Engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. dan dikatakan kepada mereka " Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya". Demikian itulah kemenangan yang agung. (Al-Hadid : 12)

Kamis, 27 Februari 2014

Hati Kita Bertaut Papa


cerpen

Malam ini kian redup, bintang pun seolah meninggalkanku dalam kesendirian. Mungkin hanya dinginnya angin malam yang sanggup menyapaku hingga ke tulang, bukan untuk menghangatkan aku tapi untuk menambah kegetiran sukma. Hanya ada sedikit cahaya yang mampu memasuki kamarku bahkan aku serasa tak ingin mereka masuk walau segarispun. Aku belum berani untuk tidur di ranjang, entahlah semakin aku menatap langit-langit kamar semakin ngilu hati ini. Tubuhku serasa menyatu dengan tembok ingin rasanya hatiku sekokoh tembok yang tahan akan benturan. Air mataku semakin menderas, tak berapa lama pintu kamarku diketuk seorang dari luar. Aku segera melonjak menuju ranjang, pura-pura tidur dan tak mau mendengar ketukan itu lagi.
“Salma…Salma…”, hanya beberapa detik dan panggilan itu sirna.
Aku pun tertidur dengan lampu mati, padahal aku paling benci dengan kegelapan. Keesokan paginya aku sengaja bangun telat dan tak ada niatan untuk berangkat sekolah pun menyapa seisi rumah.
“Salma… Salma…”, aku masih malas untuk bangun tapi itu suara kakak laki-lakiku bukan suara papaku.
Pintu kamarku tidak terkunci, bang Adil kakakku masuk begitu saja sambil membuka selimut yang sedari pagi aku rapatkan ke tubuhku.
            “Ayolah bangun, kamu tak mau sekolah?”, tanya Bang Adil sabar namun aku tak beringsut.
“Aku tahu kamu sedang berantem sama Papa, memangnya apa salah Papa?”, Bang Adil mencoba membuka percakapan itu.
Aku membuka mata yang sebenarnya sudah terbuka dari subuh tadi. Aku menangis terisak didepan Bang Adil.
“Apa kakak pernah ditampar sama Papa?”, tanyaku masih terisak.
“Kalau kakak salah pasti Papa juga marah”.
“Aku tanya, apa kakak pernah ditampar sama Papa?”, tanyaku semakin terisak.
“Memangnya apa yang kau lakukan tadi malam hingga Papa marah padamu?”, tanya Bang Adil masih dengan kesabarannya. Bang Adil dan Papa beda sekali Papa sangat keras, hingga aku kadang membencinya. Sejak Bunda dipanggil Allah tabiat Papa jadi berubah sangat keras.
            “Aku pulang telat dan dan diantar teman cowokku, tapi aku gak ada hubungan apa-apa sama dia hanya dia khawatir aku pulang sendirian, lagi pula Papa juga baru datang dengan calon bininya”, jawabku manyun.
            “Adikku sayang, tante Nira itu bukan calon bunda kita beliau hanya sekretaris Papa, lagian kalau kamu pulang telatkan bisa minta jemput Abang atau Papa”, kata Bang Adil menimpali.
“Pokoknya aku benci Papa yang sekarang titik”, sedetik aku selesai bicara telpon rumah berdering, Bang Adil segera menerima telepon.
“Innaillahi wa inaillahi rojiun”, Bang Adil bergetar dan meneteskan air mata begitu deras. Aku mendekatnya ingin tahu apa yang terjadi.
            Bang Adil memelukku erat dan aku hanya terbengong dengan sangat lugunya.
            “Papa kecelakaan mobil dan sekarang keadaannya kritis”, suara Bang Adil bagaikan petir yang siap menyambarku kapan saja. Barusan aku bilang membenci Papa tapi dadaku ikut bergetar. Kamar seakan menyempit dan menghimpitku hingga semua gelap.
“Papa sebenarnya aku tak membencimu apalagi mengharapkanmu pergi dari sisiku, aku tahu nafsu ini yang membuatku begitu buruk memandangmu tapi yakinlah hati ini selalu mencintaimu. Cepat sembuh Papaku tersayang aku merindukan nasehat bijakmu yang selalu menuntunku dalam kebenaran”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar