Daun itu akhirnya gugur juga dan pasti
akan gugur. Dia meninggalkan pohon yang berdiri kokoh yang selalu menopangnya
yang selalu melindunginya dari terjangan angin namun apa daya umur daun semakin
menua dan akhirnya meninggalkan si pohon. Dan kita pun akan semakin menua yang
akan meninggalkan kehidupan yang fana ini. Kehidupan dunia bukanlah
segala-galanya, hanya sementara hanya sebuah mimpi tapi banyak yang
mengagungkan kehidupan dunia ini. Ah…benarkah hidup hanya sementara.
Aku merasakannya sekarang, aku masih
hidup, ya aku masih hidup. Namun entah di mana diriku saat ini tak ada bunda
dan ayah yang menemaniku. Aku sendirian tapi aku masih hidup aku yakin itu. Aku
merasakan ketakutan yang sangat, tidak dingin dan tidak panas tak ada seorang
pun dan yang ku lihat hanya samudra yang terhampar luas dengan langit yang
membiru. Indah sekali jika kalian bisa melihatnya. Namun hanya beberapa menit
saja dan aku tersadarkan oleh bau perabot rumah sakit dan terdengar juga sesenggukan
tangis. Ku coba untuk menikmati indahnya samudra namun sudah tak bisa. Aku
mulai membuka mata namun sakit. Ah aku ingat aku di rumah sakit tapi sedang apa
diriku?
“Sayang ini bunda nak, bicaralah”,
suara bundaku yang sangat lembut. Oh aku tersadar mungkin aku sedang sakit. Aku
melihat bunda bercucuran air mata .Disebelahnya ayahku yang selalu setia
mendampingi bunda. Aku mencoba tersenyum tapi tangis kedua malaikatku semakin
menjadi. Entah apa yang terjadi.
Dokter cantik itu memeriksaku, dia
tersenyum. Umurnya mungkin seumuran bundaku tapi masih cantik karena kerudung.
Dia tersenyum padaku dan aku membalasnya.
“Kau sudah sadarkan?”, tanya dokter
itu. Aku tersenyum dan mengangguk.
“Kau masih ingat siapa mereka? dan
sekarang dimana?”, tanya dokter itu lagi sembari menunjuk ke orang tua ku. Aku
kembali mengangguk dan tersenyum.
“Sekarang cobalah bicara”, perintahnya.
“Iya dok”, jawabku pias.
“Baik sekarang gerakkan semua anggota
badanmu”, perintahnya lagi.
Aku tersenyum lagi, masih terpesona
dengan dokter itu. Ku gerakkan tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan dan Ya
Allah apa yang terjadi. Aku melihat kearah orang tua ku, mereka terisak lagi
dan ku pandang dokter di sebelahku, tatapannya sayu. Aku memandangi mereka
semua secara bergantian tak ada yang mau bicara, aku lelah menunggu. Air mataku
pun mengalir deras tanpa isakan.
Bunda segera memelukku dengan uraian
air mata, ayah pergi meninggalkan ruangan dengan terisak. Aku seperti patung
hanya membisu dan tak berani bergerak lagi hanya mataku yang bekerja mendorong
air-air ini untuk keluar lebih banyak.
“Sabar ya Sayang”, dokter itu ikut
memelukku. Aku serasa dicekik dan tak bisa bernafas. Oh ingin ku ulangi lagi
mimpiku melihat langit luas dan samudra, tak ingin kembali lagi kesini.
“Aku ingin melihatnya”, suaraku serak.
Ku tabahkan diriku, dokter mulai membuka selimut yang menutup kakiku. Ya Allah
inikah Kuasa Mu. Hanya satu kaki yang terlihat dan entah yang satunya tak ada
seperti mimpi tapi inilah yang terjadi. Bunda kembali memelukku erat
menguatkanku agar aku tak jatuh, tapi aku hanya tersenyum dengan air mata yang
semakin banyak.
“Maafkan kami harus mengamputasi
kakimu, tapi percayalah ini adalah tanda kasih sayang Allah pada umatnya yang
beriman”.
“Iya terimakasih dok. Insyaallah saya
bisa berbesar hati dok”, ucapku dengan hati yang tak karuan.
“Jangan patah semangat,semua ini bukan alasan untuk melemahkan semangat
dan imanmu sayang”, kata dokter itu sebelum meninggalkan ruangan.
Bunda masih dengan isakannya. “Bunda
insyallah dinda menerima kok, jangan nangis lagi ya, Ayah tolong jangan
perlihatkan air matamu itu akan semakin menyakitkan buatku”.
Ayah dan bunda memelukku erat.
Aku tetap aku meski satu kakiku telah
diambil Allah. Aku berusaha ikhlas dan sabar meski berat. Aku adalah seorang
aktivis kerohanian kampus, temanku banyak dan mereka selalu mensupportku. Aku
senang mereka selelu mendatangiku. Aku ingat waktu itu sepulang dari kampus aku
mengendarai motor dan hilang keseimbangan ditengah jalan. Inilah ujian dan ujian
beratku.
Sudah seminggu ini aku di rumah sakit
belum diperbolehkan untuk pulang. Tak sedikit dari teman-teman yang
menjengukku, memberikanku semangat hingga bercanda bersama. Namun ada satu
orang yang tak kunjung datang padahal kedatangannya selalu ku nantikan.
“Dari kemarin kok aku tak melihatnya
ya”, aku memberikan kode pada sabahatku.
“Ehem cie…iya ya aku juga jarang lihat
dikampus juga lho”, jawabnya santai dengan senyum mengejek.
“Mungkin lagi sibuk dengan amanahnya
kali ya”, tebakku positif thinking.
“May be yes may be no, soalnya dalam
acara apapun dia gak keliatan tu”.
“Ya sudahlah. Ayo antar aku ke taman
belakang, disana tamannya bagus loh”, ajakku pada sahabatku.
Ya dia adalah sosok lelaki yang
membuatku terpana sejak maba. Karekternya yang kuat, aktif dan berprestasi selalu
dikerubungi teman-temannya. Dia adalah patnerku dalam organisasi kerohanian.
Tak sedikit yang kagum dengannya, mulai dari penampilan hingga otaknya yang
sangat brilian mampu membuat cewek-cewek sampai aktivis kerohanian klepek-klepek.
Aku memang salah satu wanita yang dekat
dengannya mungkin karena patner. Namun menurutku bukan itu saja dia sering
mengirimiku pesan bahkan telpon dari yang membicarakan program kerja hingga
yang membicarakan masalah pribadi seperti kuliah dan kehidupan sehari-hari. Dan
memang aku ada kecenderungan dengannya. Sebut saja namanya Fiki.
Semakin hari semakin ku tunggu
kedatangan Fiki namun tak kunjung datang jua. Hingga suatu hari teman di
organisasi kerohanianku menjengukku dengan titipan surat dari Fiki.
Kurang lebih beginilah isi suratnya.
Maaf
aku baru bisa mengirimi mu surat. Jangan heran kalau nomor handphoneku tak
aktif, untuk itulah aku berkirim surat. Bukan karena tak kenal teknologi tapi
agar lebih romantis hehehehe. Oh ya bagaimana kabarmu? Pasti kau sedang
memikirkan proker kerja kitakan? Sekali lagi maaf aku tak bisa mendampingimu
saat banyak acara di kampus karena program kerja kita dulu.
Alhamdulillah
lo aku jadi berangkat ke London. Mungkin agak lama juga aku disini, tau tidak disini
agak dingin dibanding Indonesia. Tapi tenang aja selalu jaga amal yaumi kok.
Semoga waktu aku pulang nanti kau tak lagi menjadi sekretaris departemen tapi
menjadi ketua keputriannya yang anggun hehehe bercanda bercanda.
Mungkin
sekian dulu aku akan berkirim surat lagi biar romantis, kalau bisa balas
suratku ya.
Oh aku hampir lupa dia diterima pertukaran
mahasiswa ke London, senangnya dia. Dan yang pasti dia belum tau keadaanku. Aku
menjalani kehidupanku sepeti biasa setelah keluar dari rumah sakit. Aku banyak
menghabiskan waktu dirumah berkutat dengan laptopku. Selama satu semester ini
aku terminal berhenti sementara dari perkuliahan. Aku ragu untuk memulai kuliah
lagi, tapi temen-teman selalu memberikanku semangat yang luar biasa. Hingga
semester baru ku putuskan untuk kuliah. Dengan kekuranganku ini tak
menghentikan langkah untuk terus maju bahkan aku semakin aktif di kerohanian.
Hingga aku dinobatkan sebagai ketua keputrian.
Mengenai surat dari Fiki ah aku belum
jua membalasnya antara takut dengan kenyataan dan kekecewaan Fiki jika bertemu
denganku. Satu lagi surat dari London datang menyapaku.
Hai
kaput, eh benarkah kau jadi ketua keputrian sekarang bagaimana kabar program
kerja dan saudara-saudara kita di organisasi? Pasti mereka baik apalagi kaputnya
kamu hehehe. Pengen deh aku cepet balik supaya bisa mendampingimu jadi ketua
umum. Tapi aku harus menunggu beberapa bulan lagi, yang sabar ya. Eh seperti
apa aja, maaf deh.
Oh ya
kenapa balasan suratu tak kunjung datang. Kau membalasnya kan?atau tersangkut
di pos London ya. Oh ya ada kabar gembira tapi setelah aku tiba di Indonesia
saja ya wkwkwkw…
Ok
sampai jumpa dengan kabar gembira itu. Salam buat teman-teman.
Rasanya sakit apa yang harus aku
lakukan? Apakah membalas suratnya dengan kegembiraan
Iya
sekarang aku jadi kaput senang rasanya apalagi jika ketumnya kamu hehehe. Apa
kabar gembira itu kenapa dikasih tahunya kalau sudah sampai Indonesia?serahasia
itukah?
Dan tanpa membubukan kata sekarang aku beda kondisiku tidak seperti
dulu apakah kau tetap berharap padaku.
Suatu kebohongan dan aku tak akan
membalas suratnya hingga dia tahu sendiri keadaanku yang sebenarnya. Dan pasti
dia tak akan mengharapkan aku lagi. Mana ada cowok yang mau dengan orang cacat
yang tak berkaki sepertiku.
Bulan berganti prestasiku semakin
menanjak aku tak mau kekuranganku mempengaruhi diriku untuk menunjukkan siapa
aku. Aku berhasil jadi mawapres untuk tahun ini. Dan aku ingat hari ini Fiki
akan pulang. Ah apakah aku harus bersembunyi, pikiranku berantakan. Ku putuskan
hari ini untuk tak kuliah aku takut bertemu Fiki.
“Hei kamu kemana aja dicariin Fiki tu”,
aku hanya tersenyum sambil lalu.
Beberapa hari aku selalu menghindar
jika melihat sosoknya. Kadang aku pulang lebih awal kadang aku hanya berdiam
diri di masjid dan berbagai cara kulakukan agar aku tak bertemu dengan Fiki.
Hingga pada suatu acara kerohanian aku terpaksa muncul karena diminta untuk
menjadi salah satu pemateri. Sebenarnya aku menolak dari kemarin-kemarin tapi
aku tetap dipaksa. Untung ini hanya acara untuk muslimah jadi hanya cewek-cewek
yang datang, namun memang ada beberapa cowok yang membantu mendekor ruangan.
Hingga pada akhir acara tepuk tangan
terlontarkan kepadaku dengan sangat meriah. Sebagai pemateri aku meninggalkan
acara lebih dulu, sebenarnya ada cewek yang mau mengantarku pulang namun aku
menolaknya. Aku masih mau mampir ke suatu tempat. Di koridor ruangan staff
cowok dan cewek yang terlibat acara tersebut menyapaku dengan manis dengan
ucapan salam. Senyumpun ku lemparkan pada mereka.
Aku tiba ditaman yang sepi namun
seperti ada sosok yang mengikutiku dari belakang.
“Kenapa kau selalu sembunyi dariku”,
kata laki-laki yang sudah menjajari langkah pincangku. Aku mempercepat langkah
tapi tak bisa dia selalu mengejar.
“Aku ingin bicara denganmu, tidak
bisakah kau meluangkan waktumu sejenak untukku?”, tanyanya lagi yang masih
mengejarku.
“Maaf aku harus pulang”, sapaku rendah.
“Oke kau boleh pulang tapi aku yang
mengantar”.
“Tidak”, jawabku ketus.
“Kenapa kau jadi amat sombong setelah
bergelar kaput dan menjadi mawapres, apakah karena kita tak sebanding lagi”.
Aku menitikkan air mata tapi
cepat-cepat menghapusnya kembali. “Apa kau tidak malu berjalan dengan orang
cacat sepertiku”.
“Aku akan lebih malu lagi jika
menganggapmu cacat. Apa karena ini kau selalu menghindar dariku?”, tanyanya
mengejarku.
Aku tak berani menjawab. “Tunggu aku
dan jangan takut. Mau kuantar pulang?”, tawarnya padaku lagi.
“Tidak usah aku sudah dijemput ayah di
depan, terimakasih”, aku segera meninggalkannya seorang diri yang menatapku
dengan iba.
Beberapa bulan berlalu hingga tahunpun
berganti. Aku sudah lulus pun Fiki dan teman-teman yang lain.
Sebuah ketukan kecil yang terdengar
dari dalam. Bunda segera membukakan pintu untuk tamu. Ku lihat seorang wanita
seumuran bundaku masuk dengan anggun. Aku
ingat ya dia adalah dokter yang merawat dan selalu memberiku semangat waktu
kejadian beberapa tahun lalu. Tak lama disusul seorang bapak mungkin itu
suaminya pikirku dan disusul lagi seorang pria muda yang sangat kukenali
wajahnya, Fiki. Untuk apa dia kesini bersama dengan dokter itu.
Bunda dan Ayah segera memanggilku untuk
menemani tamu. Oh sungguh kuasa Allah,
ternya doter cantik yang merawatku itu adalah ibu kandung Fiki dan tujuan Fiki
kesini adalah meminangku. Sebenarnya Fiki sudah tau keadaanku sejak sebelum
dia pergi ke London. Dia meminta ibunya
selalu menyemangatiku.
Subhanallah terimakasih Ya Allah apakah
ini hadiah terindah karena keikhlasanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar