Engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. dan dikatakan kepada mereka " Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya". Demikian itulah kemenangan yang agung. (Al-Hadid : 12)

Kamis, 13 September 2012

BUKAN KECERDASAN IQ


Ada satu pelajaran yang ku dapatkan dari cerita ibu dan kakak perempuanku. Begini ceritanya.

Sebut saja seorang wanita mbak X. Bisa dibilang dia menikah muda. Dalam usianya 20 tahun dan masih semester 3 dia menikah. Sebagai seorang mahasiswi pasti pemikirannya akan lebih maju daripada istri lain yang tidak berpendidikan. Suaminya hanya bekerja di sebuah bengkel milik saudaranya. Dan mereka memang tinggal dengan orang tua sang suami.

Tradisi ditempatnya sebelum lebaran tiba adalah banyak yang membeli kue kering, opor ayam, baju baru, sepatu baru atau lainnya yang serba baru dan menyenangkan. Dua hari sebelum mbak X ini mengurung dirinya di kamar, setelah ditanya oleh suaminya ternyata dia tidak mau keluar kamar karena belum punya baju baru untuk lebaran alias ngambeg. Sedangkan sang suami hanya punya sedikit uang yang rencananya untuk membeli kue kering untuk disuguhkan ke banyak tamu yang datang kerumah orang tuanya. 

Dari kisah di atas saya dapat menarik hikmah bahwa mahasiswa yang memiliki ilmu akademik lebih tinggi (IQ tinggi) tidak berpengaruh pada kebijakannya dalam mengambil keputusan yang tepat (EQ) apalagi dia sudah dihadapkan dengan tantangan rumah tangga yang bukan main-main. Dalam hidup bersosialisasi dan berumah tangga kemampuan yang pertama kali diperlukan bukan kecerdasan IQ tapi kecerdasan EQ dan SQ. Sungguh istri yang baik adalah yang bisa menyenangkan hati suami dan mengurangi beban suami bukan malah menambah beban suami.


PUJIAN


Saat memasuki dunia perkuliahan, hal-hal baru pun muncul bahkan bisa sangat rumit daripada masa SMA. Ada dua sahabat sebut saja A dan B, mereka sangat akrab,  kepribadiannya pun baik, senang menyapa, murah senyum dan sering membantu. Namun ada teman yang kurang sopan di kelas sebut saja X, kepribadiannya kurang baik, tak pernah menyapa, cuek bahkan mempunyai prinsip “Hidup loe hidup loe hidup gue hidup gue jangan ikut campur”.

Suatu hari A bercakap-cakap dengan B. “Bagaimana ya cara merubah sikap X, dia kurang sopan ke dosen apalagi teman-teman”, kata A. “Aku akan mencoba menasehatinya”, jawab B

Beberapa hari berlalu ketika A bertemu dengan X, X menyapanya dengan penuh kehangatan, senyumnya tulus tanpa dibuat-buat bahkan tingkahnya dikelas sangat baik. A segera menemui B, dia tidak sabar mendengarkan nasehat apa yang diberikan sehingga X berubah.

“Nasehat apa yang kau berikan sehingga X bisa berubah?”, tanya A penasaran. “Benarkah kau ingin tahu?”, B balik bertanya. “ Iya”.

“Aku hanya mengatakan ‘Saat ini ada banyak orang yang mengagumi dan memujimu, terutama A dia mengatakan bahwa kamu sangat lemah lembut, tahu mengontrol emosi dan disukai banyak orang”

A hanya tertegun mendengar perkataan B, dia sangat hebat dalam memuji.

# Pujian adalah bunyi yang paling indah dari segala jenis bunyi-bunyian.