petuah tentang Ibu
Aku
tak punya kaki karena hal kecil. Beginilah ceritanya.
“Ibu aku akan pergi bermain sebentar
saja, boleh?”, tanyaku pada ibu yang sedang memasak. Waktu itu usiaku masih 10
tahun.
“Hati-hati, jika waktu ashar tiba segera
pulang”, jawab ibuku dari dapur.
“Iyaaa”, seruku sambil berlari.
Pada waktu itu aku sangat usil
sekali, banyak hewan yang aku usili, bahkan membuatnya mati. Aku bermain-main
dengan temanku di taman rumput yang banyak burungnya. Aku dan temanku bisa
menangkap burung dengan mudahnya.
Kami menangkap 10 burung, ada yang
masih kecil dan beberapa sudah besar. Mulanya kami hanya memasukkannya dalam
sebuah kurungan, tapi pikiran usilku segera terlintas. Aku menjerat kaki-kaki
burung itu dengan tali satu sama lain, mereka berusaha kabur. Tapi apa daya
kekuatanku jauh lebih besar, namun siapa tau hanya kekuatan doalah yang paling
besar.
Waktu sudah masuk ashar, tapi aku
lupa waktu karena burung-burung itu. Teman-temanku mengajakku untuk pulang tapi
aku membantahnya, aku masih ingin main. Ternyata ibu mencariku karena aku tak
memenuhi janji jika sudah tiba waktu ashar aku akan pulang.
Aku melukai burung-burung, kaki
mereka aku ikat dan memutus kakinya satu persatu, ternyata kejadian itu
diketahui ibuku, aku sangat terkejut.
“Apa yang kau lakukan dengan kaki
burung itu”, itu terkejut melihatku mematahkan kaki-kaki burung.
Aku tak bisa menjawab. “ Apa kau
tidak berfikir sakit yang dirasakan burung itu, burung juga makhluk ciptaan
Allah”, ibu kelihatan murka.
“Tapi itu hanya burung bu”, jawabku.
“Kelak Allah akan memutus kakimu
sebagaimana kamu telah memutus kaki burung itu”, ibu murka dan meninggalkanku.
Aku merasa ketakutan, jikalau benar perkataan ibu itu.
Setelah beberapa tahun lamanya aku
mulai lupa dengan perkataan ibu, mungkin tidak terbukti.
Waktu aku mau menuntut ilmu, aku
mendapat musibah di perjalanan. Aku jatuh dari kendaraan (tunggangan) ku.
Begitu sakit rasanya, hingga kakiku harus diamputasi. Sekarang aku tak memiliki
kaki layaknya burung-burung yang ku putus kakinya. Ternyata perkataan ibu
adalah doa yang mustajab yang tak bisa dielak lagi. Janganlah berkata kasar dan
membuat ibu murka karena segala perkataan yang keluar dari mulut ibu adalah doa
yang sangat dekat terkabulnya kepada Allah.
Orang
yang dimaksud dari kisah tersebut adalah Az-Zamakhsari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar