BUKAN
KECERDASAN IQ
Ada satu pelajaran yang ku dapatkan dari cerita ibu dan kakak
perempuanku. Begini ceritanya.
Sebut saja seorang wanita mbak X. Bisa dibilang dia menikah
muda. Dalam usianya 20 tahun dan masih semester 3 dia menikah. Sebagai seorang mahasiswi
pasti pemikirannya akan lebih maju daripada istri lain yang tidak
berpendidikan. Suaminya hanya bekerja di sebuah bengkel milik saudaranya. Dan
mereka memang tinggal dengan orang tua sang suami.
Tradisi ditempatnya sebelum lebaran tiba adalah banyak yang
membeli kue kering, opor ayam, baju baru, sepatu baru atau lainnya yang serba
baru dan menyenangkan. Dua hari sebelum mbak X ini mengurung dirinya di kamar,
setelah ditanya oleh suaminya ternyata dia tidak mau keluar kamar karena belum
punya baju baru untuk lebaran alias ngambeg. Sedangkan sang suami hanya punya
sedikit uang yang rencananya untuk membeli kue kering untuk disuguhkan ke
banyak tamu yang datang kerumah orang tuanya.
Dari kisah di atas saya dapat menarik hikmah bahwa mahasiswa
yang memiliki ilmu akademik lebih tinggi (IQ tinggi) tidak berpengaruh pada
kebijakannya dalam mengambil keputusan yang tepat (EQ) apalagi dia sudah
dihadapkan dengan tantangan rumah tangga yang bukan main-main. Dalam hidup
bersosialisasi dan berumah tangga kemampuan yang pertama kali diperlukan bukan
kecerdasan IQ tapi kecerdasan EQ dan SQ. Sungguh istri yang baik adalah yang
bisa menyenangkan hati suami dan mengurangi beban suami bukan malah menambah
beban suami.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar