Engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. dan dikatakan kepada mereka " Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya". Demikian itulah kemenangan yang agung. (Al-Hadid : 12)

Minggu, 02 Februari 2014

ANAK PONDOK ATAU PETUALANG

cerpen



Aku anak rohis, selalu optimis nada dering handphoneku nyaring memenuhi kamar. Sesegera ku angkat karena memang letak handphoneku tak jauh.
Assalamu’alaikum sapaku ramah, ternyata dari bapak tempatku mengajar les.
Wa’alaikumsalam, mbak bisa ngelesi anak SMA di kantor tiap hari selama 7 hari? Terserah waktunya kapan mbak bisa, kata bapaknya dari seberang.
Oh insyaallah bisa pak balasku.
Namanya Vian mbk, mulai besuk ya ngajarnya?
Iya pak, terimakasih . Sambungan telepon pun dimatikan. Wah cepat sekali, pikirku.
Mbak siswanya sudah datang waktu aku keluar dari ruang kuliah SMS mulai memberondongku. Siap berangkat, aku bergegas karena letak tempat kuliah dan tempatku ngajar agak jauh mungkin 10 menit jalan kaki. Aku sedikit berlari, agar siswa baru itu tak terlalu lama menunggu.
Aku memasuki pintu tempatku mengajar seperti biasa. Terlihat sepi, hanya ada satu anak laki-laki. Aku sedikit binggung tadi kata bapaknya siswaku namanya Vian sudah hadir tapi aku hanya melihat satu anak laki-laki aku kira yang namanya Vian adalah seorang cewek. Segera ku sapa anak itu karena kelihatan bosan menunggu seseorang.
“Maaf, apa adik yang namanya Vian?”,sapaku ramah dan bersahabat, senyumpun terus berkembang.
“Hem, iya .Mbak Nila ya?”, jawabnya riang, mungkin terlalu lama menungguku dan tahu aku sudah datang.
“Iya dik, maaf ya mbak terlambat tadi abis keluar kelas”.
“Oh iya mbak ndak apa-apa kok, santai aja. Dimulai sekarang mbak?”, jawabnya masih riang, kelihatannya dia anak yang genius dan bersahabat. Pakaiannya santai, modis dan ramah.
“Iya, mari dik”, setelah berdoa aku segera memulai aksiku megajar. Aku sedikit terkejut ternyata aku hanya diberi waktu 7 hari untuk mengajar matematika dan menghabiskan seluruh materi untuk UN sedangkan dia sama sekali belum mendapatkan materi di SMA karena memang dia dari pondok pesantren.
            Hari pertama aku banyak diskusi dan sedikit memberi materi juga latihan soal. Tapi kelihatan dia senang belajar dan mulai menerima dengan pengajarnya. Aku harus bersiap untuk mengajar lagi besuk, semuanya aku persiapkan mulai dari pembagian materi hingga latihan soal serta tugas untuknya.
            Hari keduaku mengajar, dia semakin tenang dan tidak canggung lagi. Ada sedikit gurauan kecil dan bercandaan agar tidak bosan di kelas.
            “Mbak dari pondok juga ya?”, tiba-tiba dia bertanya di tengah pelajaranku.
“Bukan, mbak belum pernah merasakan belajar di pondok, sekolah umum semua dik, ada apa memangnya?”, jawabku santai dan masih terus melanjutkan menulis soal.
“Pakaian mbak kaya anak pondok aja”, aku hanya tersenyum. Memang aku memakai jilbab lebar, rok dan kaos kaki tapi itu semua untuk menutup aurat.
Hari kedua lancar dia semakin mudah menerima pelajaranku. Perkembangannya mulai terlihat soal yang aku berikan digasaknya habis meski sering-sering bertanya. Sekarang waktu ku memnag tersita, aku juga harus memastikan pelajaran Vian dan kuliahku sendiri. Selesai aku mengerjakan tugas segera aku membuat soal dan mencari materi yang akan aku berikan pada Vian esuk harinya.
Hari ketiga jadwalku berubah. Karena tidak ada jadwal pelajaran lain Vian minta waktu dipercepat, sedangkan aku juga tidak ada kuliah.
“Hobby mbak apa?”, tanyanya sambil menyalin catatanku.
“Apa ya? coba tebak deh”, jawabku santai tapi masih memperhatikan pelajaran.
“Hem, pasti baca buku”, aku tersenyum, banyak yang benar kok kalau nebak hobbyku.
“Iya tapi mbak juga suka nulis”.
“Nama lengkap mbak siapa?”, dia mulai cerewet dari kemarin.
“Nilatus Syifa, kalau kamu?”, aku gantian bertanya padanya.
“Marsekal Kevianto, mbak tau gak artinya apaan?”, tanyanya lagi padaku.
Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. “Aku ada tugas buat mbak, jadi bukan hanya mbak saja yang bisa buat tugas buat aku. Coba mbak cari arti dari marsekal, ok”, wah-wah dia mulai berani sama aku, pikirku sambil tersenyum tanda mengiyakan.
Waduh tugasku tambah banyak, buat tugas untuk kuliah, cari materi dan buat soal ditambah harus cari arti dari marsekal. Aku coba buka internet, ternyata marsekal sejenis pangkat di militer. Ah mungkin ayahnya orang militer pikirku.
Hari keempat aku mulai siap-siap untuk mengajar, juga jawaban dari marsekal. Tiba-tiba nada dering SMS ku bunyi.
Mbak suka juice?
Suka jawabku cuek, sms dari Vian
Mbak suka juice apa?
Hampir semua suka, tapi paling suka jambu biji
Ok dah, 5 menit lagi aku sampai tempat les mbak tunggu aku ya
Ya. Aku juga belum berangkat masih asik di kontrakanku.
Beberapa menit aku sampai tempat les, dia sudah ada disana. “Sudah siap menerima materi?”, tanyaku memulai.
“Sudah siap donk mbak yang cantik, oh iya ini ada juice jambu biji kesukaan mbak Nila”.
“Lho kenapa dibelikan juice, mbak kan gak minta Vian”, tanyaku masih binggung.
“Gak apa-apa mbak”, sambil senyum-senyum dan memandangku.
Mulai kemarin pandangannya tajam ke arahku, sering aku menghindar atau menutup mukaku dengan buku karena malu dipandang terus.
“Mbak udah ketemu arti marsekal?”.
“Udah donk”, aku sedikit sharing dengan dia.
“Mbak kenapa sih malu kalau aku liatin”.
“Kamu juga sih masa liatin gurumu kaya liatin pacarmu gitu, sudah-sudah nanti materi dan soal-soal kita gak kelar lagi”, kataku mengalihkan saat dia mulai memandangku lagi.
Aku mulai risih dengan tingkahnya yang mulai memandangku tajam seakan-akan aku bukan gurunya tapi pacarnya.
Mamasuki hari kelima, aku mulai menghitung berapa materi yang sudah didapatkan Vian dan kemampuan Vian sampai mana. Tapi dia banyak perubahan mulai bisa menyesuaikan diri dalam menghadapi soal-soal. Hari ini pun Vian membawakanku juice jambu biji. Padahal aku tak memintanya sama sekali.
“Wah hujan mbak, nunggu reda dulu yuk mbak”, akhirnya aku menunggu hujan reda karena memang hujan turun cukup deras.
Dia mulai cerita tentang kehidupannya di pondok. Ternyata dia hafidz, penghafal Al-Qur’an. Dia juga menceritakan tentang keluarganya.
“Emang kamu udah hafal berapa juz, sudah semuakah?”, tanyaku kagum padanya, padahal dari penampilan dia tidak kelihatan anak pondok apalagi hafidz.
“Itu rahasia mbak, kalau aku bongkarin nanti yang tak hafal hilang lagi, apalagi kalau liat mbak yang cantik hafalanku bisa-bisa hancur semua ini”, katanya sambil senyum-senyum memandangku lagi.
“Ya makanya jangan liatin aku kaya gitu Vin, kok aku lebih enak manggil kamu Kevin ya daripada Vian”.
“Ya udah panggil Kevin aja, lagian aku biasanya juga dipanggil Kevin kok mbak”.
“Oh iya kok kamu bisa sampai Malang ceritanya gimana? Bukannya asalmu Bali dan pondokmu Jawa Tengah ya?”, tanyaku heran sedikit berpikir dia anak pondok apa petualang.
“Kaya petualang ya mbak? hehehe. Aku tu gak boleh sekolah di Bali karena pergaulannya buruk, akhirnya aku pondok di Kuningan Jawa Tengah tapi untuk ikut UN ini aku sementara dipindah ke Malang. Adikku yang aku certain itu juga mondok di Malang kok mbak. Tapi udah hampir tiap daerah udah aku kunjungi tempat wisatanya. Baru tiga hari di Malang aja aku udah naklukin Bromo sama Semeru dan wisata alam kota Batu mbak. Pasti kalau mbak belum pernah ke Bromo ya apalagi Semeru? hahaha ”, ceritanya sambil ngejek aku.
“Emang, mbak jarang jalan-jalan kan tujuannya kesini kuliah bukan jalan-jalan”, balasku.
“Iya-iya mbak”. Hujanpun sudah mulai reda tapi masih menyisakan rintik-rintik air.
“Mbak aku anterin aja ya pulangnya”, tawarnya padaku.
“Ndak usah dik, kontrakan mbak lo di gang sebelah deket kok”, aku segera meninggalkan tempat les.
Aku mulai mempersiapkan materi Vian untuk hari keenam dan ku perkirakan materi hari ini selesai dan besuk tinggal latihan soal UN. Vian semakin rajin mengsms ku, entah tanyain pelajaran atau hal-hal pribadi
Makanan kesukaan mbak apa?dia mulai mengsmsku
Apapun suka
Yang paling disukai apa?
Rujak
Hari keenam hampir terlewati.
“Mbak ini makanan kesukaan mbak kan”, kali ini dia membawakanku rujak.
Aku mulai membahas dan selesaikan semua materi dia juga sedikit curhat dengan guru mata pelajaran yang lain, karena sering gonta-ganti guru dia tidak terlalu memahami pelajaran.
“Cuma matematika mbak yang aku fahami, paling biologi belajar sendiri dari baca-baca, fisika sama kimia ku entahlah mbak gurunya gak enak kaya mbak gitu sih”, curhatnya padaku.
“Oh iya ini materinya udah selesai jadi besuk tinggal latihan soal ya, lagian besuk pertemuan terakhir kitakan?”, kataku.
“Wah besuk sudah pertemuan terakhir, cepet sekali ya mbk. Akhirnya aku bisa ngrasain sekolah di SMA untuk pelajaran matematika”, dia kelihatan sangat senang.
“Mbak tau gak aku tu hanya punya 3 guru cewek lo”, dia mulai lagi curhatnya.
“Cuma tiga, siapa aja?”, tanyaku yang sedikit penasaran.
“2 guruku di SD waktu di Bali dan mbak. Jadi kalau hafalanku buyar semuanya karena mbak lo ya. Soalnya aku juga belum pernah pacaran mbak”.
“Lhoh kok mbak sih yang disalahin”, aku mulai tak terima tapi dia malah senyum-senyum.
“Mbak hari ini aku anterin pulang ya?”, pintanya lagi.
“Ah ndak usah kontrakan mbak tu deket dik”, lawanku.
Hari terakhirku ngajar Vian. Harus maksimal untuk hari ini.
“Vin hari ini kan hari terakhir les matematika, jadi mbak mau nilai matematikamu nanti tidak mengecewekan”.
“Wah siap mbak, kalau nilai matematikaku lebih dari nilai matematika mbak dulu mau dikasih apa hayo?”.
“Ada deh, kejutan kalau nilaimu bisa mengungguli nilai mbak. Oh iya setelah lulus kamu mau lanjut kuliah dimana?”, tanyaku.
“Aku pokonya boleh minta sesuatu ya, aku gak mau lanjutin kuliah mau main-main ke seluruh dunia aja, petualang lebih dulu deh. Udah 7 tahun aku terkungkung  di pondok dan kerjaan ku cuma hafalan aja capek mbak jadi aku pengen asik-asikan dulu”.
Setelah semuanya kelar aku menyerahkan beberapa soal untuk bekal Vian dipondok dan sebelum UN berlangsung.
“Mbak kalau aku mau ketemu mbak dimana ya?”.
“Emang kamu mau ketemu mbak lagi setelah lulus?”.
“Lhoh iya donk mbak, mbak nanti makan di luar yuk sekalian aku antar mbak pulang kan hari terakhir”.
“SMS aja kalau mau ketemu, maaf ya mbak ndak bisa harus cepet-cepet pulang apalagi udah sore”.
Hari ini hari terakhir les dengan Vian, bukan berarti hari perpisahan mungkin akan ada pertemuan kembali dengan sosok yang hebat seorang hafidz yang ku kagumi. Dan aku memang tidak mau keluar dengannya walau hanya untuk makan, aku tak mau menyiksanya dengan nafsunya bisa-bisa dia lupa dengan hafalan Al-Qur;annya gara-gara aku. Meskipun kami tidak lagi bertemu dia masih SMS. Kenangan indah bersama salah satu siswaku. Terakhir aku tau nilai UN matematikanya 80 tapi masih belum bisa mengungguliku, Jadi aku yang menang. MISS U Vin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar