dikerubungi teman-temannya. Dia adalah patnerku dalam organisasi kerohanian. Tak sedikit yang kagum dengannya, mulai dari penampilan hingga otaknya yang sangat brilian mampu membuat cewek-cewek sampai aktivis kerohanian klepek-klepek.
Aku memang salah satu wanita yang dekat dengannya mungkin karena patner. Namun menurutku bukan itu saja dia sering mengirimiku pesan bahkan telpon dari yang membicarakan program kerja hingga yang membicarakan masalah pribadi seperti kuliah dan kehidupan sehari-hari. Dan memang aku ada kecenderungan dengannya. Sebut saja namanya Fiki.
Semakin hari semakin ku tunggu kedatangan Fiki namun tak kunjung datang jua. Hingga suatu hari teman di organisasi kerohanianku menjengukku dengan titipan surat dari Fiki.
Kurang lebih beginilah isi suratnya.
Maaf aku baru bisa mengirimi mu surat. Jangan heran kalau nomor handphoneku tak aktif, untuk itulah aku berkirim surat. Bukan karena tak kenal teknologi tapi agar lebih romantis hehehehe. Oh ya bagaimana kabarmu? Pasti kau sedang memikirkan proker kerja kitakan? Sekali lagi maaf aku tak bisa mendampingimu saat banyak acara di kampus karena program kerja kita dulu.
Alhamdulillah lo aku jadi berangkat ke London. Mungkin agak lama juga aku disini, tau tidak disini agak dingin dibanding Indonesia. Tapi tenang aja selalu jaga amal yaumi kok. Semoga waktu aku pulang nanti kau tak lagi menjadi sekretaris departemen tapi menjadi ketua keputriannya yang anggun hehehe bercanda bercanda.
Mungkin sekian dulu aku akan berkirim surat lagi biar romantis, kalau bisa balas suratku ya.
Oh aku hampir lupa dia diterima pertukaran mahasiswa ke London, senangnya dia. Dan yang pasti dia belum tau keadaanku. Aku menjalani kehidupanku sepeti biasa setelah keluar dari rumah sakit. Aku banyak menghabiskan waktu dirumah berkutat dengan laptopku. Selama satu semester ini aku terminal berhenti sementara dari perkuliahan. Aku ragu untuk memulai kuliah lagi, tapi temen-teman selalu memberikanku semangat yang luar biasa. Hingga semester baru ku putuskan untuk kuliah. Dengan kekuranganku ini tak menghentikan langkah untuk terus maju bahkan aku semakin aktif di kerohanian. Hingga aku dinobatkan sebagai ketua keputrian.
Mengenai surat dari Fiki ah aku belum jua membalasnya antara takut dengan kenyataan dan kekecewaan Fiki jika bertemu denganku. Satu lagi surat dari London datang menyapaku.
Hai kaput, eh benarkah kau jadi ketua keputrian sekarang bagaimana kabar program kerja dan saudara-saudara kita di organisasi? Pasti mereka baik apalagi kaputnya kamu hehehe. Pengen deh aku cepet balik supaya bisa mendampingimu jadi ketua umum. Tapi aku harus menunggu beberapa bulan lagi, yang sabar ya. Eh seperti apa aja, maaf deh.
Oh ya kenapa balasan suratu tak kunjung datang. Kau membalasnya kan?atau tersangkut di pos London ya. Oh ya ada kabar gembira tapi setelah aku tiba di Indonesia saja ya wkwkwkw…
Ok sampai jumpa dengan kabar gembira itu. Salam buat teman-teman.
Rasanya sakit apa yang harus aku lakukan? Apakah membalas suratnya dengan kegembiraan
Iya sekarang aku jadi kaput senang rasanya apalagi jika ketumnya kamu hehehe. Apa kabar gembira itu kenapa dikasih tahunya kalau sudah sampai Indonesia?serahasia itukah?
Dan tanpa membubukan kata sekarang aku beda kondisiku tidak seperti dulu apakah kau tetap berharap padaku.
Suatu kebohongan dan aku tak akan membalas suratnya hingga dia tahu sendiri keadaanku yang sebenarnya. Dan pasti dia tak akan mengharapkan aku lagi. Mana ada cowok yang mau dengan orang cacat yang tak berkaki sepertiku.
Bulan berganti prestasiku semakin menanjak aku tak mau kekuranganku mempengaruhi diriku untuk menunjukkan siapa aku. Aku berhasil jadi mawapres untuk tahun ini. Dan aku ingat hari ini Fiki akan pulang. Ah apakah aku harus bersembunyi, pikiranku berantakan. Ku putuskan hari ini untuk tak kuliah aku takut bertemu Fiki.
“Hei kamu kemana aja dicariin Fiki tu”, aku hanya tersenyum sambil lalu.
Beberapa hari aku selalu menghindar jika melihat sosoknya. Kadang aku pulang lebih awal kadang aku hanya berdiam diri di masjid dan berbagai cara kulakukan agar aku tak bertemu dengan Fiki. Hingga pada suatu acara kerohanian aku terpaksa muncul karena diminta untuk menjadi salah satu pemateri. Sebenarnya aku menolak dari kemarin-kemarin tapi aku tetap dipaksa. Untung ini hanya acara untuk muslimah jadi hanya cewek-cewek yang datang, namun memang ada beberapa cowok yang membantu mendekor ruangan.
Hingga pada akhir acara tepuk tangan terlontarkan kepadaku dengan sangat meriah. Sebagai pemateri aku meninggalkan acara lebih dulu, sebenarnya ada cewek yang mau mengantarku pulang namun aku menolaknya. Aku masih mau mampir ke suatu tempat. Di koridor ruangan staff cowok dan cewek yang terlibat acara tersebut menyapaku dengan manis dengan ucapan salam. Senyumpun ku lemparkan pada mereka.
Aku tiba ditaman yang sepi namun seperti ada sosok yang mengikutiku dari belakang.
“Kenapa kau selalu sembunyi dariku”, kata laki-laki yang sudah menjajari langkah pincangku. Aku mempercepat langkah tapi tak bisa dia selalu mengejar.
“Aku ingin bicara denganmu, tidak bisakah kau meluangkan waktumu sejenak untukku?”, tanyanya lagi yang masih mengejarku.
“Maaf aku harus pulang”, sapaku rendah.
“Oke kau boleh pulang tapi aku yang mengantar”.
“Tidak”, jawabku ketus.
“Kenapa kau jadi amat sombong setelah bergelar kaput dan menjadi mawapres, apakah karena kita tak sebanding lagi”.
Aku menitikkan air mata tapi cepat-cepat menghapusnya kembali. “Apa kau tidak malu berjalan dengan orang cacat sepertiku”.
“Aku akan lebih malu lagi jika menganggapmu cacat. Apa karena ini kau selalu menghindar dariku?”, tanyanya mengejarku.
Aku tak berani menjawab. “Tunggu aku dan jangan takut. Mau kuantar pulang?”, tawarnya padaku lagi.
“Tidak usah aku sudah dijemput ayah di depan, terimakasih”, aku segera meninggalkannya seorang diri yang menatapku dengan iba.
Beberapa bulan berlalu hingga tahunpun berganti. Aku sudah lulus pun Fiki dan teman-teman yang lain.
Sebuah ketukan kecil yang terdengar dari dalam. Bunda segera membukakan pintu untuk tamu. Ku lihat seorang wanita seumuran bundaku masuk dengan anggun.          Aku ingat ya dia adalah dokter yang merawat dan selalu memberiku semangat waktu kejadian beberapa tahun lalu. Tak lama disusul seorang bapak mungkin itu suaminya pikirku dan disusul lagi seorang pria muda yang sangat kukenali wajahnya, Fiki. Untuk apa dia kesini bersama dengan dokter itu.
Bunda dan Ayah segera memanggilku untuk menemani  tamu. Oh sungguh kuasa Allah, ternya doter cantik yang merawatku itu adalah ibu kandung Fiki dan tujuan Fiki kesini adalah meminangku. Sebenarnya Fiki sudah tau keadaanku sejak sebelum dia  pergi ke London. Dia meminta ibunya selalu menyemangatiku.
Subhanallah terimakasih Ya Allah apakah ini hadiah terindah karena keikhlasanku.