cerpen
Cinta itu bisa tertimbun denga cinta yang lain. Siapa
yang lebih banyak memberikan cinta maka dia yang paling banyak mendapatkan
cinta juga, jadi sejenis ada timbal balik pada cinta. Bukan hanya cinta
sebenarnya tapi perbuatan baik dan buruk pun akan sesuai dengan apa yang kita
berikan.
Masih sangat ku ingat kenakalannya waktu SD. Mulai dari memukuli
teman-teman, sombong dan gak peduli dengan yang lain. Entahlah mungkin memang
dia dari keluarga terpandang. Tapi aku heran apa yang membuatku bisa meliriknya
lebih dalam dari yang lain, padahal tiap haripun aku mendapat kekejaman darinya
bahkan aku rasa aku teman cewek yang paling sering mendapatkan kekejaman
darinya. Tiada hari tanpa pertengakaran dengannya. Sampai teman-teman
mengolok-olok kami berdua sebagai pasangan yang serasi.
Waktu mau ngadain peringatan Agustus guru-guru kami
menyuruh kami memakai baju dari berbagai daerah. Wah aku dapat provinsi Jambi,
ku lirik beberapa teman cowokku yang belum terpilih, masih ada dia. Dalam hati
aku berdoa bisa dipasangkan dengannya.
“Didi kamu maju ke depan”, bu guru mrnyuruhnya maju
akankah dia yang menjadi pasanganku, aku mulai berharap-harap. “Sepertinya
mereka cocok”, bisik guruku dengan guru yang lain.
Akhirnya doaku terkabul, aku menjadi sepasang memakai
baju sama dengan dia, senangnya.
“Sebenarnya aku gak mau dipasangain sama Cici, males
banget”, dia bicara dengan teman cowok yang lain sambil memandangku sinis. Aku
terkejut, mungkin dia beneran tidak suka dipasangkan denganku. “Aku juga gak
mau sebenarnya sama kamu, sorry ya”, aku mulai berdusta untuk menutupi rasa
kecewaku.
Hari yang ku tunggu pun tiba. Aku merasa senang bisa
dipasangkan dengannya. Dari jauh dia sudah terlihat karena pakaian kami yang
sama karena sepasang. Aku pasang senyum termanis ku tapi mungkin baginya
senyumku sangat jelek.
“Apa senyum-senyum”, katanya sinis padaku.
“Bu guru sudah menunggumu dari tadi, cuma beberapa pasang
saja yang belum lengkap”, kataku menimpali.
“Aku gak peduli, jangan senyum kamu kelihatan jelek,
pakaianmu juga jelek”, aku hanya menunduk, ingin sekali aku memukulnya. Apa
baginya aku sangat jelek bukannya dia sendiri juga jelek, pikiranku berantakan.
Kalau saja ibu guru tak menghiburku mungkin aku sudah menangis waktu itu.
Akhirnya acara Agustusan pun selesai, aku pulang masih dengan muka masam tak
kuat dengan kata-kata yang diucapkannya, hanya membuat aku sakit saja.
Aku sudah melupakan acara waktu itu karena kebiasaan
berantem, kejar-kejaran, injek-injekan tas dan masih banyak lagi. Dan satu lagi
yang masih aku ingat waktu aku ditunjuk untuk ikut olimpiade mewakili sekolah,
sedangkan guru masih binggung menentukan satu lagi temanku yang cowok untuk
mewakili sekolah, karena ada dua cowok yang bersaing cukup ketat. Akhirnya Didi
dan aku terpilih untuk ikut olimpiade. Beberapa minggu kami diberi pelajaran
tambahan terkait olimpiade yang akan kami ikuti. Aku semakin dekat dengannya.
“Kalian belajar berdua dulu ya, ibu masih ada sedikit
urusan nanti kita lanjutkan belajarnya”, kata bu guru.
“Iya bu”, kami menjawab kompak, tapi tak sekompak apa
yang aku pikirkan.
“Ah males belajar, kamu aja yang ngerjain soal-soal ini,
nanti aku pinjem jawabannya deh”, dia melemparkan soal-soal itu padaku. Aku
semakin marah padanya, kenapa dia sama sekali tidak peduli padaku, aku jengkel.
Waktu olimpiade pun tiba, aku sudah belajar cukup keras,
entahlah dia belajar bagaimana, setauku kalau aku bersamanya belajar dia sama
sekali tak semangat, apa itu gara-gara aku. Alhamdulillah aku masuk final
sedangkan sayangnya dia tidak.
“Jangan sombong ya, cuma masuk final aja”, kata dia
bersungut-sungut meninggalkanku. Aku hanya geram dan ingin rasanya meneteskan
air mata, bukannya memberiku selamat dan terus menyemangatiku karena aku yang
akan mewakili sekolah malah marah-marah padaku, jelas aku sedih dibuatnya.
Kamipun lulus SD bersama dan melanjutkan ke SMP yang
sama. Aku sebenarnya berharap bisa sekelas lagi dengannya tapi kali ini doaku
tak terkabul mungkin Allah punya rencana lain. Di SMP pun aku semakin
melejitkan prestasiku. Aku diikutkan disetiap olimpiade matematika, teman
sekelasku pun banyak yang menjulukiku professor. Aku semakin lupa dengan dia,
mungkin dia juga semakin melupakanku.
Saat SMP pun terasa sebentar, kami melanjutkan ke SMA
yang berbeda. Aku masuk di SMA favorit di kotaku, sedangkan dia tidak. Aku
semakin jarang melihatnya bahkan hampir tak pernah melihatnya. Aku semakin
mengejar prestasi dan akademikku hingga aku mampu melanjutkan kuliah ke kota
lain dan Universitas yang terkenal dengan beasiswa. Aku cukup bangga dengan
semuanya, tapi aku tak lupa dengan teman-teman SD, SMP dan SMA ku.
Komunikasipun mulai ku perlancar kembali.
Karena merasa hubungan dengan teman SD yang sangat buruk
karena jarang sekali bertemu, akhirnya aku adakan buka bersama waktu ramadhan
sekaligus temu kangen karena sangat lama sekali tidak bercanda dan bersama.
“Wah Cici kamu kok ada ide mempertemukan kita kaya
gini?”, salah satu teman SD ku mulai membuka pembicaraan.
“Loh bukannya kita jarang ketemu, jadi biar ukhuwah kita
semakin baik hehehe”, jawabku sekadarnya.
“Eh bentar aku mau duduk samping Cici”, ku toleh siapa
yang bicara, ternyata Didi. Kenapa dia mau-maunya duduk dekatku bukannya aku
musuh besarnya.
“Cie didi-cici bersatu lagi”, olok-olok dari temanku
mulai terdengar lagi setelah 8 tahun tidak mendengarnya. Sudah lama sekali ya
ternyata.
Kami bincang-bincang hingga waktu berbuka dan dilanjutkan
setelah buka, teman-teman SD ku banyak yang sudah berubah. Yang dulu masih
pendek sudah tinggi yang dulu ingusan sekarang tambah ganteng dan yang pasti
banyak yang merokok. Ada yang masih kuliah dan ada juga yang sudah kerja, tapi
kami saling mengisi dan berbagi. Tidak ada perbedaan diantara kami semua seperti
kembali pada masa kecil, senang dan bahagia.
“Ci nanti pulang bareng aku aja ya”, sahut Didi sambil
makan disampingku, aku hanya melirik saja tanpa menjawab karena tadi aku kesini
berboncengan dengan tetanggaku.
“Eh eh Za, fotoin kita berdua donk, hanya berdua ya”,
pinta Didi sambil menunjuk kami berdua dan menggeser kursinya untuk
mendekatiku, namun sikapku biasa saja , acuh tepatnya.
“Nanti kumpul dulu yuk ditempat Sari sebelum pulang kan
kita lama gak ketemu”, ide temanku yang lain. Sari itu tetangga yang tadi
bonceng aku. Dan semua menyetujuinya.
“Ci, Sari udah pulang dulu dengan teman yang lain kamu
sama aku ya, aku bonceng”, pinta Didi. “Masa sih mbak Sari udah pulang”, aku
masih menoleh ke kanan kiri tapi tak menemukan satu pun temanku. Yah terpaksa
aku pulang dengan Didi.
“Eh Ci, kamu sekarang berubah ya”.
“Berubah jadi apa? power ranger apa monsternya?”, komentarku
pias karena aku tak biasa dibonceng cowok.
“Berubah jadi putri”, aku terdiam sampai rumah Sari.
“Darimana saja kalian lama banget kencan dulu ya”, olok
temanku lagi. Aku hanya diam sambil senyum.
Dari kejadian itu dia sering ke rumahku dengan berbagai
alasan, mulai ngopi foto waktu buber sampai pinjem buku dan sharing tentang
agama. Yah aku memaklumi mungkin dia ingin menjalin ukhuwah dan mengakui
kesalahan waktu SD kalau dia yang sebenarnya sangat nakal dan usil.
SMS pun mulai terjalin tapi aku menanggapinya dengan
biasa ya memang aku sekarang tidak punya perasaan apapun ke dia.
Ci kamu sekarang
tambah dewasa, tambah tinggi dan tambah manis
Masa’ sih kamu juga tambah tinggi
tapi tetep belum keliatan dewasa hehehe…
Kamu pernah pacaran Ci?
Gak, knapa?
Aku boleh daftar gak?
Apa? Knapa?
Aku suka kamu Ci
Sejak kapan suka aku?
Sejak aku tau kamu lewat fb,
mungkin setaun yang lalu
Kenapa gak dari SD kamu suka sama aku?
Waktu SD kamu jelek sih
Jadi sekarang udah cantik?
Tambah manis dan cantik
Kalau aku jadi jelek lagi gimana?
Gak bakal, kamu mau gak jadi
pacarku? Kamu suka aku gak?
Aku gak pacaran, tolong hargai
prinsipku lagian aku gak suka kamu
Sejak
saat itu dia semakin penasaran dengaku dan prinsipku untuk tidak pacaran. Dia tanya
ini itu untuk memperkuat pertanyaannya dan melemahkan prinsipku.
Jadi kamu gak pernah suka sama
cowok? Kamu masih normalkan?
Ya pernahlah tiap orang pasti
pernah suka dengan lawan jenis.
Dia
semakin mengejarku dengan berbagai pertanyaan yang aneh-aneh hingga aku mulai
muak dengan pertanyaannya. Hingga ku putuskan untuk memberitahunya.
Di tolong jangan pernah sms aku
lagi, dulu memang aku pernah suka padamu waktu SD tapi kau selalu cuekin aku
sekarang aku gak ada perasaan apapun ke kamu, tolong jgn mengejarku dengan
pertanyaan konyolmu itu karena aku memaag tak mau pacaran dan ingin langsung
nikah lagian aku sudah dikitbah orang lain. Jadi tolong jangan hubungi aku lagi
kalau tidak ada yang penting. Maaf Di
Sejak saat itu Didi tidak menghubungiku lagi kecuali
kalau ada reuni SD atau yang berhubungan dengan teman SD. Beberapa waktu aku
menemukan buku catatan SD yang masih tersisa, aku buka-buka lagi dan menemukan
selembar tulisan seper jelek, tapi itu bukan tulisan tanganku. Sudah kumal dan
kelihatan sangat jadul.
Untukmu
makhluk jelek weeeekkkk
Aku
suka kamu hehehe… tapi aku malu mau ngomong soalnya aku benci teman-teman yang
ngolok-ngolok kita terus. Kamu mau gak jadi pacarku, kalau mau temui aku di
dekat tempat sepeda ya pulang sekolah. Oh iya selamat kamu masuk final di
olimpiade, aku sebenarnya iri sama kamu tapi tetap semangat ya…Aku tunggu lo
kamu besuk sebelum kita dijemput mama
Thatha
makhluk jelek yang manis weeeeekkkkk
Aku hanya tersenyum.
Bagaimana anak SD sudah bisa menuliskan surat cinta sebagus ini. Maaf aku tak
bisa menumui mu di tempat parkir dulu, sekarang atau nanti. Tapi semuanya sudah
terlambat Di. Aku sudah mau bersama orang lain yang akan menjagaku lagian aku
sudah terbiasa tanpamu dan tak menyukaimu lagi. Inilah aku dan aku tak akan
menyesal dengan segala keputusanku. Semoga kau mendapatkan yang terbaik bagimu.
Kita tetap teman dan musuh besar kok Di hehehehe.
