cerpen
Malam
ini kian redup, bintang pun seolah meninggalkanku dalam kesendirian. Mungkin
hanya dinginnya angin malam yang sanggup menyapaku hingga ke tulang, bukan
untuk menghangatkan aku tapi untuk menambah kegetiran sukma. Hanya ada sedikit
cahaya yang mampu memasuki kamarku bahkan aku serasa tak ingin mereka masuk
walau segarispun. Aku belum berani untuk tidur di ranjang, entahlah semakin aku
menatap langit-langit kamar semakin ngilu hati ini. Tubuhku serasa menyatu
dengan tembok ingin rasanya hatiku sekokoh tembok yang tahan akan benturan. Air
mataku semakin menderas, tak berapa lama pintu kamarku diketuk seorang dari
luar. Aku segera melonjak menuju ranjang, pura-pura tidur dan tak mau mendengar
ketukan itu lagi.
“Salma…Salma…”, hanya beberapa detik dan
panggilan itu sirna.
Aku pun tertidur dengan lampu mati,
padahal aku paling benci dengan kegelapan. Keesokan paginya aku sengaja bangun
telat dan tak ada niatan untuk berangkat sekolah pun menyapa seisi rumah.
“Salma… Salma…”, aku masih malas untuk
bangun tapi itu suara kakak laki-lakiku bukan suara papaku.
Pintu kamarku tidak terkunci, bang Adil
kakakku masuk begitu saja sambil membuka selimut yang sedari pagi aku rapatkan
ke tubuhku.
“Ayolah
bangun, kamu tak mau sekolah?”, tanya Bang Adil sabar namun aku tak beringsut.
“Aku tahu kamu sedang berantem sama
Papa, memangnya apa salah Papa?”, Bang Adil mencoba membuka percakapan itu.
Aku membuka mata yang sebenarnya sudah
terbuka dari subuh tadi. Aku menangis terisak didepan Bang Adil.
“Apa kakak pernah ditampar sama Papa?”,
tanyaku masih terisak.
“Kalau kakak salah pasti Papa juga
marah”.
“Aku tanya, apa kakak pernah ditampar
sama Papa?”, tanyaku semakin terisak.
“Memangnya apa yang kau lakukan tadi
malam hingga Papa marah padamu?”, tanya Bang Adil masih dengan kesabarannya.
Bang Adil dan Papa beda sekali Papa sangat keras, hingga aku kadang
membencinya. Sejak Bunda dipanggil Allah tabiat Papa jadi berubah sangat keras.
“Aku
pulang telat dan dan diantar teman cowokku, tapi aku gak ada hubungan apa-apa
sama dia hanya dia khawatir aku pulang sendirian, lagi pula Papa juga baru
datang dengan calon bininya”, jawabku manyun.
“Adikku sayang, tante Nira itu bukan calon bunda kita beliau hanya sekretaris Papa, lagian kalau kamu pulang telatkan bisa minta jemput Abang atau Papa”, kata Bang Adil menimpali.
“Adikku sayang, tante Nira itu bukan calon bunda kita beliau hanya sekretaris Papa, lagian kalau kamu pulang telatkan bisa minta jemput Abang atau Papa”, kata Bang Adil menimpali.
“Pokoknya aku benci Papa yang sekarang
titik”, sedetik aku selesai bicara telpon rumah berdering, Bang Adil segera
menerima telepon.
“Innaillahi
wa inaillahi rojiun”, Bang Adil bergetar dan meneteskan air mata begitu deras.
Aku mendekatnya ingin tahu apa yang terjadi.
Bang Adil memelukku erat dan aku hanya terbengong dengan sangat lugunya.
“Papa kecelakaan mobil dan sekarang keadaannya kritis”, suara Bang Adil bagaikan petir yang siap menyambarku kapan saja. Barusan aku bilang membenci Papa tapi dadaku ikut bergetar. Kamar seakan menyempit dan menghimpitku hingga semua gelap.
Bang Adil memelukku erat dan aku hanya terbengong dengan sangat lugunya.
“Papa kecelakaan mobil dan sekarang keadaannya kritis”, suara Bang Adil bagaikan petir yang siap menyambarku kapan saja. Barusan aku bilang membenci Papa tapi dadaku ikut bergetar. Kamar seakan menyempit dan menghimpitku hingga semua gelap.
“Papa sebenarnya aku tak membencimu
apalagi mengharapkanmu pergi dari sisiku, aku tahu nafsu ini yang membuatku begitu
buruk memandangmu tapi yakinlah hati ini selalu mencintaimu. Cepat sembuh
Papaku tersayang aku merindukan nasehat bijakmu yang selalu menuntunku dalam
kebenaran”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar