“Tidak ada interaksi, semua diam”, setiap teringat kata-kata itu bulu kuduk ku berdiri. Jika teringat siapa yang sering mengatakannya dengan suara keras bak petir meledak-ledak hatiku selalu ngilu. Entah apa yang terjadi, semua berjalan dengan alami sejak aku masuk kuliah.
“Dessy cepet donk, nanti kita telat”, ku percepat langkah, namun temanku yang satu ini terlalu santai. Dessy adalah teman pertamaku di dunia perkuliahan ini.
“Santai aja lagian telat beberapa menit”, seperti tak punya dosa saja temanku ini mengatakannya dengan polos dan tanpa rasa khawatir apalagi takut.
“Tapi korlap kita galak bukan main, ayo cepat sedikit”, ajakku sambil menggandeng tangannya berharap langkahnya dipercepat.
“Aku gak takut ama korlap, mereka itu cuma acting kok”.
“Meskipun acting tapi tetap aja nakutin kalau marah”, walhasil kami benar-benar telat.
Aku benar-benar ketakutan, sesekali ku lirik wajah temanku duh tampangnya seperti tak melakukan kesalahan apapun. Mana mungkin dia begitu santainya di saat seperti ini, tak ada sedikit pun rasa takut menyelimuti wajah temanku ini. Ah aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku.
“Tahu apa kesalahnmu dek?”, suara keras dan berat itu keluar dengan lancarnya dari mulut si korlap. Aku ingin melirik seperti apa wajahnya tapi aku tak punya keberanian untuk mengangkat wajah walaupun sedikit. Aku terus menunduk dan berharap Dessy menjawabnya sehingga aku tak perlu menjawab.
“Tahu,,saya hanya telat beberapa menit”.
“Kenapa telat?”.
“Antri kamar mandinya lama”.
“Alasan, mudah dek buat alasan, ada banyak alasan untuk mempertahankan argument”.
“Saya tahu tapi memang itu kenyataannya kak”, oh temanku ini benar-benar tak punya rasa takut.
“Ya sudah kamu cari kelompokmu. Jangan sampai diulangi”.
Duh bagaimana ini, saatnya aku yang diinterogasi pikirku dalam hati. Aku semakin menunduk.
Langkah kakinya semakin mendekat, semakin dalam pula ku tundukkan kepalaku. “Apa alasanmu datang terlambat, apa sama seperti temanmu, antri kamar mandi?”, kenapa pertanyaannya bertubi-tubi seperti ini. “Kenapa diam”, suara bentakan itu semakin membuat hatiku miris. Ingin ku menangis tapi tak mungkin ku lakukan disini dan saat ini.
“Sa….sa…saya datang terlambat karena……”.
“Karena apa?”.
Ku coba menghadapi wajahnya, sedikit demi sedikit ku angkat wajahku. Wah tinggi sekali kakak ini. Wajahnya pun tak kalah ganteng dari artis idolaku "lee min hoo". Tatapannya tajam dan mematikan. Ohhh aku tak sanggup menjawab pertanyaannya, mulutku seakan-akan digembok dengan rantai yang paling besar di muka bumi.
“Kenapa diam dek?”.
“Oh ti…tidak…”, aku tersentak kali ini dia mengucapkan tanpa membentak. “Saya terlambat karena menunggu teman saya tadi”.
“Lain kali jangan terlambat lagi, apa kata dunia kalau mahasiswa tidak disiplin seperti ini, kembali ke kelompokmu”.
Oh apa ini, aku deg-degan tapi bukan karena takut. Semula memang takut tapi aku yakin ini bukan perasaan takut. Akibat keterlambatanku, aku berada di baris paling belakang. Dan ini kesempatanku senyum-senyum sendiri mengingat kakak yang memarah-marahiku itu. Siapakah namanya?
Tak terasa ospek pun berakhir, sudah capek rasanya dibentak-bentak terus. Tapi aku masih penasaran dengan korlap tinggi berkacamata itu. Sebentar lagi hari-hari kuliah menjemputku.
Wah dasar jurusan matematika tak bisa santai, minggu-minggu ada acara. Sebenarnya males mau berangkat ke WP tapi gimana lagi ini wajib sih.
“Des kamu bawa apa?”. Padahal hanya pertanyaan sesingkat itu tapi jawaban Dessy benar-benar dahsyat. Temanku yang satu ini bisa dikatakan cerewet, dan jangan sesekalipun bilang pendiam ke dia bisa dipasti dia akan GR.
Oh kenapa kakak itu ada disini? Pertanyaan bertubi-tubi datang memenuhi otakku.
“Des kenapa korlap itu ada disini ya?”, aku mulai berbisik dengannya.
“Mungkin dia jurusan matematika juga”, tebaknya sembarangan. “Mungkin dia hanya tamu, liat ditempatin disana”, sambil menunjuk kakak itu menggunakan kepala. Sepertinya Dessy senang mengikuti acara ini, tapi terkadang dia tertidur pula. Bukan hanya sesekali ku arahkan pandanganku ke korlap berkacamata itu. Kenapa dia bisa begitu memikat ya?. Oh apa-apaan aku ini, Aku seharusnya sadar aku hanya mahasiswa biasa yang gak mungkin mengenal korlap itu lebih jauh.
Saatnya memasuki dunia kuliah dan aku siap untuk menaklukkannya. Namun bayangan tentang korlap berkacamata itu pun tak bisa lepas dariku. Meskipun aku tak tahu namanya namun dia adalah dia dan aku memang tak peduli dengan nama.
to be continue
Pengen tau kelanjutannya jangan kemana-mana yah...
Teruntuk Sahabatku
ANA QUBATUN

yAKIN GAK ya kalo ini bukan sekedar mimpi.. peluang 0,001% . Thankyou ukhti.. miss u my friend >,<
BalasHapuswah oke kisahmu tak akan pernah berakhir kawan,,,,,
BalasHapustak mungkin berakhir sampai dsini
haha,, penonton menunggu!!! :)
BalasHapus