Engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. dan dikatakan kepada mereka " Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya". Demikian itulah kemenangan yang agung. (Al-Hadid : 12)

Jumat, 27 Desember 2013

Sudah Terlambatkah ?


cerpen

            Cinta itu bisa tertimbun denga cinta yang lain. Siapa yang lebih banyak memberikan cinta maka dia yang paling banyak mendapatkan cinta juga, jadi sejenis ada timbal balik pada cinta. Bukan hanya cinta sebenarnya tapi perbuatan baik dan buruk pun akan sesuai dengan apa yang kita berikan.
            Masih sangat ku ingat kenakalannya waktu SD. Mulai dari memukuli teman-teman, sombong dan gak peduli dengan yang lain. Entahlah mungkin memang dia dari keluarga terpandang. Tapi aku heran apa yang membuatku bisa meliriknya lebih dalam dari yang lain, padahal tiap haripun aku mendapat kekejaman darinya bahkan aku rasa aku teman cewek yang paling sering mendapatkan kekejaman darinya. Tiada hari tanpa pertengakaran dengannya. Sampai teman-teman mengolok-olok kami berdua sebagai pasangan yang serasi.
            Waktu mau ngadain peringatan Agustus guru-guru kami menyuruh kami memakai baju dari berbagai daerah. Wah aku dapat provinsi Jambi, ku lirik beberapa teman cowokku yang belum terpilih, masih ada dia. Dalam hati aku berdoa bisa dipasangkan dengannya.
            “Didi kamu maju ke depan”, bu guru mrnyuruhnya maju akankah dia yang menjadi pasanganku, aku mulai berharap-harap. “Sepertinya mereka cocok”, bisik guruku dengan guru yang lain.
            Akhirnya doaku terkabul, aku menjadi sepasang memakai baju sama dengan dia, senangnya.
            “Sebenarnya aku gak mau dipasangain sama Cici, males banget”, dia bicara dengan teman cowok yang lain sambil memandangku sinis. Aku terkejut, mungkin dia beneran tidak suka dipasangkan denganku. “Aku juga gak mau sebenarnya sama kamu, sorry ya”, aku mulai berdusta untuk menutupi rasa kecewaku.
            Hari yang ku tunggu pun tiba. Aku merasa senang bisa dipasangkan dengannya. Dari jauh dia sudah terlihat karena pakaian kami yang sama karena sepasang. Aku pasang senyum termanis ku tapi mungkin baginya senyumku sangat jelek.
            “Apa senyum-senyum”, katanya sinis padaku.          
            “Bu guru sudah menunggumu dari tadi, cuma beberapa pasang saja yang belum lengkap”, kataku menimpali.
            “Aku gak peduli, jangan senyum kamu kelihatan jelek, pakaianmu juga jelek”, aku hanya menunduk, ingin sekali aku memukulnya. Apa baginya aku sangat jelek bukannya dia sendiri juga jelek, pikiranku berantakan. Kalau saja ibu guru tak menghiburku mungkin aku sudah menangis waktu itu. Akhirnya acara Agustusan pun selesai, aku pulang masih dengan muka masam tak kuat dengan kata-kata yang diucapkannya, hanya membuat aku sakit saja.
            Aku sudah melupakan acara waktu itu karena kebiasaan berantem, kejar-kejaran, injek-injekan tas dan masih banyak lagi. Dan satu lagi yang masih aku ingat waktu aku ditunjuk untuk ikut olimpiade mewakili sekolah, sedangkan guru masih binggung menentukan satu lagi temanku yang cowok untuk mewakili sekolah, karena ada dua cowok yang bersaing cukup ketat. Akhirnya Didi dan aku terpilih untuk ikut olimpiade. Beberapa minggu kami diberi pelajaran tambahan terkait olimpiade yang akan kami ikuti. Aku semakin dekat dengannya.
            “Kalian belajar berdua dulu ya, ibu masih ada sedikit urusan nanti kita lanjutkan belajarnya”, kata bu guru.
            “Iya bu”, kami menjawab kompak, tapi tak sekompak apa yang aku pikirkan.
            “Ah males belajar, kamu aja yang ngerjain soal-soal ini, nanti aku pinjem jawabannya deh”, dia melemparkan soal-soal itu padaku. Aku semakin marah padanya, kenapa dia sama sekali tidak peduli padaku, aku jengkel.
            Waktu olimpiade pun tiba, aku sudah belajar cukup keras, entahlah dia belajar bagaimana, setauku kalau aku bersamanya belajar dia sama sekali tak semangat, apa itu gara-gara aku. Alhamdulillah aku masuk final sedangkan sayangnya dia tidak.
            “Jangan sombong ya, cuma masuk final aja”, kata dia bersungut-sungut meninggalkanku. Aku hanya geram dan ingin rasanya meneteskan air mata, bukannya memberiku selamat dan terus menyemangatiku karena aku yang akan mewakili sekolah malah marah-marah padaku, jelas aku sedih dibuatnya.
            Kamipun lulus SD bersama dan melanjutkan ke SMP yang sama. Aku sebenarnya berharap bisa sekelas lagi dengannya tapi kali ini doaku tak terkabul mungkin Allah punya rencana lain. Di SMP pun aku semakin melejitkan prestasiku. Aku diikutkan disetiap olimpiade matematika, teman sekelasku pun banyak yang menjulukiku professor. Aku semakin lupa dengan dia, mungkin dia juga semakin melupakanku.
            Saat SMP pun terasa sebentar, kami melanjutkan ke SMA yang berbeda. Aku masuk di SMA favorit di kotaku, sedangkan dia tidak. Aku semakin jarang melihatnya bahkan hampir tak pernah melihatnya. Aku semakin mengejar prestasi dan akademikku hingga aku mampu melanjutkan kuliah ke kota lain dan Universitas yang terkenal dengan beasiswa. Aku cukup bangga dengan semuanya, tapi aku tak lupa dengan teman-teman SD, SMP dan SMA ku. Komunikasipun mulai ku perlancar kembali.
            Karena merasa hubungan dengan teman SD yang sangat buruk karena jarang sekali bertemu, akhirnya aku adakan buka bersama waktu ramadhan sekaligus temu kangen karena sangat lama sekali tidak bercanda dan bersama.
            “Wah Cici kamu kok ada ide mempertemukan kita kaya gini?”, salah satu teman SD ku mulai membuka pembicaraan.
            “Loh bukannya kita jarang ketemu, jadi biar ukhuwah kita semakin baik hehehe”, jawabku sekadarnya.
            “Eh bentar aku mau duduk samping Cici”, ku toleh siapa yang bicara, ternyata Didi. Kenapa dia mau-maunya duduk dekatku bukannya aku musuh besarnya.
            “Cie didi-cici bersatu lagi”, olok-olok dari temanku mulai terdengar lagi setelah 8 tahun tidak mendengarnya. Sudah lama sekali ya ternyata.
            Kami bincang-bincang hingga waktu berbuka dan dilanjutkan setelah buka, teman-teman SD ku banyak yang sudah berubah. Yang dulu masih pendek sudah tinggi yang dulu ingusan sekarang tambah ganteng dan yang pasti banyak yang merokok. Ada yang masih kuliah dan ada juga yang sudah kerja, tapi kami saling mengisi dan berbagi. Tidak ada perbedaan diantara kami semua seperti kembali pada masa kecil, senang dan bahagia.
            “Ci nanti pulang bareng aku aja ya”, sahut Didi sambil makan disampingku, aku hanya melirik saja tanpa menjawab karena tadi aku kesini berboncengan dengan tetanggaku.
            “Eh eh Za, fotoin kita berdua donk, hanya berdua ya”, pinta Didi sambil menunjuk kami berdua dan menggeser kursinya untuk mendekatiku, namun sikapku biasa saja , acuh tepatnya.
            “Nanti kumpul dulu yuk ditempat Sari sebelum pulang kan kita lama gak ketemu”, ide temanku yang lain. Sari itu tetangga yang tadi bonceng aku. Dan semua menyetujuinya.
            “Ci, Sari udah pulang dulu dengan teman yang lain kamu sama aku ya, aku bonceng”, pinta Didi. “Masa sih mbak Sari udah pulang”, aku masih menoleh ke kanan kiri tapi tak menemukan satu pun temanku. Yah terpaksa aku pulang dengan Didi.
            “Eh Ci, kamu sekarang berubah ya”.
            “Berubah jadi apa? power ranger apa monsternya?”, komentarku pias karena aku tak biasa dibonceng cowok.
            “Berubah jadi putri”, aku terdiam sampai  rumah Sari.
            “Darimana saja kalian lama banget kencan dulu ya”, olok temanku lagi. Aku hanya diam sambil senyum.
            Dari kejadian itu dia sering ke rumahku dengan berbagai alasan, mulai ngopi foto waktu buber sampai pinjem buku dan sharing tentang agama. Yah aku memaklumi mungkin dia ingin menjalin ukhuwah dan mengakui kesalahan waktu SD kalau dia yang sebenarnya sangat nakal dan usil.
            SMS pun mulai terjalin tapi aku menanggapinya dengan biasa ya memang aku sekarang tidak punya perasaan apapun ke dia.
            Ci kamu sekarang tambah dewasa, tambah tinggi dan tambah manis
            Masa’ sih kamu juga tambah tinggi tapi tetep belum keliatan dewasa hehehe…
            Kamu pernah pacaran Ci?
Gak, knapa?
Aku boleh daftar gak?
Apa? Knapa?
Aku suka kamu Ci
Sejak kapan suka aku?
Sejak aku tau kamu lewat fb, mungkin setaun yang lalu
Kenapa gak dari SD kamu suka sama aku?
Waktu SD kamu jelek sih
Jadi sekarang udah cantik?
Tambah manis dan cantik
Kalau aku jadi jelek lagi gimana?
Gak bakal, kamu mau gak jadi pacarku? Kamu suka aku gak?
Aku gak pacaran, tolong hargai prinsipku lagian aku gak suka kamu
Sejak saat itu dia semakin penasaran dengaku dan prinsipku untuk tidak pacaran. Dia tanya ini itu untuk memperkuat pertanyaannya dan melemahkan prinsipku.
Jadi kamu gak pernah suka sama cowok? Kamu masih normalkan?
Ya pernahlah tiap orang pasti pernah suka dengan lawan jenis.
Dia semakin mengejarku dengan berbagai pertanyaan yang aneh-aneh hingga aku mulai muak dengan pertanyaannya. Hingga ku putuskan untuk memberitahunya.
Di tolong jangan pernah sms aku lagi, dulu memang aku pernah suka padamu waktu SD tapi kau selalu cuekin aku sekarang aku gak ada perasaan apapun ke kamu, tolong jgn mengejarku dengan pertanyaan konyolmu itu karena aku memaag tak mau pacaran dan ingin langsung nikah lagian aku sudah dikitbah orang lain. Jadi tolong jangan hubungi aku lagi kalau tidak ada yang penting. Maaf Di
            Sejak saat itu Didi tidak menghubungiku lagi kecuali kalau ada reuni SD atau yang berhubungan dengan teman SD. Beberapa waktu aku menemukan buku catatan SD yang masih tersisa, aku buka-buka lagi dan menemukan selembar tulisan seper jelek, tapi itu bukan tulisan tanganku. Sudah kumal dan kelihatan sangat jadul.
Untukmu makhluk jelek weeeekkkk
Aku suka kamu hehehe… tapi aku malu mau ngomong soalnya aku benci teman-teman yang ngolok-ngolok kita terus. Kamu mau gak jadi pacarku, kalau mau temui aku di dekat tempat sepeda ya pulang sekolah. Oh iya selamat kamu masuk final di olimpiade, aku sebenarnya iri sama kamu tapi tetap semangat ya…Aku tunggu lo kamu besuk sebelum kita dijemput mama
Thatha makhluk jelek yang manis weeeeekkkkk
Aku hanya tersenyum. Bagaimana anak SD sudah bisa menuliskan surat cinta sebagus ini. Maaf aku tak bisa menumui mu di tempat parkir dulu, sekarang atau nanti. Tapi semuanya sudah terlambat Di. Aku sudah mau bersama orang lain yang akan menjagaku lagian aku sudah terbiasa tanpamu dan tak menyukaimu lagi. Inilah aku dan aku tak akan menyesal dengan segala keputusanku. Semoga kau mendapatkan yang terbaik bagimu. Kita tetap teman dan musuh besar kok Di hehehehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar