Engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. dan dikatakan kepada mereka " Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya". Demikian itulah kemenangan yang agung. (Al-Hadid : 12)

Kamis, 16 Januari 2014

AL MADZAHIB AL ISLAMIYAH



A.    Madzhab dalam akidah (teologi)
Pada mulanya islam hanyalah satu, yaitu yang dicontohkan dan diajarkan Rasulullah, lalu dilanjutkan oleh orang-orang beriman setelahnya yakni para sahabat. Kelak jalan inilah yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Adapun jalan yang tidak dicontohkan oleh Rasul adalah jalan syetan yang dilakukan para ahli bid’ah yang sesat, yang akan memecahbelah umat islam. Sebagaimana dalam  QS Al-An’am : 153
B.     Mengenal madzhab aqidah
1.      Brdasarkan hubungan antara dosa dan iman
a.       Al Hururiyah
Mereka berkata “ sesungguhnya agama dan iman adalah ucapan, amal dan keyakinan. Tetapi tidak bisa bertambah dan berkurang. Maka barang siapa yang melakukan dosa besar ia kafir di dunia dan di akherat kekal di neraka, jika ia mati sebelum bertobat.”
b.      Al Mu’tazilah
Mereka berkata “ sesungguhnya agama dan iman adalah ucapan, amal dan keyakinan. Tetapi tidak bisa bertambah dan berkurang. Maka barang siapa yang melakukan dosa besar maka kedudukannya berada di dua tempat -keluar dari ima tapi tidak kafir- itu hokum di dunia. Sedangkan di akherat mereka kekal di neraka.”
c.       Al Murji’ah
Dosa tidaklah berdampak buruk bagi keimanan. Sebagaimana ketaatan tidak lah bermanfaat bagi kekafiran. Iman hanyalah dibenarkan di hati saja. Keimanan manusia paling fasiq sama dengan keimanan manusia paling sempurna.
d.      Al jahmiyah
Mereka pelaku dosa besar tetaplah sempurna imannya, dan tidak berhak dimasukkan ke neraka
e.       Ahlus Sunnah wal Jamaah
Mereka telah mendapatkan petunjuk Allah diatas kebenaran. Sesungguhnya iman adlah ucapan dengan lisan, diamalkan dengan perbuatan dan diyakini dalam hati. Bisa bertambah karena ketaatan dan berkurang karena maksiat. Adapun para pelaku dosa besar berada dibawah kehendak Allah.
2.      Berdasarkan penyikapan para sahabat Nabi
a.       Ar Rafidhah
Segolongan dari syiah mereka melampaui batas dalam memuliakan Ali.
b.      Al Khawarij
Menerima sebagian besar sahabat tapi mengharamkan Ali, Mu’awiyah dan orang yang bersama mereka.
c.       An Nawashib
Mereka memproklamirkan permusuhkan kepada Ahli Bait dan melaknat apa yang ada pada mereka.
d.      Ahlus Sunnah wal Jamaah
Allah memberikan hidayah kepada mereka untuk tetap diatas kebenaran. Mereka bersikap tidak melampaui batas terhadap Ali dan Ahli Bait. Mereka mengetahui hal keseluruhan sahabat yakni Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.
3.      Berdasarkan sikap mereka terhadap ayat dan hadist tentang nama dan sifat Allah
a.       Al Mu’athillah
Mereka mengingkari dan meniadakan sifat dan nama Allah.
b.      Al mujassimah wal musyabbihah
Mereka menganggap Allah mempunyai jism (wujud) seperti manusia.
c.       Al Asy’ariyah
Mereka bagian dari –paling tidak mendekati- Ahlus Sunnah
d.      Ahlus Sunnah wal Jamaah
Meraka itsbat (menetapkan dan mengukuhkan) adanya nama dan sifat Allah tanpa mengingkarinya, tidak menyerupai dengan makhluk, tidak melakukan ta’wil , tidak merunahnya, tidak bertanya bagaimana dan mereka membiarkannya sebagimana datangnya, mengimani makna dan apa-apa yang ada padanya.
4.      Berdasarkan Kehendak perbuatan manusia
a.       Al Jabariyah
Manusia menerima begitu saja atas perbuatannya, gerakannya adalah perbuatan Allah
b.      Al Qodariyah
Manusia menciptakan perbuatannya sendiri dan bukan atas kehendak Allah
c.       Ahlus Sunnah wal Jamaah
Allah menciptakan manusia dan perbuatannya. Mnusia yang melakukan hakikatnya dan mereka dianugerahi kehendak dan kemauan untuk berbuat. Ahlus Sunnah menetapkan bahwa bagi manusia memiliki kehendak dan kemampuan untuk menentukan pilihan sesuai kehendak Allah.
5.      Ahlus Sunnah wal Jamaah
Jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan jamaah para sahabat dan tabi’in, tabi’ut baik dari sisi paraadigma berpikir dan pengamalan terhadap agama serta akhlak. Bukan sekedar simbolistik tetapi esensi. Maka siapa2 saja yang menempuh jalan keselamatan yang mereka tempuh secara benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar