Engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. dan dikatakan kepada mereka " Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya". Demikian itulah kemenangan yang agung. (Al-Hadid : 12)

Jumat, 27 Desember 2013

Urgensi Dakwah Kampus



Mengapa Kampus ?
Dakwah kampus yang telah bergulir selama 20 tahun lamanya telah memberikan banyak perubahan untuk perbaikan Indonesia. Berbicara tentang dakwah kampus, maka kita akan membicarakan tentang masa depan bangsa dan perbaikan bangsa. Dakwah kampus inilah yang nantinya akan menjadi salah satu tonggak peradaban masa depan. Membangun peradaban, ya itulah yang akan kita lakukan di kampus ini. Saya akan membuka pembahasan ini dengan peran kampus dalam membangun individu yang kuat serta peran sentral dakwah kampus yang identik dengan dakwah mahasiswa.
Dakwah kampus memiliki keunikan tersendiri dari objek dakwah dimana dakwah kampus memiliki objek dakwah yang secara sosio-demografis homogen. Ia seorang yang berpendidikan, menggunakan logika dalam berpikir, serta terbuka terhadap segala informasi. Menilik juga kemampuan mahasiswa untuk melakukan mobilsasi secara hotizontal dan vertikal dalam struktur masyarakat. kesempatan mahasiswa ini juga bisa di gunakan untuk menyebarkan dakwah Islam secara lebih luas, serta untuk mencitrakan mahasiswa itu sendiri. Dimana masyarakat bisa menilai apakah mahasiswa kini, yang akan memimpin bangsa di masa yang datang adalah seorang yang seimbang antara ilmu akademik dan ilmu agama.

Mengapa Mahasiswa?
Mahasiswa memiliki banyak keunggulan lainnya sebagai objek dakwah utama, selain potensi internalnya. Mahasiswa biasanya belum banyak sibuk dengan urusan  dunia, ia masih banyak berkutat dalam hal menuntut ilmu saja. masa depan mahasiswa yang relatif panjang juga merupakan kesempatan tersendiri, seorang mahasiswa saat ini bahkan bisa mendapat gelar sarjana pada usia 20 tahun. Usia yang sangat muda , dan mempunyai kesempatan periode hidup yang relatif panjang untuk merubah diri dan masyarakat. serta sifat pemuda yang melekat pada mahasiswa menjadi kekuatan yang tidak boleh dilupakan, sejarah membuktikan bahwa pemudalah yang nantinya akan mengubah bangsa.
Mahasiswa juga selalu dikenal sebagai pihak yang netral, dimana ia selalu memberi tanpa memihak, ia bergerak berdasar naluri untuk melakukan kebaikan dan perubahan. Budaya untuk berkontribusi juga dapat dilihat pada mahasiswa, ia terus bekerja dan bekerja untuk mencapai tujuannya, budaya dinamis dapat dilihat pada mahasiswa. Selain itu mahasiswa juga mampu menjaring kekuatan hingga tingkat internasional, banyak sekali mahasiswa di dunia ini, dan pada kondisi teknologi maju seperti saat ini, sangat memungkinkan antara mahasiswa beda negara untuk saling bertukar informasi dan membuat sebuah forum/aliansi mahasiswa yang dengan skala internasional.

Dakwah Kampus bagian integral dari dakwah secara umum

Peran dakwah kampus dalam tahapan ini menekankan pada perbaikan individu dan masyarakat.
Perbaikan Individu
Individu atau mahasiswa dalam konteks dakwah kampus perlu dibina sejak dini agar ia sebagai pribadi memiliki kepahaman keislaman yang komprehensif. Sebagai seorang pria , ia akan menjadi seorang kepala keluarga yang akan memimpin sebuah keluarga dan menjadi teladan bagi anak-anaknya. , begitu pula dengan seorang perempuan yang akan menjadi sosok Ibu untuk keluarganya. Dimana ia akan mendidilk anak-anaknya untuk menjadi seorang yang berdedikasi terhadap umat.
Selain itu seorang individu juga dituntut untuk mampu mengoptimalkan segala potensinya agar ia dapat menjadi da’i dimana pun ia berada. Kemampuan seseorang untuk mempengaruhi lalu mengubah sesuatu. Seorang kader dakwah yang terkibat dalam dakwah kampus diharapkan mampu memiliki tujuan hidup sejak dini. Ia diharapkan mampu menentukan what am i going to be ?  dan membuat langkah-langkah yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuannya. Kita juga diharapkan dapat memikirkan tentang problematika umat yang terjadi dan dengan potensi yang kita miliki, kita dapat menjadi solusi perbaikan umat, baik secara parsial maupun integral.
Perbaikan Negara
Mahasiswa setelah lulus akan terlibat dalam struktur sosial masyarakat. dalam bentuk ia bekerja di bidangnya masing-masing. Ada mahasiswa yang nantinya akan menjadi dosen, profesional, birokrat, seniman, dan lainnya yang akan menjadi unsur perbaikan bangsa dalam masyarakat. nantinya mahasiswa akan masuk dalam salah satu dari 3 sektor, antara (1) sektor publik yang terdiri dari birokrat, PNS, TNI/Polri, atau Diplomat. (2) sektor swasta yang biasanya di isi oleh para profesional atau menjadi seorang wirasusaha, dan (3) sektor masyarakat yang terdiri dari LSM, social workers,dan yayasan. Dengan semakin banyaknya mahasiswa yang memiliki keseimbangan antara fikriyah, jasadiyah, dan ruhiyah mengisi pos-pos dalam masyarakat ini, secara bertahap akan mampu mengubah strukur masyarakat di negara ini.
Melihat kesempatan besar dari dakwah kampus, dengan melihat bahwa mahasiswa berada pada middle class  dalam struktur sosial, terutama dalam aspek pendidikan.

Pada piramida diatas dapat dilihat bahwa hanya sedikit saja dari masyarakat yang mampu meneruskan hingga tingkat perguruan tinggi, dan tahapa kampus ini adalah tahao peralihan seorang dari yang masih berstatus pelajar menjadi seorang yang mandiri. Dengan optimalnya perbaikan individu pada mahasiswa, ia diaharapkan dapat juga membuat perubahan di tempat ia bersosial dimanapun. Ketika semua perguruan tinggi mampu melakukan perubahan masyarakat kampus secara optimal, maka perbaikan bangsa akan menjadi konsekuensi logis. Akan tetapi jika kampus gagal untuk memberikan manfaat bagi mahasiswanya dalam perbaikan individu, maka kegagalan masa depan bangsa tinggal menunggu waktu saja. ironisnya memang, hasil dakwah kampus terhadap perbaikan bangsa membutuhkan waktu hingga 30 tahun kemudian. Sehingga kita perlu bersabar terhadap apa yang kita jalankan di kampus.
Pemaparan diatasa akan saya simpulkan selanjutnya bahwa, dakwah kampus ini mempunyai urgensi yang sangat besar. Dakwah Kampus bukan aktifitas organisasi biasa, ini adalah bagian dari pembangunan peradaban. Sehingga Anda perlu serius dalam mengerjakan dakwah kampus ini. Semakin banyak mahasiswa yang tercerahkan akibat dakwah yang dilakukan, maka akan sangat bermanfaat untuk perbaikan bangsa ke depannya. Untuk itu perlu kiranya kita memahami tujuan dakwah kampus, yakni :
  1. Suplai alumni yang berafiliasi terhadap Islam, bagaimana dakwah kampus mampu mensuplai dan mencetak alumni yang punya afiliasi terhadap Islam. Paramater afiliasi disini adalah seorang tidak menolak kebaikan dan menolak kemungkaran, serta tidak menentang ajaran Islam.
  2. Transformasi masyarakat menjadi masyarakat madani. Perbaikan masyarakat kampus dengan pembinaan di segala bidang, dengan harapan dapat membentuk masyarakat madani. Untuk membangun masyarakat madani di masyarakat luas, dapat dimulai dengan membangun masyarakat madani pada tingkat kampus.
  3. Penyedia unsur-unsur perbaikan negara, yakni bagaimana dakwah kampus mampu mempersiapkan para mahasiswa untuk masuk ke salah satu dari sektor sosial ( publik, swasta, masyarakat ). Dimana ia tidak hanya disiapkan secara kompetensi, akan tetapi juga disiapkan secara pemahaman dakwah. Sehingga perbaikan negara dapat dilakukan secara bottom up.
Dengan memahami urgensi dakwah kampus ini diharapkan setiap aktifis dakwah kampus dapat mempunyai gambaran besar dakwah kampus ini. Dengan berpikir besar ini seorang akan mempunyai visi masa depan yang akan membuat dirinya senantiasa produktif dan inovatif.

Menjadi Mentor Idaman

Bagaimana agar saya bisa menjadi mentor yang baik ? apa saja yang harus saya persiapkan dan harus saya pahami ?
 
Mentor adalah salah satu bentuk kaderisasi dua arah yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan da’iyah seorang kader. Pada saat seseorang menyampaikan materi, secara tidak langsung ia juga belajar untuk memahami kembali materi yang ada. Orang bijak pernah berkata, ketika Anda bisa mengajarkan sesuatu kepada orang lain, maka Anda berarti telah memahami sesuatu. Saya sangat sepakat dengan statement ini, dimana seseorang yang menjadi mentor tentu akan menyiapkan dirinya dengan baik.

Proses kaderisasi dua arah ini sangat diharapkan dapat dilakukan oleh semua kader, bagaimana seorang kader dakwah bisa melakukan aktifitas tarbiyah dan dakwah secara bersamaan. Oleh karenanya dibutuhkan pelatihan dan kesempatan untuk mempraktikan menjadi mentor sejak dini dan berkelanjutan.

Dalam beberapa kesempatan saya memberikan materi pada diklat mentor pada beberapa kampus atau SMU, saya menemukan masalah yang kerap ditemukan oleh para mentor pemula. Permasalahan ini seputar, ketidakpahaman materi, kemampuan komunikasi yang terbatas, kepercayaan diri, serta kekhawatiran tidak bisa menjadi mentor yang amanah. Dan, yang membuat saya bingung adalah, kenapa semua alasan ini sering dijadikan sebuah alasan untuk tidak mau menjadi mentor. Penundaan kesiapan ini justru membuatnya tidak menjadi mentor untuk selamanya karena tidak urung memulai.
Pada dasarnya alasan diatas bisa diselesaikan dengan cara yang sangat sederhana. Ketidakpahaman akan materi bisa disolusikan dengan membaca buku referensi yang tepat, saya sangat kagum pada buku Satria Hadi Lubis yang banyak berbicara tentang menjadi mentor yang baik. Selain buku panduan menjadi mentor, buku buku pemahaman diniyah dan wawasan umum perlu juga kita baca. Permasalahan komunikasi bisa diselesaikan dengan latihan berbicara dari lingkup yang kecil, mungkin dimulai dari didepan satu orang saja, lalu didepan 5 orang, dan seterusnya hingga ada keyakinan pada diri untuk berbicara, atau mungkin berbicara di depan cermin dapat menjadi media untuk latihan tambahan. Ketidakercayaan diri juga saat ini bisa dibantu dengan mencoba berpikir positif serta memandang kelebihan diri sebagai sebuah keunggulan. Selain itu berlatih menjadi mentor dengan membina dari yang lebih muda bisa menjadi media latihan yang baik. Sebutlah Anda seorang mahasiswa tingkat 2, maka bisa menggunakan siswa SMU sebagai latihan untuk memberikan materi mentoring. Untuk kekhawatiran bahwa Anda tidak bisa amanah akan apa yang disampaikan, Anda bisa mentekadkan dalam diri bahwa setelah Anda menyampaikan sesuatu, maka Anda akan langsung menjalankannya.
Bisa saya coba memahami bahwa sebab mengapa ada kader yang punya permasalahan diatas adalah dikarenakania tidak cukup memiliki bekal yang layak untuk menjadi mentor, selain bekal secara ilmu, bekal secara pengalaman atau jam terbang menjadi kebutuhan tersendiri. Berbagai teori tentang mentor ideal mungkin sudah banyak bisa kita dapati, akan tetapi ternyata untuk mengaplikasinya secara penuh merupakan tantangan tersendiri, karena setiap orang punya personal capacity yang berbeda dan kondisi setiap anggota kelompok juga berbeda. Sehingga trik di lapangan akan lebih bermanfaat ketimbang pemahaman materi saja.

Pada kasus ini saya akan menyampaikan beberapa tips saja untuk menjadi seorang mentor yang memahami posisinya, saya tidak akan berbicara materi apa yang tepat atau bagaimana berkomunikasi, akan tetapi jika Anda memahami peran Anda sangat penting sebagai mentor ini, harapan saya Anda bisa termotivasi untuk menjadi mentor yang terus belajar menjadi lebih baik. 

Peran mentoring dalam tahapan ini ada pada tahap ke-dua, dimana proses pembentukan kader. Mentoring berperan dalam menguatkan kader yang sudah baik, dan membentuk kader baru menjadi seorang kader yang militan dan produktif. Supplai kader ini akan menentukan keberhasilan pada tahapan selanjutnya. Saya pernah menganalogikan mentoring sebagai tulang punggung dakwah yang selalu mencetak darah (baca:kader) baru setiap tahunnya.
Jika dipresentasekan, maka kurang lebih komposisinya dalam hal keberhasilan dakwah adalah
Fase perkenalan     : 30 %
Fase pembentukan : 30 %
Fase penataan        : 20 %
Fase eksekusi         : 20 %
Besarnya komposisi ini menggambarkan bahwa peran sentral mentor dalam mengelola mentoring merupakan peran besar yang sangat strategis dalam pembangunan dakwah kampus kita. Oleh sebab itu, pengelolaan mentoring serta pemahaman mentor yang baik adalah sebuah kebutuhan untuk menguatkan basis ekspansi lembaga maupun kader. Kader yang kuat akan mampu merencanakan dan menjalankan sistem yang kuat, dan sistem yang kuat juga akan menghasilkan kader yang kuat pula. Berikut akan saya paparkan sedikit mengenai tips untuk menjadi mentor yang baik untuk peserta mentoringnya.

Memiliki Ruhiyah yang stabil
Kekuatan ruhiyah atau saya sering menyebut kekuatan langit yang Allah berikan untuk kadernya yang memiliki kedekatakan kepada-Nya. Kekuatan ruhiyah lah yang menunjan seorang kader untuk selalu bertahan dalam dakwah, ia memiliki keyakinan dan keikhlasan bahwa setiap aktifitas yang dilakukan adalah dengan tujuan mendapatkan ridho Allah semata. Sehingga segala tantangan yang dihadapi dapat ia maknai sebagai sebuah ujian untuk meningkatkan kualitas keimanan atau sebuah teguran atas kelalaian yang mungki terjadi. Kekuatan ruhiyah dalam konteks mentoring berdampak pada kemampuan diri untuk menyampaikan materi dan diresapi oleh peserta mentoring, dengan kekuatan ini pula, Allah akan membalas cinta kita dengan membukakan hati hati dan pikiran kita dan binaan kita untuk menerima apa yang kita sampaikan. Saya pernah menemukan seorang mentor yang memiliki kelemahan dalam hal berkomunikasi, akan tetapi ia memiliki keunggulan ruhiyah yang baik untuk menunjang amanahnya sebagai seorang mentor, sehingga Allah memudahkan kelompoknya dengan membukakan hati binaannya yang saat itu masih jauh dari Allah dan saat ini menjadi seorang kader yang sangat produktif. Kekuatan ini memberikan ketenangan dan emosi yang menyatukan hati Anda dengan binaan dalam rajut tali menali Kecintaan kepada Allah semata. 

Mengenal Pribadi Binaan
Mengenal dengan baik binaan atau peserta mentoring adalah hal yang perlu dilakukan untuk menguasai medan kelompok, mengenal secara pribadi binaan sejak awal dengan harapan dapat segera “in” dengan binaan dan terbentuk kepercayaan diantara mentor dan binaan. Kepercayaan ini adalah modal yang penting bagi seorang mentor dalam menyampaikan materi. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang mentor mengetahui apa saja yang perlu dipahami olehnya untuk dapat memberikan empatinya dengan baik kepada binaannya.
Karakter, mengetahui bagaimana karakter umum dari binaan, Anda bisa menggunakan buku panduan personality plus untuk mengidentifikasikan karakter binaan. Apakah ia seorang korelis, melankolis, plegmatis, dan sangunis. Dengan mengetahui bagaimana karakternya Anda akan lebih mudah untuk memahami binaan.
Kultur, setiap orang punya kultur yang berbeda-beda, seorang dari Aceh, medan, tentu berbeda dengan seorang dari Jawa atau papua. Setiap kultur ini punya kekhasan masing-masing. Gunakan perbedaan kultur yang ada sebagai kesempatan untuk lebih dekat, dan gunakan kesaam kultur dengan binaan sebagai pendekatan untuk menyampaikan materi.
Latar belakang, masa lalu atau latar keluarga yang berbeda akan berpengaruh terhadap pola pikirnya. Seorang kader yang berasal dari keluarga yang bercukupan tentu akan punya taste dan preference yang khas. Seorang kader yang mungkin punya masa lalu yang suram tentu akan berpikir beda dengan seorang kader yang berasal dari keluarga ulama. Anda sebagai mentor diharapkan dapat mengetahui latar belakang binaan dan dapat mengemas materi sesuai dengan pola pikir binaan.

Visi Personal, setiap manusia mempunyai keinginan, dan masa depan masing-masing. Anda sebagai mentor sangat dituntut untuk mengetahui apa yang akan jadi keinginannya di masa datang, sehingga Anda dapat membimbingnya untuk menuju masa depannya yang baik.
Kompetensi, maksud kompetensi disini adalah kemampuan pribadi binaan, apakah itu kompetensi agama, kompetensi akademik, kompetensi seni, kompetensi olahraga, kompetensi softskill, atau kompetensi lainnya. Jadikan kompetensi ini sebagai sebuah kelebihan binaan dan gunakan kesempatan ini sebagai upaya untuk pendekatan materi. Seorang mahasiswa IT bisa didekati dengan contoh contoh istilah programming yang cocok dengan materi. Atau mahasiswa kedokteran yang bisa menggunakan pendekatan bedah mayat sebagai upaya untuk lebih melihat keagungan Allah. 

Mengetahui peran Anda
Brother/sister, Seorang kakak / saudara , seorang mentor akan berfungsi sebagai seorang kakak atau saudara bagi peserta mentoring dalam hal diskusi dan menceritakan isi hati atau masalah yang mungkin dihadapi, oleh karena itu seorang mentor perlu memiliki karakter empatik dengan harapan dapat menyentuh hati para peserta mentoring sehingga terjadi keterbukaan, dan terbentuk nuansa kekeluargaan dalam kelompok mentoring tersebut.
Coach, Sosok pelatih, pelatih adalah sosok yang memberikan arahan, mengajarkan cara melakukan sesuatu, mencontohkan, mengawasi peserta latihan melakukan sesuatu, memotivasi ketika gagal, memberi selamat ketika berhasil, dan setia mendampingi agar peserta dapat melakukan suatu hal. Untuk itu diperlukan karakter pengkader yang ulung bagi seorang mentor. Karena ialah yang akan senantiasa berinteraksi dengan para peserta mentoring untuk dibutuhkan pula kemampuan merangkul dan mempengaruhi dari seorang mentor.
Pathfinder, Petunjuk jalan, seorang mentor diharapkan dapat sebagai pembimbing bagi para peserta mentoring untuk menapaki masa depannya. Dalam hal ini seorang mentor perlu memahami potensi dari peserta mentoring dan memberinya alternatif pilihan terkait masa depannya. Sebagai contoh kecil, dalam hal memilih sub-jurusan pada sebuah program studi, seorang mentor dituntut untuk bisa memberikan gambaran yang jelas mengenai pilihan yang ada, dan memberikan rekomendasi kepada peserta mentoring. Oleh karena itu seorang mentor diharapkan dapat memiliki karakter pemimpin yang bisa mengarahkan peserta mentoring.
Headhunter, Penyiapan dan Pembentuk Mentor baru, kebutuhan dakwah kampus akan mentor atau mentor senantiasa bertambah, oleh karena itu seorang mentor diharapkan dapat membentuk karakter peserta mentoring  untuk dapat menjadi mentor di masa yang akan datang.

Variasi Metode
Metode penyampaian materi divariasikan sebanyak mungkin, jika memungkinkan cara penyampaian berbeda setiap pekannya. Minimal siapkan 4 variasi metode, sehingga setiap variasi ditemui setiap bulan. Sebutlah, pertemuan olahraga bersama, bedah buku, kunjungan ke ustadz/tokoh, rihlah, memasak bersama, skill pendukung untuk bekeluarga (membetulkan mobil, membetulkan listrik, menjahit, dan lain-lain), makan bareng, simulasi dan lain lain. Variasi ini bertujuan untuk menghindari kejenuhan binaan. Penyampaian materi pun juga disesuaikan dengan kebutuhan agar binaan siap untuk menerimanya.

Refernsi
bagaimana menyentuh hati ; abbas asyisi
buku terbitan ustadz satria hadi lubis



Sabar adalah Tuntutan Setiap Mihwar Daulah



Oleh : Cahyadi Takariawan

Kamis (21 Nopember 2013) kemarin, ustadz Anis Matta memberikan taujih kepada para aktivis dan qiyadah dakwah yang berkumpul di Jakarta Convention Center (JCC). Di antara isi taujih beliau adalah tentang pentingnya kita menguatkan kesabaran dalam menapaki jalan perjuangan. Menurut beliau, sabar adalah karakter dan akhlaq yang paling banyak disebut di dalam Al Qur’an, sampai para ulama menyebut sabar sebagai induknya semua akhlaq terpuji.

Tiada hentinya kita harus mengingatkan diri tentang kesabaran. Bukan hanya karena di jalan dakwah akan banyak tantangan dan hambatan dari luar. Makar, konspirasi, pembusukan karakter, pengadilan yang tidak adil, persepsi publik yang negatif, penyelewengan opini lewat berbagai media, dan lain sebagainya. Namun kesabaran ini diperlukan di setiap mihwar, karena secara internal pun dakwah ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang sabar.

Sabar, sabar, sabar... Beginilah jalan dakwah telah kita lalui. Berkomunitas bersama orang-orang salih bukannya tanpa masalah, maka Allah memerintahkan agar kita selalu bersabar bersama mereka :
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (Al Kahfi : 28).

Bisa jadi ada salah paham di antara para aktivis. Bisa jadi ada ketidaknyamanan perasaan di antara para pelaku dakwah. Bisa jadi ada gesekan-gesekan antar aktivis dakwah dalam kancah politik praktis. Bisa jadi ada data yang kurang valid, namun digunakan untuk pengambilan keputusan. Bisa jadi ada stigma yang menganga, dan tidak pernah ada pengadilan yang memberikan klarifikasi. Bisa jadi ada persepsi yang keliru terhadap seorang aktivis namun diyakini dan digunakan untuk memberikan penilaian kepadanya. Bisa jadi ada ketidaktepatan dalam menerapkan teori-teori fiqih dakwah yang telah dipelajari selama ini.

Capek, lelah mendera jiwa dan raga. Namun ini adalah pilihan, yang tidak ada sedikitpun paksaan kita bersamanya. Bisa jadi di sepanjang perjalanan dakwah ini ada ketidakpahaman, ada ketidakmengertian, dan kita tidak pernah menemukan jawaban. Bisa jadi Khalid bin Walid tidak pernah mengerti mengapa dirinya diganti dari posisi panglima perang yang demikian dihormati. Namun toh kehormatan dirinya tidak runtuh karena posisi itu tidak lagi dia miliki.

Kehormatan diri kita adanya pada konsistensi. Konsisten menapaki kebenaran. Konsisten menapaki jalan kebaikan. Komitmen pada peraturan. Teguh memegang keputusan. Mendengar dan taat, itulah karakter kader teladan. Bukankah ini ujian, karena yang kita dengar dan kita taati bisa jadi berbeda dengan suara hati nurani. “Qum Ya Hudzaifah !” Menggelegar suara perintah. Dan Hudzaifah segera bangkit berdiri. Taat tanpa kompromi kepada Sang Nabi.

Kehormatan diri bukan terletak pada posisi kita sebagai apa. Tidak menjadi apa-apa, tetap bisa dihormati. Kita terhormat karena karakter yang kuat, kita terhormat karena karya yang tiada pernah berhenti, kita terhormat karena kerja yang terus menerus, kita terhormat karena keteladanan, kita terhormat karena konsisten, kita terhormat karena kesabaran dan kesetiaan di jalanNya.

Sabar, itulah kunci keberhasilan dakwah di setiap mihwar.

sumber : PKS Piyungan

Agar Tidak Putus asa



Putus asa akan menghampiri kita saat kita menempuh perjalanan yang panjang atau mendapatkan kegagalan dari perjalanan-perjalanan yang kita tempuh. Bagaimana agar kita tidak putus asa?

Mari kita ibaratkan perjalanan panjang seperti lari marathon. Anda pernah marathon? Yang kita rasakan pada saat kita sedang berlari dalam jarak yang jauh ialah keinginan segera berhenti, minum, dan beristirahat. Lalu mengapa tidak berhenti? Jika Anda berlari atas inisiatif sendiri, kemungkinan Anda berhenti akan lebih besar ketimbang seorang atlit yang sedang berlomba. Mengapa? Karena imbalan yang akan didapat lebih menarik dan lebih jelas. Kalau dia tidak sampai, bukan hanya tidak akan mendapatkan juara, tetapi juga malu. Jadi agar Anda tidak putus asa, maka Anda harus memiliki tujuan yang sangat menggairahkan Anda dan jelas.

Mungkin saja, saat kita berlari, kita tidak ingin untuk berhenti. Tetapi akhirnya berhenti juga karena kita sangat kelelahan. Dengan kata lain energi kita sudah terkuras habis. Seorang atlit tidak akan mudah kelelahan karena dia memiliki energi yang cukup. Energi yang tentu saja didapat dari latihan yang cukup dan makanan yang dikonsumsinya. Begitu juga jika kita tidak ingin cepat putus asa maka kita harus memiliki energi yang cukup. Baik energi dalam arti sebenarnya, maupun energi dalam arti motivasi.

Gagal lagi, gagal lagi, dan gagal lagi. Hal seperti ini pun akan memungkinkan kita putus asa. Anda telah mencoba, Anda telah bersabar, dan Anda telah berusaha, namun kegagalan dan kegagalan yang menemui Anda. Keadaan seperti ini bisa diibaratkan seperti sesorang yang sedang mencari suatu tempat tetapi tidak mengetahui harus lewat mana.

Jika jalan yang Anda ketahui sedikit, maka Anda akan cepat berhenti karena tidak ada jalan lagi yang bisa ditempuh. Tetapi jika Anda mengetahui banyak jalan, maka Anda mencoba jalan yang lainnya sampai menemukan jalan yang benar. Semakin banyak jalan yang Anda ketahui dan energi Anda masih cukup maka kemungkin untuk bergerak terus masih sangat memungkinkan.

Jalan yang dimaksud disini adalah ide. Saat Anda gagal dengan satu ide, maka Anda bisa mencoba ide yang lain. Ide tersebut bisa Anda dapatkan baik dari ide sendiri maupun ide dari orang lain. Agar bisa menghasilkan ide sendiri maka diperlukan kreativitas. Sementara untuk mengetahui ide dari orang lain, maka yang diperlukan adalah menuntut ilmu.

sumber : PKS Piyungan